[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT]
Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
Saat Gon menyadari air mata terkumpul di pelupuk matanya, Knuckle buru-buru menghapusnya. Tangannya menyeka kasar air mata yang hampir mengalir. "Memangnya siapa yang menangis? Aku tidak kesal soal ini," kata pria itu.
Meski berbicara seperti itu, wajahnya terus menatap ke tanah, menghindari kontak mata. Gon dan Killua hanya bisa memberikan tatapan datar dan keheranan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Knuckle berbalik membelakangi dua anak laki-laki itu. Ia mengusap air matanya lagi, lalu berkacak pinggang. "Ini air mata karena terlalu banyak tertawa, bodoh. Akan kubunuh kalian, mengerti? Jadi jangan beritahu siapa pun!" ujarnya.
Diam sesaat, dua pasang mata terus memerhatikan Knuckle sejak tadi. Pria itu tiba-tiba berbalik dan berkata, "Pukul aku!" dengan wajah sangar.
"Hah?" beo Gon dan Killua bersamaan.
Tubuh pria berambut hitam itu kembali menghadap pada Gon dan Killua. "Akan kutunjukkan seberapa kuat aku yang sesungguhnya. Kau akan sadar aku tak perlu menghindari pukulan kalian," katanya. Situasi kembali serius dalam waktu singkat.
"Pukul aku sebanyak kalian suka. Namun, kalau aku tak beranjak dari posisi ini, tinggalkan token kalian. Ini kesempatan terbaik kalian! Kalian perlu seratus tahun sebelum bisa melawanku!" kata Knuckle.
Gon mengertakkan giginya, ini masalah serius baginya.
"Jangan remehkan kami!" Itu yang ingin Gon ucapkan pada Knuckle. Namun ia menahan diri. 'Jelas sekali kalau kami tidak sebanding dengan Knuckle. Kami tak berhak membantah hal itu,' batin Gon.
Kepalan tangan anak berambut hijau jabrik itu mengepal kuat. Memori ketika Neferpitou menyerang mereka terlintas di dalam benaknya. Keringat mengalir di sekitar pelipisnya. 'Tidak sekarang. Nyatanya, kami tak bisa mengatasi segalanya hanya dengan tekad. Kami tak bisa membantahnya. Namun, kami tak perlu menerimanya!' batin Gon.
Anak itu melangkah mendekat, lalu berkata pada Knuckle kalau ia tak akan berhenti memukul dan menyerang sampai posisi Knuckle bergeser.
"Cukup bicaranya. Lakukan saja segera!" balas Knuckle, tak ingin berlama-lama.