[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT]
Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
Meja, kursi, hadiah, Gon, Killua, [Y/N], Leorio, kerumunan orang. Sore harinya, Leorio yang berperan sebagai pembawa acara, menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang dengan suaranya yang lantang dan kalimatnya yang manis. Gon duduk di kursi dengan satu buah kursi lainnya yang kosong di depannya dan juga meja.
Killua dan [Y/N] berdiri tak jauh dari Gon, memegang hadiah yang mereka dapatkan sebelumnya.
"Selamat datang. Bergabunglah dengan lelang bersyarat. Ini benda lelangnya. Cincin berlian senilai tiga juta jenny. Dan kalung berlian senilai empat juta jenny. Dilengkapi dengan sertifikat toko tempatku membelinya."
"Adu panco tentukan pemenangnya. Yang mengalahkan anak ini bisa mendapatkan berliannya. Biaya pendaftaran 10.000 jenny."
Berkat Leorio, kerumunan orang yang tertarik dengan lelang mereka mulai muncul. Mereka nampak sangat menginginkan berlian mahal tersebut. Hanya perlu mengeluarkan uang 10.000 jenny dan mengalahkan Gon dalam adu panco, mereka bisa mendapatkan berlian mahal dengan mudah.
Siapa yang tidak tergiur dengan penawaran ini? Tentu saja tidak ada. Semua orang pasti menginginkannya.
"Mari mulai lelang ini!" Leorio memulai lelang mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ya, pasti jadi milikku!"
"Aku ikut."
"Aku ikut!"
"Baik, jangan dorong-dorong. Tolong mengantre," ucap Leorio mengatur keramaian orang tersebut.
Gon teringat dengan perkataan Leorio sebelumnya. "Sesuaikan kekuatanmu dengan lawan. Terus berpura-puralah kesulitan." Meski tak yakin dan merasa tidak enak karena harus berbohong, mau tidak mau Gon tetap melakukannya.
Jika bukan dengan cara ini, lalu bagaimana dia akan mendapatkan uang? Tidak mungkin ngepet, 'kan?
Seorang pria dengan tubuh kekar nan besar menjadi orang pertama yang akan beradu panco dengan Gon. Pria itu tersenyum lebar, yakin bahwa dirinya akan menang melawan Gon. Dengan panduan dari Leorio, mereka saling memegang tangan.
Gon melirik sebentar pada Leorio, sementara Leorio membalasnya dengan tatapan yang mengatakan, "Ikuti saja arahanku." Anak itu pun memfokuskan pandangannya kepada lawan panconya.
Setiap orang hanya memiliki satu kesempatan. Bila kalah, maka dia tidak akan bisa berpartisipasi lagi.
"Ready? Go!"
Sesuai arahan dari Leorio, baik Gon maupun lawannya memulai panco mereka. Menggenggam tangan lawan masing-masing dengan kuat dan berusaha mendorong ke arah sebaliknya.
Awalnya pria itu percaya diri sebab melihat ekspresi Gon yang kesusahan. Namun adu panco itu tak dapat ia menangkan. Gon bersandiwara lemah di awal, seakan mengumpulkan kekuatannya lalu berbalik menyerang dan mengalahkan.