Author POV
Gon mengaktifkan Gyo pada matanya. Mulai mencari barang-barang di sekitar pasar yang memiliki Nen. Salah satunya adalah sebuah pot berwarna coklat dengan bentuk ukiran aneh. Ia pun menghampiri pot tersebut.
"Ini pot aneh, tapi aku merasakan aura," ucapnya. Tangannya meraih pot tersebut, mengangkatnya dengan niatan ingin melihatnya. Namun matanya tertuju pada sebuah kertas putih kecil yang tertempel pada benda tersebut.
Pada kertas tersebut, telah tertulis sebuah harga dan nama disampingnya. "Sudah ada penawarnya!"
Ia lalu teringat dengan ucapan Killua sebelumnya. "Kalau sudah ada yang menawar, tulis saja 2,5 lebih besar. Kalau kau menawarnya lebih tinggi, penawar lain pasti enggan."
Anak itu berpikir sebentar, mengalikan harga yang tertera dengan 2,5. Setelah itu, dia berpindah ke tempat lainnya. Menemukan hal yang sama. Saat ia melihat pada bagian kertas, tertera sebuah harga dan sebuah nama. Yang mengejutkan adalah nama penawar dari barang tersebut sama dengan pot tadi.
Hal yang sama pun terjadi di sisi [Y/N] dan juga Killua. Mereka sama-sama menemukan banyak barang dengan aura serta nama penawar yang sama. Karena terpisah dengan jarak, mereka pun menggunakan fitur group voice call pada ponsel agar bisa menelpon bertiga bersamaan.
"Kalian juga? Aku menemukan sepasang item, tapi keduanya sudah ditawar oleh Zepile. Saat kumasukkan 2,5 lebih besar juga, dia lipatkan 4 kali," terang Killua.
"Ini bukan kebetulan, 'kan?" tanya Gon.
"Ya. Mungkin dia mengincar beberapa barang di pasar ini. Tapi anehnya, kebanyakan barang yang dia tawar memiliki aura," ucap [Y/N].
"Apa mungkin dia pengguna Nen?" gumam Gon.
"Kurasa bukan. Tapi bisa saja dia menggunakan Nen tanpa menyadarinya," balas [Y/N].
"Jadi bagaimana?"
"Tetap lakukan penawaran hingga batas akhir. Karena kita bertiga, pasti bisa menang!" kata Killua.
Beberapa penawaran terjadi kepada lima barang yang ketiganya temukan. Setiap kali orang bernama Zepile itu menaikkan harganya, mereka juga menaikkan harga tawaran mereka. Tak lama kemudian, ketiga anak itu berjalan meninggalkan pasar dengan barang bawaan di tangan mereka.
"Pada akhirnya, menang tiga kalah satu," gumam Killua.
"Ya, dia dapat guci aneh," kata Gon.
"Setidaknya kita menang lebih banyak," kata [Y/N] menghibur.
"Ya, itu tidak buruk. Tinggal dibawa ke rumah pelelangan saja," kata Killua.
Mereka pun berjalan menuju ke rumah pelelangan. Membawa barang-barang mereka dengan harapan bisa dilelangkan di sana. Namun yang mereka dapatkan malah tidak sesuai dengan ekspetasi mereka. Pihak pelelangan tidak menerima barang lelang tambahan, kalau katalog telah dikeluarkan.
Killua pun mencoba untuk mencari jalan lain demi melelangkan barang-barang tersebut.
"Apa tidak ada cara lain? Kami ingin melelangkannya," kata Killua.
Orang dari pihak pelelangan berpikir sebentar, lalu menjawab pertanyaan Killua. "Bagaimana kalau kalian mencoba ke pasar perdagangan?"
Mereka bertiga menatap satu sama lain. Berterima kasih pada orang tersebut lalu meninggalkan rumah pelelangan dan tak lupa membawa barang-barang mereka. Sembari berjalan menuju ke pasar perdagangan, mereka pun berbincang ringan.
"Pasar perdagangan, ya. Pasti ada seorang profesional di sini, jadi kalau asli, pasti mahal," ucap Gon.
Killua menatap kecewa kepada barang yang ia bawa. "Kalau bisa, aku ingin menjualnya di pelelangan," gumamnya kecewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]
Fanfiction[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT] Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
![My Duty [Hunter×Hunter x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/285070658-64-k704557.jpg)