Author POV
Air hujan berjatuhan, membasahi apapun yang dilewatinya. Suara setiap rintik yang jatuh memenuhi indra pendengaran. Hewan-hewan liar berlari ke tempat teduh, tak ingin basah dan kedinginan.
Namun Killua terus berlari. Tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya dan dapat membuatnya sakit. Gon yang tidak sadarkan diri-setelah ia buat pingsan-digendong pada pundak Killua. Anak berambut seputih salju itu terus berlari tanpa henti, sejak ia meninggalkan Kite. Tak pernah sekalipun ia berhenti atau bahkan menoleh ke belakang.
Fokusnya hanya pada satu hal. Kabur, lari, sejauh mungkin.
'Kami terlalu percaya diri. Kami berdua masih lebih lemah dari Kite yang kehilangan lengan, juga lebih lemah daripada [Y/N]. Makhluk itu tahu. Itulah realita dari situasinya. Jika Kite sendirian, hal ini mungkin tidak akan terjadi. Kami sangat bodoh!' pikir Killua.
Ketika sinar matahari mulai beranjak naik dan menyinari dunia, barulah hujan berhenti. Killua yang lelah berlari semalam suntuk, mengubah posisi Gon dari pundak ke punggungnya. Ia berjalan keluar dari area NGL.
Tubuh Gon disandarkan pada pohon tempat pertama kali mereka sampai sebelum masuk ke NGL. Killua beristirahat sejenak, mengatur napasnya yang memburu.
Baru saja ia ingin mengecek keadaan gadisnya, ia malah terkejut tak menemukan sosok gadis berambut coklat bersamanya. Wajahnya berubah panik. "[Y/N]?"
Kepalanya berbalik pada pintu masuk NGL. Satu hal yang terbesit dalam pikirannya, gadis itu masih bersama Kite.
Tidak. Ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Tidak boleh. Bagaimana kalau monster itu mengalahkan Kite lalu membunuh mereka berdua?
Dalam keadaan panik, Killua berlari tergesa-gesa. Ia akan masuk kembali dan membawa gadisnya. Baru saja kakinya hendak menginjak anak tangga terakhir, sebuah perisai sihir menghalangi jalannya masuk. Perisai itu menutup seluruh bagian pintu masuk, mencegah Killua mengambil langkah.
"Apa ini?"
Killua merentangkan tangannya ke depan. Hawa dingin menyapa kulitnya ketika perisai itu ia sentuh. Tangan Killua mengepal kuat, mengumpulkan seluruh tenaga yang ia miliki lalu menghantam perisai itu.
Satu kali tidak berhasil, dua kali juga tidak, apalagi seterusnya. Perisai itu tak retak meski sudah berkali-kali menerima bogeman Killua.
"Keras sekali. Padahal perisai ini terlihat tipis," gumam Killua. Tangannya terasa kebas juga dingin.
Kenapa bisa ada perisai? Bukankah sebelumnya tidak ada? Orang-orang NGL tidak mungkin menciptakan teknologi sehebat ini.
Bagai menjawab pertanyaan Killua, sebuah sinar menyilaukan muncul dari arah dada anak itu. Lebih tepatnya dari kalung pemberiannya pada [Y/N]. Kilauan kalung itu tak terlalu terang, namun cukup untuk Killua memahami situasi.
Perisai itu memang tidak pernah ada. Kalung [Y/N] yang membuatnya. Benda itu yang menghalangi Killua untuk masuk kembali ke NGL.
'Ini hanya dugaanku, tapi kurasa sihir [Y/N] yang ada pada kalung ini mencegahku masuk kembali ke NGL,' batin Killua.
Sekarang Killua mengerti kenapa [Y/N] menitipkan kalung ini padanya. Gadis itu sudah tahu yang akan terjadi selanjutnya. Dan dia melakukan apapun untuk menyelamatkan dua temannya. Bahkan jika [Y/N] bisa menyelamatkan Kite, ia pasti akan melakukannya.
'[Y/N] adalah tipe orang yang seperti itu. Selalu. Sejak dulu.'
Sial. Killua sangat kesal sekarang, marah pada dirinya sendiri. Seharusnya ia menarik tangan gadis itu agar lari bersamanya. Seharusnya ia lebih kuat agar bisa melindunginya. Seharusnya ia lebih berani.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]
Fiksi Penggemar[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT] Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
![My Duty [Hunter×Hunter x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/285070658-64-k704557.jpg)