Tiga puluh

17 6 1
                                        

Alana terbangun tiba-tiba.

Dadanya naik turun cepat. Kamar gelap, hanya diterangi cahaya tipis dari lampu jalan yang masuk lewat jendela.

Dalam mimpinya barusan,semuanya terasa terlalu nyata.

Ia melihat Verdi.

Tapi bukan Verdi yang biasa ia lihat bukan yang suka bercanda, bukan yang suka nyebelin, bukan yang suka bikin dia kesel tapi kangen.

Verdi dalam mimpinya terlihat pucat.

Matanya sayu. Rambutnya berantakan.

Dia duduk di lantai, punggungnya bersandar ke tembok seolah kehilangan tenaga.

Di mimpi itu Verdi menatap Alana, wajahnya penuh lelah.

Suara itu lirih, seperti mau hilang kapan saja.Dan saat Alana di mimpi itu mencoba mendekat, dunia di sekeliling mereka tiba-tiba gelap. Verdi menghilang begitu saja.

Alana langsung bangun dari tidur dengan keringat dingin.

Ia mengusap wajahnya, menghela nafas panjang.

"Astaga,mimpi apaan barusan.?"

Ponselnya ia ambil.

Masih tidak ada pesan dari Verdi.

Nomornya tetap tidak aktif.

Hatinya makin gelisah.

"Ya Allah...jangan bilang dia beneran kenapa-kenapa."

Meski keras kepala, meski sok cuek, Alana tahu dirinya tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar takut kehilangan Verdi.

Alana mencoba memejamkan mata lagi.
Ia berbalik ke kiri, lalu ke kanan. Menarik selimut, membuka selimut. Mengatur bantal, menutup mata rapat-rapat tapi tetap saja tidak bisa.

Kepalanya penuh bayangan Verdi di mimpi tadi.
Rasanya seperti ada yang menekan dadanya.

"Kenapa sih gue jadi mikirin dia."

Ia menatap langit-langit kamar. Jam di ponselnya sudah menunjukkan 03.27.
hanya hening Bahkan suara kipas terdengar lebih keras dari biasanya.

Beberapa kali ia mencoba mengatur napas.
Berharap kantuk datang.
Berharap mimpi tadi cuma efek kecapean,tapi matanya tetap terbuka.

Sekali lagi ia meraih ponsel, meski ia tahu jawabannya sama,nomor Verdi masih tidak aktif.Rasa cemasnya makin besar,Ia akhirnya duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kamarnya yang gelap.

"Aduh Verdi, lo kemana sih, jangan bikin gue mikir yang enggak-enggak."

Alana memeluk kedua lututnya erat.
Ia mencoba berdoa pelan, meminta hati yang tenang.
Tapi setiap ia menutup mata, wajah pucat Verdi dalam mimpi itu muncul lagi.

Akhirnya, ia hanya bisa menunggu waktu berjalan.
Menunggu pagi datang.
Menunggu kabar dari seseorang yang tiba-tiba sangat berarti untuknya.

Dan malam itu jadi malam terpanjang bagi Alana.

Pagi itu, cahaya matahari baru menembus tirai ketika Dini terbangun dan melihat Alana masih meringkuk di tempat tidur. Tidak seperti biasanya Alana selalu bangun lebih dulu.

Dini mendekat, menyentuh kening sahabatnya,ternyata panas
Bukan panas biasa, tapi benar-benar membara.

"Lana ya Allah, panas banget."
Dini langsung panik, menggoyang pelan bahu Alana.

Alana membuka mata perlahan, suara seraknya nyaris tak terdengar.
"Gue gak apa-apa, paling kecapean"

Dini mendengus kesal.
"Kecapean apaan? Ini panas gini."

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang