Empat puluh delapan

20 13 0
                                        

Verdi tertawa kecil tawa yang terdengar lebih seperti nafas yang patah.

Dengan bibir berdarah dan tubuh yang masih gemetar, ia menatap lantai dingin rumah sakit, lalu berkata lirih, nyaris berbisik tapi penuh kejujuran.

“Dini… gue cinta Alana.”

Dini terdiam. Tangisnya tertahan di tenggorokan.

“Bukan cinta yang ribut, bukan yang maksa dia nunggu,” lanjut Verdi, menghela napas panjang.

“Tapi cinta yang bikin gue milih pergi asal dia aman.”

Ia mengangkat wajahnya, matanya memerah bukan cuma karena sakit.

“Gue nggak mau hidup Alana hancur cuma karena masa lalu gue,” katanya.

“Gue nggak mau dia kenapa-napa. Gue nggak mau dia ketakutan, diseret ke urusan yang bahkan bukan salah dia.”

Dini menutup mulutnya dengan tangan, air matanya jatuh deras.

“Makanya gue ngilang,” ujar Verdi pelan.

“Makanya gue rela dibilang jahat, pengecut, atau apapun asal Alana baik-baik saja.”

Ia menelan ludah, suaranya bergetar saat satu kalimat terakhir keluar

“Kalau harus gue yang babak belur, gue nggak masalah.”

Dini akhirnya menangis tersedu.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti Verdi bukan pergi karena tidak cinta.Ia pergi karena terlalu cinta.

Verdi menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, seolah semua cerita itu sudah terlalu lama dipendam sendirian.

“Ada satu hal lagi yang belum pernah gue ceritain ke siapa pun ” katanya pelan.

Dini mengangkat wajah, menatap Verdi tanpa menyela.

“Dulu… sebelum gue kenal Alana, gue masuk club motor,” lanjut Verdi.

“Bukan cuma nongkrong. Balapan liar,dan lain nya , hidup yang nggak jelas arahnya.”

Ia tertawa hambar.

“Di sana gue kenal Raina. Dia adik dari salah satu temen gue.”

Dini terdiam, mulai memahami arah cerita itu.

“Raina baik. Terlalu baik buat dunia gue waktu itu,dan gw ngga pernah mencintai mya, ge anggap dia sebagai adik ,” kata Verdi lirih.

“Dia suka sama gue. Bukan sekadar suka tapi terobsesi.”

Verdi menggeleng pelan.

“Gue nggak pernah ngasih harapan. Gue nggak pernah pacarin dia. Gue cuma menghargai, karena dia adiknya temen gw. Itu aja.”

Ia menunduk, jemarinya mengepal.

“Tapi perasaan nggak bisa diatur, Din. Dia jatuh cinta dalam-dalam.”

Suasana terasa makin berat.

“Gue sadar hidup gue bahaya. Dan gue nggak mau nyeret siapa pun. Jadi gue keluar dari club motor itu. Gue pergi tanpa pamit, tanpa jejak.”

Verdi menghela napas panjang, suaranya mulai bergetar.

“Gue nggak tau setelah gue pergi, Raina nyari gue.”

Dini menutup mulutnya, matanya membesar.

“Dia nyusul sendirian. Malam-malam. Naik motor.”

Verdi menelan ludah dengan susah payah.

“Dia kecelakaan.”

Hening. Hanya suara alat medis dari kejauhan.

“Raina koma,” lanjut Verdi.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang