Lima puluh empat

27 16 0
                                        

Sore itu, setelah pembicaraan panjang dan berat, mereka akhirnya merencanakan sesuatu bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk membuka semuanya dengan jujur.

Keesokan harinya.Dini mengajak Alana pergi tanpa banyak penjelasan.

“Al, temenin gue ke suatu tempat ya,” ucap Dini ringan, seolah tak ada beban apa pun.

Alana mengangguk, meski hatinya terasa tak enak sejak pagi.Motor melaju menembus jalanan yang lengang. Udara terasa dingin, langit mendung tipis. Alana baru sadar ke mana mereka menuju saat gerbang pemakaman terlihat di depan.

“Kuburan?” Alana menoleh.

“Kita mau ngapain kesini, Din?”

Dini mematikan mesin motor.

“Jalan aja dulu,” jawabnya pelan.

Mereka melangkah masuk hanya berdua.

Sunyi menyambut. Hanya suara daun kering terinjak dan angin yang berdesir pelan. Dini berhenti di depan satu makam yang masih tampak baru tanahnya belum sepenuhnya mengeras, bunganya masih segar.

Alana membaca nama di nisan itu.

“Raina”.Dadanya langsung terasa sesak.

“Kenapa gue dibawa ke sini?” suara Alana bergetar.

Dini menatap sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca

.

“Karena lo berhak tau. Bukan dari cerita orang lain. Bukan dari potongan-potongan yang nyakitin.”

Alana menunduk menatap makam itu lama. Tangannya mengepal, lalu perlahan gemetar.

Di sana Dini menceritakan semua nya,Dan verdi. 

“Verdi nggak pernah cinta sama Raina,” ucap Dini pelan tapi tegas.

“Dia cuma nganggep Raina adik. Tapi masa lalu mereka rumit. Dan diamnya Verdi bikin semuanya salah arah.”

Alana terduduk perlahan di depan makam itu. Nafasnya terasa berat, lalu ia menghela nafas panjang.

“Terus gue apa?” tanyanya lirih.

“Cuma persinggahan yang harus ngerti semuanya sendirian?”

Dini ikut berjongkok di sampingnya.

“Lo bukan pengganti. Lo bukan pelarian,” jawab Dini.

“Dan lo juga bukan orang yang harus nerima luka tanpa penjelasan.”

Air mata Alana jatuh satu per satu.

Untuk pertama kalinya, bukan karena cemburu,melainkan karena kejujuran yang terlambat.

Angin berhembus pelan, menggoyangkan bunga di atas pusara Raina.

Dan di hadapan makam itu, Alana akhirnya mulai memahami semuanya.

Dini terdiam sejenak di samping Alana.

Ia menatap pusara Raina, lalu kembali menatap sahabatnya wajah yang selama ini berusaha kuat, padahal hatinya penuh retak.

“Al” ucap Dini pelan.

“Sekarang gue ceritain semuanya. Dari awal. Dan kali ini, enggak ada yang gue tutupin.”

Alana mengangguk kecil. Tangannya masih mencengkram ujung bajunya.

“Verdi dulu gabung klub motor,” mulai Dini.

“Bukan yang iseng. Dunia yang mungkin lo tau sendiri.”

Alana menelan ludah.

“Raina itu adik dari salah satu anggota. Masih muda. Polos. Dan terlalu mudah jatuh cinta.”

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang