Reader POV
Sakit. Seluruh tubuhku terasa sakit. Aku tak bisa merasakan kekuatanku. Aku kelelahan.
Rasa sakit itu masih saja menggerogotiku. Tentu saja, karena mimpi buruk ini belum berakhir.
Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku ingin kabur, menyelamatkan diri. Tapi jalanku ditutup dengan rapat.
Aku tidak berhenti bergerak. Terus berlari, menghindar, melawan, memblokir berbagai serangan. Hanya untuk bertahan hidup.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Tubuhku sudah tidak kuat. Tenagaku hampir tak bersisa. Namun aku tidak bisa berhenti.
Jika aku berhenti, maka semuanya akan berakhir. Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
Selain itu, ada rasa sakit lain yang membuat keadaanku semakin buruk. Sakit ini tidak menyakiti tubuhku. Namun pikiranku.
Kepalaku terasa pening dan berputar setiap kali sesuatu itu menyerangku, kepalaku tepatnya.
Lari. Kabur. Pergi.
Kata-kata itu terus menggema dalam pikiranku. Suara seseorang terdengar menggema, mengucapkannya berkali-kali tanpa rasa bosan.
Aku tidak tahu suara siapa itu. Terlalu banyak hal yang terjadi di saat yang bersamaan. Membuatku tak mampu memproses apapun dengan benar.
Semakin lama suaranya semakin keras, begitu pun dengan rasa sakit yang menyiksa pikiranku.
Tubuhku bergerak secara insting, berusaha melarikan diri sesuai ucapan tersebut. Namun selalu gagal. Digagalkan oleh makhluk itu.
Dia mengerikan. Entah apa yang terjadi pada-nya. Yang jelas, dia sudah bukan orang yang kukenal.
Aku terhempas setiap kali menerima serangan. Pukulan itu terasa sakit. Rasa sakit itu seperti menembus hingga ke tulang. Nyeri membuatku kewalahan.
Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku kelelahan. Bahkan hanya sedetik pun, aku tak bisa mengambil napas.
Jika bukan karena makhluk itu yang memaksaku melawan orang ini, kurasa aku bisa bersembunyi dan memulihkan diri secara perlahan. Lalu kabur ketika memiliki kesempatan.
Aku bisa saja menolak, namun melawan mereka bukan opsi yang baik. Aku hanya akan berakhir lebih cepat. Kisah ini akan selesai bila hal itu terjadi.
Namun, sampai kapan aku harus bertahan?
Sampai kapan, tubuh kecil ini mampu bertahan?
Apakah saat bantuan tiba, aku masih bisa bertahan? Apa bila saat itu terjadi, aku masih hidup?
Napasku tak beraturan, memburu. Keringat bercucuran dan membasahiku.
Aku tak yakin bisa bertahan sampai bantuan tiba.
Kapan penyiksaan ini berakhir?
━─━────༺༻────━─━
[HUNTER×HUNTER Fanfiction]
•
☕︎🄼🅈 🄳🅄🅃🅈☕︎
━─━────༺༻────━─━
Author POV
"Pertama batu!" ujar Gon lantang. Aura besar berkumpul pada kepalan anak itu.
Knuckle tertegun, keringat dingin mengalir. Jarak antara dirinya dan Gon cukup jauh. Namun tekanannya terasa.
'Kenapa? Knuckle masih waspada tapi dia akan menyerang dari jarak jauh? Serangannya bahkan tak akan mengenai Knuckle,' batin Killua.
'Ini pasti serangan terakhir Gon. Ini akan jadi akhir pertarungan,' pikir Knuckle yakin.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]
Fiksi Penggemar[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT] Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
![My Duty [Hunter×Hunter x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/285070658-64-k704557.jpg)