Author POV
Tiba di tujuan, delapan orang itu memutuskan untuk beristirahat lebih dahulu sebelum akan bertemu Podungo dan Lin keesokan harinya.
Gon, Killua, dan [Y/N] tidur di kamar yang sama, menggunakan kasur yang terpisah. Gon dan Killua di kasur yang sama, sementara [Y/N] menggunakan kasur terpisah. Kite dan teman-temannya yang lain menggunakan kamar yang berbeda.
Suasana malam sunyi nan tenang. Hanya suara dengkuran saja yang mengisi kekosongan. Itu yang Killua dengarkan beberapa jam pertama dalam tidurnya. Namun tidak untuk selanjutnya. Anak itu terbangun karena mendengar sesuatu yang berbeda.
Telinganya mendengar suara yang aneh, seperti suara rintihan kesakitan. Suara itu pelan dan halus, namun terdengar jelas. Selimut yang menyelimuti tubuh ia sibak ke arah samping. Mengambil posisi duduk di atas tempat tidur, Killua berkedip pelan agar pandangannya menjadi jelas.
Kamar itu gelap. Hanya ada cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang. Killua menolehkan kepalanya pada Gon yang tertidur lelap. Suara rintihan itu bukan dari Gon.
Bola mata biru milik Killua membelalak saat ia menyadari siapa pemilik suara tersebut. Anak itu segera turun dari tempat tidur, menghampiri single bed yang dipakai oleh gadisnya. Saat ia mendekat, suara rintihan itu semakin jelas di telinganya.
[Y/N], gadisnya, merintih kesakitan dalam tidurnya. Jari-jari gadis itu mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya. Keningnya berkerut disertai bulir keringat yang membasahi wajahnya. Bibir gadis itu tak berhenti mengeluarkan suara rintihan. Suara yang mengikis hati Killua.
Telapak tangan Killua menepuk pelan pundak [Y/N], memanggil gadis itu bangun. "Hei, [Y/N], bangun..." panggilnya lembut di sela kekhawatirannya.
"Sakit..." rintih [Y/N]. Sepertinya gadis itu tidak sepenuhnya tertidur. "Killua... ini sakit sekali..." rintihnya.
"Bagian mana yang sakit? Katakan padaku, apa yang sakit?" Killua tak bisa tenang, ia diliputi kekhawatiran.
Kenapa gadisnya kesakitan? Apa yang membuat gadisnya sakit? Bagaimana ia bisa menghilangkan rasa sakit itu dari tubuh [Y/N]? Bagaimana memindahkan sakit itu kepadanya? Biarlah ia yang merasakan sakitnya, ia sudah terbiasa. Tapi tidak dengan [Y/N].
[Y/N] menggenggam kuat uluran tangan Killua padanya. Anak laki-laki itu meringis pelan, genggaman [Y/N] terlalu kuat. Telapak tangannya rasanya ingin remuk.
Suara napas gadis bersurai coklat itu terdengar berat, cenderung sulit bernapas. Killua menggigit bibir. Ia memutuskan untuk menaiki tempat tidur [Y/N], berbaring sembari mendekap tubuh gadis yang ia sayangi itu.
Tangan kanannya mengusap punggung [Y/N], berharap dapat membantu mengurangi rasa sakit gadis itu. "Jangan sakit, tolong jangan sakiti [Y/N]..." ucap Killua entah pada siapa.
Lima menit berlalu, gadis itu masih juga merintih sakit. Killua bahkan bisa merasakan air mata yang perlahan membasahi bajunya. Di menit ketujuh, [Y/N] bergumam pelan, memanggil nama Killua. "Sudah tidak sakit..." bisik gadis itu. Genggaman tangan [Y/N] mengendur, tubuhnya rileks hampir lemas dalam dekapan Killua. Napas sang gadis juga berangsur normal kembali.
Killua menarik napas lega, bersyukur. Ia mendaratkan kecupan ringan di kening gadisnya. Mendekapnya seerat mungkin, namun tak sampai membuat [Y/N] kesakitan. "Kenapa kamu bisa kesakitan? Apa yang membuatmu sakit? Katakan padaku, agar aku tahu harus berbuat apa..." pinta Killua memohon.
Namun [Y/N] tak memberi balasan. Dalam kondisi lelah dan lemas, gadis itu hanya menggeleng pelan. Menyandarkan kepalanya pada dada Killua. "Tidak apa-apa... temani saja aku kalau aku merasakan sakit seperti tadi. Itu sudah cukup..." kata [Y/N] pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]
Fanfiction[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT] Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
![My Duty [Hunter×Hunter x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/285070658-64-k704557.jpg)