[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT]
Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
Suara langkah kaki menggema di sepanjang lorong yang gelap. Yang hanya diterangi oleh lilin-lilin di dinding. Terlihat ada dua sosok manusia yang berjalan berdampingan. Satu orang wanita dewasa berpakaian dress dengan topi dan sebuah alat cyborg di wajahnya. Dan yang satunya lagi, seorang anak menggunakan kimono gelap dengan motif bunga pada ujung kainnya.
"Kalluto-chan buka pintunya." Perintah wanita itu pada anak di sampingnya yang bernama Kalluto. Kalluto pun menuruti permintaan Ibunya, dan membukakan pintu itu bagi sang Ibu untuk masuk ke dalam.
Kikyo berdiri sebentar di ambang pintu. Melihat anak emasnya yang terjerat dengan borgol di kedua tangan dan kakinya. Kepalanya tertunduk ke bawah, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka goresan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bersama dengan Kalluto, Kikyo melangkah masuk dan mengajak anak emasnya itu untuk berbicara. "Kil, apakah kamu sudah mengakui kesalahanmu?" Tanya Kikyo berjalan mendekati Killua dan Milluki yang memegang sebuah cambuk di tangannya.
"Percuma saja, Mama. Dia sama sekali tidak menyesal." Kata Milluki kesal menatap adiknya. "Kita harus membuat dia lebih menderita." Usul Milluki menggenggam kuat cambuk di tangannya.
Dengan emosi, Kikyo menghantam kipas lipat di tangannya, memarahi Milluki. "Milluki! Tutup mulutmu!" Serunya marah menatap anak keduanya. Milluki berdecih pelan, memalingkan wajahnya. Sementara Kalluto hanya diam menatap interaksi dua orang yang lebih tua darinya itu, juga kakaknya yang tengah di rantai itu.
"Kil, berhentilah keras kepala dan katakan kalau kau menyesal." Kata Kikyo lembut berusaha membujuk anak kesayangannya itu. Namun Killua hanya diam. Tidak memberikan respon apapun, bahkan gerakan kecil sekalipun tidak.
Sebuah ide kemudian terlintas di kepala Milluki. "Benar juga, teman perempuanmu itu. Namanya [Y/N], bukan?" Ketika Milluki menyebut nama [Y/N], jari Killua terlihat bergerak sebentar. Seakan-akan dia langsung merespon setelah mendengar nama temannya. "Kelihatannya dia menerima tawaran Papa untuk melatihnya. Aku yakin saat ini dia pasti sedang disiksa oleh Papa." Kata Milluki tersenyum miring.
"Milluki! Kau terlalu banyak bicara!" Bentak Kikyo membuat Milluki membuang pandangannya ke lantai. "Dengarkan aku, Kil..." kata Kikyo dengan nada lembut.
"Kau bahkan tidak bilang padaku!" Bentak Killua dengan perasaan marah menatap nyalang Ibunya.
Plak!
Cambukan itu melayang, mendarat tepat di pipi Killua, tepat setelah dirinya membentak sang Ibu. Membuat bocah berambut putih itu diam. "Jangan bentak Mama!" Seru Milluki marah.
"Sudah kusuruh kau untuk diam saja!" Bentak Kikyo berteriak di samping Milluki.
"Aku tidak perlu bilang padamu, Kil. Karena suatu saat nanti kau pasti akan tau sendiri, lagipula [Y/N] menerimanya tanpa merasa keberatan." Katanya bersikap lembut pada Killua. Sangat berbanding terbalik bagaimana caranya bersikap pada Milluki.