[Chp.48] Escape

1.7K 212 39
                                        

Author POV

"Nak," panggil Nobunaga pada kedua anak yang masih sadar itu. "Bergabunglah dengan laba-laba. Jadi timku. Aku juga ingin gadis itu bergabung," kata Nobunaga.

"Kekuatannya sangat menarik."

Gon menolak ajakan pria itu dengan tegas. "Tidak akan. Lebih baik aku mati dibanding bergabung dengan kalian."

Nobunaga tertawa kecil mendengar jawaban Gon. "Dia benar-benar membenci kita. Kau Kyouka, 'kan?" tebak pria itu.

"Kenapa kalau benar?" balas Gon bertanya.

"Sudah kuduga!" ujar Nobunaga lalu kembali tergelak.

"Hei. Kita tahan mereka di sini sampai Danchou kembali. Akan kusarankan merekrut mereka. Apalagi gadis itu," ucap Nobunaga. Tanpa sadar Killua mendekap erat tubuh [Y/N], menatap tajam pada Nobunaga

"Kau serius?" tanya Phinks.

"Danchou tidak akan setuju," ucap Feitan.

"Terserah kau saja, tapi kau yang awasi mereka. Jangan salahkan kami kalau mereka kabur," ucap Machi tak mau ambil pusing.

Killua lalu bangkit berdiri dengan [Y/N] yang berada dalam gendongannya. Ia dan Gon di minta untuk mengikuti Nobunaga. Sementara sisa anggota Laba-laba lainnya tetap di tempat. Pria samurai itu membukakan pintu bagi Killua dan Gon.

Ruangan tersebut tidak besar. Berbentuk kotak kecil, tak memiliki ventilasi satu pun. Bahkan lubang udara pun tak ada. Sekeliling mereka hanyalah dinding, dengan pintu sebagai akses masuk dan keluar. Juga beberapa kayu atau batu yang berserakan di lantai. Tak memiliki lampu, membuat ruangan tersebut terlihat sangat gelap.

Nobunaga lalu duduk bersandar pada daun pintu, memasang serta menyalakan empat lilin yang ia letakkan di sekitarnya sebagai penerangan di ruangan tersebut.

Gon dan Killua duduk di atas sebuah batu besar yang berada di sisi ujung ruangan tersebut. Dan [Y/N] yang dibaringkan di samping Killua. Gon mengeluh pelan, merasakan sakit yang menjalar dari punggung tangannya yang terluka.

'Aku bodoh. Kalau aku bergerak, Hisoka tak akan segan membunuhku. Aura membunuh itu. Aku tak bisa bergerak. Kalau Gon sampai terluka parah, bisakah aku bergerak? Seperti yang dilakukan [Y/N],' batin Killua mengingat kejadian tadi.

"Tak bisa." Killua membulatkan matanya saat suara Illumi terngiang di dalam kepalanya. "Yang kau pikirkan hanya membunuh atau tidak saat bertemu seseorang."

'Kau salah,' batin Killua.

"Jangan lawan musuh yang tak bisa kau kalahkan. Aku sudah menanamkan pikiran itu dalam benakmu."

"Kau salah!" seru Killua tiba-tiba berdiri, mengejutkan Gon dan Nobunaga. Aura biru mengelilingi dirinya, bola matanya mengecil.

"Mengerikan," ucap Nobunaga tertawa mengejek, berdiri memegang senjatanya. Lalu memosisikan dirinya dalam kuda-kuda bertarungnya. "Kelihatannya kau ingin membunuhku." Ia lalu mengaktifkan Nen-nya sembari berbicara. "Kuperingatkan dulu. Begitu masuk ke jangkauan ini, akan kutebas," kata Nobunaga.

Killua melangkahkan kakinya maju ke depan. Tak memerdulikan ucapan Nobunaga. "Killua!" seru Gon memanggil nama temannya itu dengan harapan ia tidak akan melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Keringat dingin pada wajah Killua menetes ke lantai seiring ia mendekati Nobunaga. Saat ia kembali sadar, ia berbalik ke belakang, mendekati dinding, lalu meninju hingga dinding tersebut retak. Melepaskan emosinya di sana. Ia lalu kembali duduk di samping [Y/N].

Melihat hal tersebut, Nobunaga me-non-aktifkan Nen-nya lalu kembali duduk.

'Aku tak mungkin mengalahkannya. [Y/N] saja tadi tidak bisa menumbangkannya. Aku harus cari cara untuk kabur,' batin Killua mengusap keringat yang ada di pipinya.

My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang