[S2, Chp.83] A Name

545 76 23
                                        

Author POV

Manusia-manusia yang berhasil ditangkap oleh para semut prajurit dibawa pada satu tempat yang sama. Mayat-mayat itu dijatuhkan pada sebuah lubang yang besar dan dalam. Menunggu giliran kapan akan diberikan kepada sang Ratu Semut.

Pemimpin pasukan yang memiliki sayap menatap hasil tangkapan pasukannya. Sesuai dengan harapannya, seperti biasanya. Baru saja melamun sebentar, otaknya kembali memutar sebuah memori yang cukup membekas dalam pikirannya. Saat seorang wanita dewasa melindungi anak kecil dan menatap tajam kepadanya.

Namun lamunannya tak bertahan lama. Suara dari pemimpin pasukan lainnya membuatnya tersadar. "Hasil tangkapanmu cukup bagus. Namun, tak sampai setengah dari yang didapatkan oleh skuadronku," kata pemimpin pasukan yang berperawakan buaya.

Pemimpin pasukan bersayap itu hanya melirik sekilas pada semut yang ada di sampingnya lalu kembali pada hasil tangkapannya. "Fokusku adalah kualitas. Aku tak bersaing denganmu," katanya.

Tak mengindahkan ucapan sesama pemimpin pasukannya itu, yang berperawakan buaya mendecak sebal lalu mengubah topik pembicaraan. "Omong-omong, apa kau sudah dengar? Orang kura-kura itu ada masalah dengan manusia," katanya.

Informasi itu menarik perhatian sang pemimpin pasukan bersayap. "Perlawanan?" tanyanya.

Semut yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua kini sedang bersama semut yang berperawakan penguin. Semut itu suka membaca buku, bisa dibilang yang terpintar diantara para pemimpin pasukan lainnya.

Tampaknya semut bertempurung kura-kura itu sedang mengeluhkan hal yang baru saja ia temui. Setelah mendengarkan cerita semut bertempurung itu, semut penguin mengambil beberapa buku bacaannya. "Itu mungkin senjata," kata semut penguin.

"Senjata? Apa itu?" tanya semut bertempurung tak mengerti.

"Singkatnya, benda itu adalah laras yang meluncurkan sebuah logam panas disebut peluru, menggunakan kekuatan ledakan dari mesiu. Ini salah satu senjata yang paling banyak digunakan manusia," jelas semut penguin.

Kening semut bertempurung itu berkerut. Sulit memahami penjelasan ilmiah itu. "Aku tak tahu apa yang kau bicarakan," katanya.

Semut penguin itu menutup buku bacaannya, menoleh pada semut bertempurung. "Kalau ingin tahu detailnya, bacalah buku. Buku itu luar biasa. Kau bisa tahu bagaimana manusia berpikir, berperilaku dan berfungsi sebagai masyarakat," katanya.

"Kalau begitu, bisakah kau menjawab pertanyaanku? Apakah manusia juga memiliki tentara?" tanya semut bertempurung.

Gantian, kali ini semut penguin yang tak mengerti. "Tentara?"

"Ya, tentara. Mereka anggota badan militer dipimpin oleh seorang tokoh berwibawa, seperti kita!" jawab semut bertempurung itu. Ia lalu teringat dengan pertanyaan lainnya yang masih belum terjawab. "Oh ya, aku juga punya pertanyaan lain. Mereka bilang sesuatu tentang nama," katanya.

"Nama, ya?" Semut penguin itu membuka lagi buku bacaannya. "Maklum saja kalau kau tak mengerti. Karena itu ide manusia yang tidak kita gunakan."

Dua pemimpin pasukan yang tadi saling berbincang, diam-diam menguping pembicaraan dua semut itu. "Sepertinya ada manusia yang berkemampuan lebih dari hanya berlari dan menangis," kata yang berkepala buaya.

"Harusnya kau tidak terkejut. Mempertimbangkan betapa lainnya kau dan aku, tentu alami kalau manusia juga memiliki ciri-ciri unik. Bagaimana pun, darah mereka mengalir dalam tubuh kita," kata yang memiliki sayap. Ia lalu berjalan menjauh dari tempat itu.

Sebelum dapat pergi lebih jauh, sebuah suara denging yang kencang memenuhi telinga mereka. Suara sang Ratu Semut terdengar setelahnya, memberikan perintah. "Seluruh pemimpin skuadron, berkumpul segera!" Perintah itu diulang beberapa kali oleh sang Ratu.

My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang