[Chp.56] Entering The Game

1.2K 131 55
                                        

Author POV

Tsezgerra membuka pintu dengan meletakkan sidik jarinya pada kunci pengaman. Mesin pintar itu mengenali sidik jari Tsezgerra lalu memberi akses masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu, terdapat puluhan komputer dengan masing-masing satu joystation yang terhubung.

Beberapa di antara komputer tersebut masih menyala, menunjukkan sebuah kalimat yang bertuliskan 'Now Playing'. Yang artinya, player yang sedang memainkan game tersebut masih hidup.

Para pemain baru melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Di pimpin oleh Tsezgerra yang memandu mereka.

"Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Semua salinan permainan individual sama. Tidak menjadi masalah kalian masuk ke dalam game dari konsol mana. Kalian akan sampai di satu tempat yang sama. Bayangkan seperti area virtual yang bisa diakses darimana saja," jelas Tsezgerra.

Gon yang tidak bisa mencerna dengan cepat, berakhir mengeluarkan kepulan asap dari telinganya. Sepertinya otaknya overheat.

"Sekarang, aku akan menyerahkan kartu memori. Kalian akan langsung masuk ke permainan. Tapi sebelum itu, mari kita tentukan urutan kalian masuk ke dalam game," kata Tsezgerra.

"Urutan?"

Tsezgerra menjelaskan arti kata 'urutan' yang dia maksud. "Setiap area hanya bisa dimasuki oleh satu pemain dalam satu waktu," ucapnya.

"Artinya kami tidak bisa masuk secara bersamaan, melainkan bergantian. Mungkin karena pusat utama untuk memasuki game ini hanya ada satu," tebak [Y/N].

Pria tua berkumis itu tersenyum simpul. "Kurang lebih seperti itu," katanya.

"Baiklah, kita akan tentukan urutannya sekarang untuk menghindari cekcok di dalam permainan," kata Tsezgerra.

"Bagaimana kalau kita bermain batu-gunting-kertas?" usul Puhat.

Lalu, dua puluh dua pemain telah bermain gunting-batu-kertas dan mendapatkan urutan masing-masing. Gon mendapat giliran pertama. Killua di urutan ke tujuh belas. Dan [Y/N] di urutan ke sebelas.

Killua mengumpat kesal pada ketidakhokkiannya. [Y/N] mengelus-elus punggung Killua. "Sabar saja. Lebih kasianlah pada Gon. Dia harus menunggu kita," hibur gadis itu pelan.

"Hore! Aku pertama!" sahut Gon senang. Tsezgerra lalu mengenali wajah Gon. "Kau anak yang punya data simpanan itu, 'kan?" Anak baik nan polos itu merogoh saku bajunya. Mengeluarkan sebuah cincin dan kartu memori yang diberikan oleh sang Ayah.

"Kau ingin menggunakannya?" Gon tertegun. Matanya menatap pada dua benda di tangannya. "Jangan takut. Pintu masukmu akan selalu sama, meski ada data yang tersimpan," kata Tsezgerra.

'Permainan ini adalah pesan Ging kepadaku. Aku percaya padanya!'

"Aku akan menggunakan kartuku sendiri," kata Gon.

"Kalau begitu, pakailah cincinmu dan mulailah bermain." Gon melalukan sesuai arahan Tsezgerra. Ia memasang cincin tersebut di jari telunjuknya.

"Gon. Tunggu di pintu masuk sampai aku dan [Y/N] masuk," pesan Killua pada anak itu. Ia pun mengangguk mengerti.

Gon memasang kartu memorinya pada slot yang tersedia. Menggunakan Nen-nya pada konsol. Seketika dirinya menghilang, masuk ke dalam game.

"Setelah muncul pesan 'Now Playing', orang berikutnya boleh memulai," kata Tsezgerra.

Gon tiba di sebuah tempat yang dikelilingi oleh warna putih dan sebuah pintu hitam bercorak. Kakinya melangkah mendekati pintu tersebut. Bagaikan ada sensor otomatis, pintu tersebut langsung terbuka ketika Gon mendekatinya. Anak itu pun melangkah masuk.

My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang