Empat puluh tiga

12 7 0
                                        

Malam yang Terlalu Panjang,malam itu terasa lebih berat dari biasanya.

Verdi duduk di tepi ranjang, lampu dimatikan, hanya cahaya dari jendela yang masuk samar.

 Kota di luar tampak hidup, tapi di dalam dirinya ada sunyi yang pekat sunyi yang menekan, bukan menenangkan.

Nama Alana kembali datang, tanpa diundang.Ia membayangkan wajah itu, caranya diam ketika lelah, caranya menyimpan luka tanpa mengeluh. Dan bersamaan dengan itu, rasa bersalah menyusul karena ia pergi, karena ia membiarkan Alana bertanya-tanya sendirian.

Verdi meremas tangannya sendiri.

Kalau aku lebih berani, pikirnya,

mungkin aku tak perlu meninggalkan siapapun.Namun keberanian itu selalu datang terlambat, atau datang dengan syarat yang tak sanggup ia penuhi.

Di sisi lain ruangan, Raina terlelap. Nafasnya teratur, rapuh namun tenang. Pemandangan itu mengikat Verdi pada keputusan yang tak pernah benar-benar ia pilih, tapi harus ia jalani.

Ia berdiri, berjalan pelan ke jendela. Menatap langit yang gelap tanpa bintang.

Ancaman itu kembali terngiang dingin, jelas, dan cukup untuk membuatnya gemetar. Jika ia mendekati Alana, risiko itu akan nyata. Dan Verdi tahu, ia tak sanggup melihat Alana terluka karena kesalahannya.

Malam itu, Verdi berdoa bukan meminta bahagia.Ia hanya meminta satu hal

agar Alana aman, meski tanpa dirinya.

Air mata tak jatuh.Tapi dadanya terasa retak, seolah sesuatu di dalamnya runtuh tanpa suara.

Dan ketika malam akhirnya berlalu, Verdi tahu,ia akan bangun esok hari dengan senyum yang sama, peran yang sama

sementara sebagian dari dirinya tertinggal

di malam yang terlalu panjang itu.

Verdi membayangkan mereka duduk bersebelahan. Mungkin di bangku sederhana, mungkin hanya di sudut yang tak istimewa. Alana tak banyak bicara, tapi kehadirannya selalu cukup. Tak ada tuntutan. Tak ada pertanyaan yang memaksa.

Bersama Alana, hidupnya terasa tenang.

Berbicara dengan Alana atau bahkan tak berbicara sama sekali selalu membuat beban di kepalanya berkurang. Seolah sebagian masalahnya tahu kapan harus diam saat Alana ada di dekatnya.

Kalau aku duduk disampingmu sekarang, pikir Verdi,mungkin nafasku akan lebih teratur.

Ia merindukan caranya mendengarkan tanpa menghakimi. Cara Alana menerima tanpa mencoba memperbaiki. Bersamanya, Verdi tak perlu menjadi kuat cukup jujur.

Namun bayangan itu berhenti di kepala.

Karena dunia nyata mengingatkannya pada batas yang tak boleh dilanggar. Pada ancaman yang mengintai. Pada kewajiban yang mengikat kakinya agar tak melangkah ke arah ketenangan itu.

Verdi menutup mata.Tenang yang ia rindukan ada di hadapannya namun tak bisa ia datangi.

Dan malam kembali menyelimutinya dengan pilihan yang sama

mendekat dan membawa risiko,

atau menjauh dan menanggung rindu.

Verdi memilih diam.Karena ia tahu, ketenangan yang ia rasakan bersama Alana adalah hal yang paling ingin ia lindungi,meski itu berarti ia harus terus menanggung beban sendirian.

***

Suatu hari saat Raina menemukan foto Alana di dompetnya dan mulai bertanya tenang di luar, tapi mengoyak di dalam.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang