[Chp.77] A Party Before We Apart (1)

782 101 30
                                        

Author POV

Kelopak mata itu bergerak sekilas. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kemudian berkedip pelan dan terangkat. Bola mata berwarna hazel itu bersinar terang di bawah cahaya matahari. Beberapa kedipan dilakukan, demi menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Bibirnya mengeluh pelan. Rasanya seperti baru saja bangun dari tidur yang panjang.

"[Y/N]...?"

Kepala itu bergerak pelan, menoleh ke arah datangnya suara. Manik matanya menangkap gumpalan rambut berwarna putih lembut dengan sepasang bola mata biru indah yang juga sedang menatapnya. Ia terdiam, tenggelam ke dalam indahnya bola mata tersebut.

Lalu ia mengeluh lagi, merasakan pusing yang melintas di kepalanya. Satu tangannya memegang puncak kepalanya, menahan pusing yang tiba-tiba saja mendera.

"Tidak apa. Pelan-pelan saja," tuntun suara itu.

Dari punggungnya, ia bisa merasakan sang pemilik suara membantunya untuk duduk. Tangannya yang bebas jatuh ke samping, menapak rerumputan hijau. Tangannya yang berada di puncak kepala di tarik lembut. Secara perlahan kepalanya di dekap dalam pelukan hangat. Pelukan yang mampu menenangkan pikirannya. Pelukan yang terasa hangat dan familiar.

Perlahan kepalanya terangkat, menatap sepasang bola mata biru indah itu lagi. "Killua...?"

Yang dipanggil hanya bergumam lembut, balas menatap gadis yang ada dalam dekapannya. "Kepalamu sudah tidak pusing?" Sang gadis menggeleng pelan. Dekapannya pun terlepas.

Kini gadis bersurai coklat itu dapat melihat dengan jelas, ia sedang berada di sebuah padang rumput hijau yang luas. Angin sepoi-sepoi meniupkan anak rambutnya ke belakang. Kepala gadis itu kembali berbalik pada pemuda yang mendekapnya tadi.

"Killua, apa yang terjadi? Bukannya tadi aku masih melawan Alvaro?" tanya sang gadis. Rasanya ada yang aneh. Bukankah tadi ia kalah saat melawan Alvaro? Bukankah tadi ia lengah dan jiwanya berhasil di ambil Alvaro?

Manik mata gadis itu bergerak tak karuan. Raut tak mengerti tercetak jelas di wajahnya. Berbeda dengan pemuda yang mendekapnya tadi. Bola mata biru itu memberikan tatapan tenang. Seakan tak ada yang terjadi. Seakan semuanya baik-baik saja. Seakan semua hanyalah mimpi buruk milik sang gadis.

Sudut bibir Killua terangkat, tersenyum lembut pada gadisnya. Dua tangannya kembali membawa tubuh gadis yang berbeda dunia dengannya itu ke dalam dekapannya. Dagunya bertengger di puncak kepala sang gadis. Matanya perlahan-lahan tertutup, merasakan tubuh gadis bersurai coklat itu yang dekat dengan tubuhnya.

"Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Sekarang semuanya akan baik-baik saja," kata Killua, berbisik lembut. Satu tangannya mengusap punggung sang gadis lembut. Sang gadis hanya diam. Terdiam dalam pelukan hangat pemuda itu.

Bibir [Y/N] membelah pelan, berbicara. "Hontou?" Killua bergumam singkat, menjawab ya melalui gumamannya.

Gadis bersurai coklat itu memejamkan matanya. Membiarkan dirinya dan Killua berpelukan untuk waktu yang cukup lama. Membiarkan tangan Killua terus mengusap punggungnya lembut.

[Y/N]-nya berasal dari dunia lain? Itu terdengar konyol di telinga Killua. Sangat konyol. Mana mungkin hal seperti itu ada di dunia ini.

━─━────༺༻────━─━
[HUNTER×HUNTER Fanfiction]

☕︎🄼🅈 🄳🅄🅃🅈☕︎
━─━────༺༻────━─━

"Jika kau tak percaya pada ucapanku, aku bisa memperlihatkannya padamu, Zoldyck." Ucapan Alvaro menghentikan pertarungan di antara mereka berdua.

My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang