Author POV
Tiga ekor kuda berpacu dengan kecepatan normal, melewati beberapa rumah warga. Pada sebelah kiri, enam orang itu dapat melihat beberapa penduduk yang tengah membajak sawah. Sekilas kehidupan di dalam wilayah tersebut terlihat sangat tenang, damai dan asri. Udara pun segar, berbeda dengan udara di perkotaan.
Bergerak selama beberapa menit, mereka lalu berhenti untuk melihat peta serta beristirahat sejenak. Sejauh ini, mereka belum menemukan apa-apa. Tidak ada hal yang aneh, tidak ada binatang berukuran besar.
"Kita harus menuju pesisir dan memeriksa desa-desanya. Jika kita memeriksa semua desanya tapi tidak ada apapun, berarti semut chimera tidak ada di negeri ini," kata Gon.
"Itu kalau orang-orang berbicara yang sesungguhnya," balas Killua.
Pandangan [Y/N] teralihkan pada dua orang yang terus mengikuti perjalanan mereka. Dua orang penduduk yang menemani dalam perjalanan mencari semut chimera. Satu orang perempuan dan satu orang laki-laki.
"Mereka bilang akan ikut agar bisa menjadi penerjemah kalau kita bertemu dengan suku pedalaman. Namun, jelas sekali kalau mereka sedang mengawasi kita," bisik gadis itu pada dua temannya. Ia sedikit tidak nyaman. Lagipula ia dan teman-temannya datang dengan tujuan yang jelas, bukan ingin berbuat jahat.
"Aku jelas tak berharap warga di sini akan membantu. Firasatku mengatakan bahwa makhluk itu ada di sini," ucap Kite menghampiri tiga anak tersebut. Matanya menajam, melirik ke sekitar.
[Y/N] meringis pelan, hampir seperti bisikan. Napasnya tercekat untuk sesaat. Jari jemari melengkung ke arah dalam, membentuk kepalan tangan. Gadis itu menarik dan membuang napas dengan cepat. Rasa sakit itu semakin sering datang. Sama halnya dengan semakin banyak manusia yang menjadi korban semut chimera.
Tubuh gadis itu hampir saja tumbang ke atas tanah bila Killua tidak sigap menahannya. Raut wajah Killua selalu khawatir setiap kali [Y/N] meringis sakit seperti ini. Napas gadisnya terdengar berat dan menyakitkan, seperti berada di ambang kematian. Ini sudah yang kelima kalinya untuk hari ini.
Karena terlalu sering merasakan sakit itu, [Y/N] perlahan-lahan sudah terbiasa. Walau pun begitu, rasa sakit yang datang tetap saja membuatnya lumpuh sementara. Tubuhnya akan melemas, otaknya tak berfungsi dengan baik.
Akibatnya, sesekali mereka harus berhenti sejenak. Menunggu [Y/N] merasa lebih baik baru bisa melanjutkan perjalanan.
Dalam pandangan Kite, [Y/N] secara tidak langsung menjadi penghambat dalam proses pencarian semut chimera. Setiap waktu yang digunakan untuk berhenti akan terbuang sia-sia. Jelas pria itu tidak terlalu senang.
"Kau yakin bisa menangani rasa sakitmu? Kalau kau terus-terusan menjadi penghambat, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu di sini," tegas Kite.
Killua menggigit bibir, kesal akan ucapan Kite. Tangannya merangkul pundak gadisnya, lalu mengelus dengan lembut. [Y/N] masih kesakitan. Memang benar karena hal ini perjalanan mereka jadi terhambat, tapi apa Kite perlu berkata seperti itu?
Memangnya [Y/N] ingin merasa sakit dan jadi penghambat? Tentu saja tidak.
Beberapa menit berlalu, Killua dapat merasakan tubuh [Y/N] melemas dalam pelukannya. Rasa sakit itu sudah menghilang. Napas gadis itu menjadi lebih pelan dan berangsur normal.
Kelopak mata gadis itu terangkat, menampakkan bola hazel yang indah dibaliknya. "Ya, aku baik-baik saja. Tidak usah dipedulikan," balas gadis itu masih lemas. Ia berusaha bangkit berdiri, dibantu oleh Killua.
Hendak naik kembali ke atas udara, [Y/N] dikejutkan saat ia merasa dirinya seperti sedang terbang di udara. Kejadian itu terjadi dengan cepat, membuat gadis itu berteriak terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]
Fanfiction[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT] Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
![My Duty [Hunter×Hunter x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/285070658-64-k704557.jpg)