Empat puluh enam

19 13 0
                                        

Besok pagi, Dini kembali menemui Verdi tanpa sepengetahuan Alana.

Ia datang lebih awal ,di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. 

Udara pagi masih dingin, dan aroma kopi baru diseduh memenuhi ruangan. Verdi sudah duduk di sudut, mengenakan hoodie gelap, wajahnya tampak lebih kurus dari terakhir Dini melihatnya.

“Lo dateng,” ujar Verdi pelan saat melihat Dini.Verdi diam. Tangannya memutar cangkir pelan.

“Gimana dia?” 

“Masih berdiri. Masih kerja. Masih senyum di depan orang,” jawab Dini datar. “Tapi itu bukan berarti dia baik-baik aja,lo kenapa ga ceritain semua nya aja.”

Verdi menghela napas panjang.

“Gue tau.”

“Kalau lo tau, kenapa lo masih ngumpet?” 

suara Dini mulai mengeras. “Lo pikir hilang gitu aja bikin semuanya beres?”

Verdi mengangkat wajahnya. Matanya merah tipis, entah karena kurang tidur atau hal lain.

“Gue lagi beresin masalah yang nggak bisa nyeret dia masuk ke dalamnya.”

“Masalah apa?” tanya Dini tajam.

Verdi terdiam lama. Terlalu lama.

“Ver,” Dini mencondongkan badan. “Gue nggak minta lo cerita semuanya ke gue. Tapi satu hal Alana butuh ketemu lo. Bukan buat balikan, bukan buat drama. Buat jawaban.”

Verdi menelan ludah.

“Kalau gue ketemu dia sekarang…”

“Lo takut dia makin sakit?” potong Dini. 

“Dia udah sakit, Ver. Dan itu karena ketidakjelasan.”

Hening menyelimuti meja mereka.

Akhirnya Verdi berkata pelan,

“Kasih gue waktu satu hari.”

Dini menatapnya tajam.

“Satu hari doang. Habis itu, lo harus hadapin Alana. Dengan atau tanpa alasan.”

Verdi mengangguk pelan.

“Gue janji.”

Dini berdiri.

“Ini bukan buat gue. Ini buat Alana.”

Verdi berdiri dan memberi isyarat pada Dini untuk mengikutinya.

“Gue mau nunjukin sesuatu,” kata Verdi pelan. “Kalau lo mau ngerti kenapa gue ngilang.”

Dini ragu sejenak, lalu mengangguk. 

Mereka keluar dari kafe dan naik motor Verdi. Sepanjang perjalanan, Dini memilih diam. Jalanan pagi masih lengang, tapi jantungnya terasa makin berat setiap menit berlalu.

Motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit.

Dini menatap papan nama di depan gedung itu, alisnya berkerut.

“Rumah sakit?” tanyanya pelan. “Ver… lo sakit?”

Verdi mematikan mesin motor.

“Bukan sekarang,” jawabnya. 

Mereka berjalan masuk. Bau antiseptik langsung menyergap. Verdi melangkah mantap, seolah tempat ini sudah sangat ia kenal. Dini mengikuti dari belakang, perasaannya campur aduk.

Setelah itu sampai lah mereka di sebuah ruangan,Verdi menarik kursi dan duduk di sisi ranjang Raina. Suasana kamar terasa sunyi, hanya bunyi alat medis yang berdetak pelan. Dini berdiri di dekat jendela, menyilangkan tangan, bersiap mendengar semuanya.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang