[S2, Chp.89] Neferpitou, The Royal Guard

450 64 27
                                        

Author POV

Hagya menunjukkan raut wajah tidak senang. Semua anak buahnya kalah dengan mudah. "Mereka memakai sihir jenis apa?"

"Sugoi! Mereka semua terbelah dua dengan rapi," ujar Hina terpukau.

"Ini mengesankan," timpal Flutter.

Semut dengan kemampuan mirip capung itu berjongkok di depan salah satu mayat semut chimera. Mayat yang memiliki rupa seperti trenggiling. "Yang ini seolah-olah habis ditabrak oleh batu atau benda keras lainnya," katanya.

"Padahal Baro mempunyai tempurung besi. Ini kekuatan manusia yang jarang ada," timpal Hagya.

Hina menyilangkan tangan di belakang kepala, lantas berkata, "Apa sekarang kau khawatir?"

Hagya justru mendengus pelan. "Darah dari raja hutan mengalir dalam tubuhku. Beberapa manusia tak membuatku takut," jelasnya.

"Desu yo ne~ Yokatta~ Kukira aku akan ketinggalan pesta makan pada malam ini," ujar Hina bernapas lega. Gadis itu tampak tak sabar untuk memakan makanan yang paling nikmat.

"Mereka pasti manusia yang sangat langka. Kita akan mencabik-cabik lalu menyantap mereka," terang Hagya yang kemudian disetujui oleh dua bawahannya.

Setelah menghabisi beberapa kawanan semut chimera, Gon, Killua, [Y/N], dan Kite kembali melanjutkan perjalanan mereka. Di tengah hutan yang gelap, dingin, dan mencekam.

[Y/N] menghentikan langkahnya, terdiam di tempat. Killua yang menyadari hal tersebut segera menghampiri gadisnya. "Ada apa, [Y/N]?" tanyanya.

"Ada yang mengikuti kita. Sejak tadi," jawab gadis berambut coklat panjang itu.

Sontak, dua anak lelaki itu berbalik ke belakang. Bersikap waspada dan mencari tanda-tanda musuh.

"Bukan dari sana," kata Kite angkat bicara. Kepala pria itu lalu menengadah ke atas. "Jumlah mereka ada banyak..." tambahnya.

Dari atas udara, beberapa ekor capung berterbangan di sekitar Flutter. Semut itu tengah memberikan perintah pada capung-capungnya. "Dengar. Tugas kalian mengalihkan perhatian musuh dari jarak jauh. Jangan terlalu mendekat. Regu kedua dari sisi kanan, dan regu ketiga akan menjepit mereka dari kiri. Regu pertama akan menjebak mereka agar tak bisa mundur."

Pada detik selanjutnya, penyerangan pada empat manusia itu dimulai.

Gon, Killua, [Y/N], dan Kite juga tak tinggal diam. Empat orang itu berlari menyusuri hutan. Mencegah musuh mendekat.

Killua memerhatikan Kite dan gadisnya secara bergantian. 'Aku dan Gon tidak menyadari keberadaan mereka,' batinnya.

"Mereka dari sisi kiri dan kanan. Jangan lengah," titah Kite.

[Y/N] lalu menambahkan, "Mereka mengepung dari semua sisi kecuali di belakang. Ada yang di udara. Kurasa dia sumbernya." Tanpa sadar jarak En gadis itu bertambah beberapa sentimeter. Kira-kira bertambah tiga puluh meter.

Seekor capung menyerang dari sisi kanan. Killua menghindar dengan menundukkan kepalanya. Ia lalu memanjangkan kuku di tangan kiri, menyerang capung tersebut. Bibirnya berdecak sebal saat hewan itu menghindar dengan mudah.

Capung lainnya menyerang Gon, anak itu melayangkan bogem mentah namun dihindari dengan mudah. Anak berambut hijau jabrik itu tetap berlari sembari menghindar juga menyerang.

Killua mengalirkan nen listriknya pada ibu jari dan jari telunjuknya, kemudian menyerang dua ekor capung. Namun lagi-lagi serangannya berhasil dihindari. "Sialan!" kesal.

 "Sialan!" kesal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang