[S2, Chp.85] Meeting Chimera Ant

502 66 24
                                        

Author POV

Setelah para semut Chimera menghilang dari langit, Pokkle dan timnya segera menjauh dari ujung bukit. Beberapa ekor lebah yang telah ditugaskan oleh Ponzu untuk mengirim pesan kembali dengan harapan kosong. Selembar kertas yang mereka bawa, dikembalikan kepada Ponzu.

"Ini tidak berhasil. Tidak ada yang menerima pesannya. Artinya semua hunter yang memiliki kontak denganku sudah dibunuh," kata Ponzu.

"Souka. Kita harus kembali. Jumlah makhluk itu terlalu banyak untuk kita hadapi. Kita harus meninggalkan NGL dan memberitahu dunia apa yang terjadi. Agar pasukan pembasmi bisa dibentuk," usul Pokkle.

Pekuba menganggukkan kepalanya cepat. "Terserah mau bagaimana. Pokoknya kita harus kabur! Atau kita akan..." ucapan pria berambut terang itu terhenti.

Seekor semut muncul dari dalam tanah. Semut itu berdiri tepat dibelakang Pekuba, mengejutkan Pokkle, Ponzu, dan Balda yang melihatnya. Pekuba yang tidak melihat arah datangnya serangan, seketika mati di tempat setelah kepalanya dihancurkan.

Tiga pasang mata yang melihat kejadian itu membulat sempurna. Pokkle segera mengeluarkan panah nen miliknya, membunuh prajurit semut itu. "Nigero! Mereka akan datang lebih banyak lagi!" ujarnya.

"Tunggu dulu. Kubilang tangkap manusia itu hidup-hidup. Kita harus mengantarnya pada Ratu dengan segar," ujar seekor semut yang berbentuk seperti laba-laba. Makhluk itu berjalan dengan cepat, mendekat pada Pokkle, Ponzu, dan Balda.

Mata Pokkle melebar lagi, kaget saat melihat ada semut yang memiliki wajah manusia.

"Makhluk apa itu?" Ponzu bergidik ngeri.

Tangan Pokkle bergerak, menciptakan panah nen berwarna oranye. Anak panah itu ia tembakkan ke arah semut laba-laba. Tetapi entah bagaimana, serangannya dihentikan. Panah itu, tertangkap.

'Dia menangkap Panah Oranye-ku, panah yang tercepat dari Panah Pelangi-ku dengan mudah,' batin pemuda itu terkejut.

Semut laba-laba itu mendarat dihadapan Pokkle dan yang lainnya. "Apa ini? Ini terlihat dengan jelas. Tak bisakah para bawahan itu melihatnya?" Semut itu memperhatikan panah nen yang ada di salah satu tangannya.

Kepalanya lalu berbalik pada Pokkle, melihat ada aura nen pada pemuda itu. "Jadi energi kehidupan yang mengelilingi tubuhmu adalah bahan senjata ini? Kau akan jadi makanan hebat untuk Ratu," katanya.

Jaring laba-laba yang tebal dan panjang ditembakkan oleh semut itu. Pokkle dapat menghindarinya. Namun tidak dengan Balda yang tertangkap. Pria berambut gelap itu berteriak panik saat hidupnya berada di ujung tanduk.

"Balda!" Pokkle berlari, hendak menyelamatkan temannya. Suara kepala yang termakan dan tubuh Balda yang melemas, menghentikan langkah pemuda itu. Ia menatap ngeri, pada temannya yang terbunuh.

Sadar bahwa dirinya salah langkah, semut laba-laba itu panik. "Tidak! Aku menggigitnya tanpa sengaja. Zazan-sama akan marah lagi!" keluhnya memegangi mayat itu.

Jari-jari Pokkle mengepal kuat, emosinya memuncak. "Brengsek!" Anak panah nen ia luncurkan, walau kembali ditangkap oleh semut itu. Tak hanya itu saja, ia melesat maju, mendaratkan beberapa kali bogeman mentah pada wajah semut tersebut.

Tendangan keras dari Pokkle menampar wajah semut itu. Ia lalu mundur beberapa langkah, mengaktifkan nen dan menyiapkan panah merahnya. "Rasakan ini!" Namun belum sempat melepaskan serangan, sesuatu yang tajam menancap pada lehernya. Kepala Pokkle terasa pusing dan berat, sebelum akhirnya ia tumbang.

"Seperti biasanya, kau memalukan di pertempuran," ujar seekor semut wanita yang baru saja menumbangkan Pokkle dengan racunnya.

"Zazan-sama," ujar semut laba-laba mengenali pemimpinnya.

My Duty [Hunter×Hunter x Reader]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang