[S2, Chp.87] Fighting Chimera Ant (2)

519 66 28
                                        

Author POV

Pandangan Gon Killua berubah tajam, meningkatkan kewaspadaan mereka. Kite melirik sekilas pada [Y/N] sebelum melangkah masuk ke dalam lorong gelap tersebut. Berjalan sebentar di dalam lorong dan mereka sudah tiba di ruangan lainnya.

Tempat itu lebih luas dibanding ruangan sebelumnya. Tidak ada alat atau mesin di sana. Juga tidak ada benda-benda berbentuk kotak yang bertumpukan. Ruangan itu lenggang dan kosong, seakan hanya digunakan sebagai area untuk melintas atau sekedar berkumpul. Beberapa bercak darah masih terlihat di dalamnya.

Jauh di depan, ada tiga lorong yang berdiri kokoh. Lorong yang masing-masing akan membawa ke tempat berbeda lagi di dalam pabrik tersebut.

"Mereka perlahan mendekat melalui lorong tengah. Ada juga di lorong kanan dan kiri," kata Kite.

Killua tertegun. Sadar kalau Kite menggunakan En. Begitu juga dengan [Y/N]. "Seberapa jauh kau bisa mendeteksi?" tanya Killua pada pria tinggi berambut panjang itu.

"Semuanya dalam radius 45 meter," jawab Kite.

Mata Gon membelalak saat mendengarnya. "45 meter?" ulangnya sedikit terbata.

"Tergantung pada kondisi fisik dan mental, aku bisa meningkatkannya hingga beberapa meter," tambah Kite.

Gon lalu mengalihkan perhatiannya pada [Y/N]. "Kalau [Y/N]?" Gadis bersurai coklat itu menunjuk pada dirinya, kemudian berpikir. "Sekitar 60 meter, kurasa. Tapi masih bisa meningkat hingga hampir 100 meter," gumamnya.

Gon dan Killua tertegun mendengarnya. [Y/N] ternyata sehebat itu. "Tapi kau hampir jarang menggunakannya," kata Killua.

[Y/N] tersenyum tipis, lalu berkata, "Soalnya aku tidak akan menggunakan En kalau tidak dibutuhkan."

"Mereka datang," ucap Kite memotong percakapan tiga anak itu sekaligus mengingatkan situasi yang sedang mereka hadapi saat ini.

Suara rintihan seseorang menyapa indra pendengaran. Kening [Y/N] berkerut mendengarnya. Suara apa itu?

Ketika tiga ekor semut chimera akhirnya muncul, [Y/N] mengertakkan giginya kesal. Seekor semut bertubuh besar dengan perawakan seperti centaur muncul dengan dua buah rantai di tangan kirinya.

Rantai itu terikat pada leher dua manusia, laki-laki. Mereka tampak mengenaskan. Satu manusia tak memiliki rambut, dan yang satunya berambut putih. Keduanya tak berpakaian, alias telanjang. Dipaksa berjalan dengan kondisi seperti anjing, lutut dan siku digunakan sebagai 'kaki' untuk berjalan.

Air mata mengalir deras dari ujung mata mereka, hidung mereka tampak berair. Suara rintihan tadi berasal dari mereka berdua. Entah itu rintihan menahan sakit, menahan malu, atau menahan siksaan sampai rasanya ingin mati.

"Pelankan suara kalian berdua," titah semut centaur itu menarik rantai di tangannya. Dua manusia itu terbatuk perlahan setelah rantai yang mengikat itu ditarik kasar membuat mereka kesulitan bernapas.

Mata Yunju teralihkan ada empat manusia yang berdiri di arah berlawanan. "Siapa kalian? Beraninya kalian mengganggu wilayahku," ucapnya kesal.

Manusia yang berambut putih, yang dijadikan sebagai 'anjing' oleh Yunju berteriak, memohon ampun, ingin diselamatkan pada empat manusia di hadapan-Gon, Killua, [Y/N], dan Kite. "Tolong. Kumohon tolong kami!" ujarnya yang diangguki oleh manusia botak.

Suara mereka terdengar pasrah, sangat ingin bebas dari siksaan makhluk mengerikan tersebut.

"Berhenti bicara, Spot! Kau hanya seekor anjing!" ujar Yunju marah. Satu kakinya terangkat ke udara, menginjak dan menghancurkan kepala manusia berambut putih. Tentu saja dia langsung meninggal di tempat.

My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang