Alana menjalani hidup seperti biasa.
Pagi datang, siang berlalu, dan sore menutup hari dengan cara yang sederhana. Tidak ada yang istimewa, tapi juga tidak ada yang menyakitkan. Ia bekerja, tertawa seperlunya, dan pulang dengan hati yang lebih rapi dari sebelumnya.
Sesekali, nama itu muncul.Verdi.
Datang tanpa aba-aba, biasanya di sela aktivitas yang tak penting saat ia menunggu air mendidih, saat langkahnya melambat, atau ketika senja jatuh terlalu pelan. Tapi Alana tidak lagi mengejarnya. Ia membiarkan nama itu lewat, lalu hilang dengan sendirinya.
Karena ia tahu, mengingat bukan berarti kembali.Ia sudah lelah mengumpulkan kepingan yang bukan miliknya. Lelah menunggu kejelasan dari seseorang yang memilih pergi. Dan sekarang, ia belajar satu hal yang paling penting bahagia tidak harus menunggu siapapun.
Alana tersenyum kecil.Bukan senyum pura-pura.Bukan senyum yang dipaksakan.Ia bahagia dengan caranya sendiri.Bahagia karena hatinya tidak lagi penuh tanya. Bahagia karena ia berhenti menyalahkan diri sendiri atas kepergian yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Bahagia karena ia memilih hadir sepenuhnya untuk hidup yang ada di depannya.Jika sesekali rindu itu menyentuh, Alana mengingatkan dirinya pelan-pelan.Verdi bukan lagi bagian dari jalannya.Dan jika Verdi sedang bahagia di tempat lain, Alana tak lagi ingin menjadi gangguan dalam cerita siapa pun.
Ia melangkah lebih ringan.
Melupakan bukan berarti membenci
melainkan berhenti berharap.Dan hari itu, Alana tahu,ia tidak sedang lari dari masa lalu,ia hanya sedang memilih untuk tinggal
di kebahagiaan yang ia bangun sendiri.
Alana yang Berubah,dia melepaskan semua beban di kepala nya.
Arkana menyadari perubahan itu tanpa diberi tahu siapa pun.Alana kini lebih sering tersenyum bukan senyum sopan, tapi senyum yang ringan. Ia berbicara dengan mata yang hadir, bukan lagi tatapan yang sering hilang entah ke mana. Seolah ada beban yang sudah ia letakkan, meski Arkana tak tahu kapan dan di mana.
Ia berdiri di depan Alana, memesan seperti biasa. Namun hari itu berbeda.
“Kamu kelihatan lebih tenang,” kata Arkana akhirnya.
Alana menoleh, terkejut kecil. Lalu tersenyum. “Iya ya?”
Arkana mengangguk. “Iya. Kayak kamu sudah berdamai.”
Alana tertawa pelan. Tawa yang tak dipaksakan. “Mungkin aku cuma capek ribut sama diri sendiri.”
Jawaban itu sederhana, tapi Arkana menangkap kedalaman di baliknya. Ia tahu, ketenangan tidak datang tiba-tiba. Ada luka yang sudah disembuhkan diam-diam.
“Bagus,” ucap Arkana. “Tenang itu mahal.”
Alana mengangguk setuju.
Sejak hari itu, Arkana tak lagi melihat Alana sebagai seseorang yang harus dilindungi dari masa lalu. Ia melihatnya sebagai perempuan yang sedang membangun hidup pelan, tapi pasti.
Arkana mulai lebih sering datang. Bukan karena seblaknya saja, melainkan karena percakapan-percakapan kecil yang membuat hari terasa lebih ringan. Mereka bicara tentang hal sepele, tentang rencana, tentang hidup tanpa membuka luka lama.
Dan Arkana menghormati batas itu.
Ia tak bertanya tentang siapa yang pernah membuat Alana kehilangan. Ia hanya memastikan hadirnya hari ini tidak menambah beban.Dalam diam, Arkana berpikir mungkin inilah versi Alana yang sebenarnya bukan yang rapuh,
melainkan yang memilih bangkit tanpa suara.Dan untuk pertama kalinya, Arkana ingin berada di samping Alana bukan sebagai pelindung, tapi sebagai seseorang yang berjalan sejajar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
