Author POV
Keheningan melanda selama beberapa detik diantara Gon dan Genthru. Hutan itu sunyi. Sampai suara sekumpulan burung berterbangan memecah keheningan. Bersamaan dengan sosok Genthru yang mengambil langkah menyerang lebih dahulu.
Sebelum Gon sempat bereaksi, pria itu langsung menggenggam pergelangan kiri Gon dan meledakkannya. Manik mata Gon membola, tak berkutik dengan cepatnya gerakan lawan. 'Dia cepat. Aku bahkan tak punya waktu untuk menghindar,' batin Gon.
Asap hitam bekas ledakan mengepul dari pergelangan tangannya. Anak itu segera menepis cengkraman Genthru dari tangannya dan melompat mundur. 'Namun, aku masih bisa menahan serangannya!' Pergelangan tangan Gon yang diledakkan tadi, masih sempat ia lindungi dengan Nen. Sehingga hanya menyisakan bekas kemerahan dari ledakan tadi.
'Dia menggunakan Gyo, ya? Saat aku meraih tangannya, dia memusatkan auranya di sana untuk menangkis seranganku.' Genthru menggertakkan giginya kesal. 'Baka! Dia pikir dia sudah berhasil mengecohku?'
Genthru kembali mengambil langkah cepat. Namun refleks Gon kali ini juga cepat. Tangan mereka saling beradu, antara menghindar dan menyerang. Sampai Genthru berhasil mencengkram pergelangan tangan Gon lagi. Anak itu tentu refleks melindungi tangannya dengan Nen. Namun lawannya malah mengepalkan tangan dan meninju perutnya keras.
Tubuh Gon terlempar dan mendarat ke atas tanah setelah pukulan itu. Meringkuk dan meringis sakit sambil memeluk perutnya.
Genthru berdiri di tempat. Menyaksikan lawannya meringkuk kesakitan. "Ada apa denganmu? Padahal pukulan tadi hanya pukulan biasa di badan. Jika kau memusatkan auramu pada bagian yang akan kuserang, bagian tubuhmu yang lain akan rentan pada serangan. Itu sia-sia saja. Kau justru membahayakan dirimu," katanya.
Perlahan Gon kembali berdiri ketika rasa sakit di tubuhnya mengurang. Tersenyum pada Genthru seolah mengejeknya. Genthru mendengus kesal, kembali menerjang anak itu. "Kau tidak akan tersenyum lebih lama lagi!"
Kaki Gon melangkah mundur ke belakang, menghindari pria itu. Tetapi dengan kecepatannya, Genthru berhasil mengejarnya. Dalam adu tangan mereka, Genthru menemukan celah Gon dan mencengkram pergelangan kanan anak itu. "Satu pukulan lagi untuk mengirimmu ke neraka!" Mengulangi serangan yang sama, Genthru mengepalkan tangan kirinya lalu meninju perut Gon lagi.
Namun mata pria itu membulat saat pukulannya tak berefek apapun pada Gon. Anak berambut hijau jabrik itu dengan segera meloloskan dirinya dari cengkraman Genthru dan berlari menjauh. Pria dewasa itu tentu tak ingin lawannya kabur begitu saja, maka ia segera mengejarnya. Dalam hitungan detik, Genthru sudah menyisakan jarak beberapa langkah saja dari Gon.
'Mustahil! Pukulan tadi adalah pukulan terkerasku! Seharusnya dia tak mampu menahannya. Tapi, karena dia bisa menahannya, artinya dia meminimalkan efek pukulannya. Dengan kata lain, dia menangkis seranganku tanpa mengandalkan auranya. Apa dia sudah menduga aku tak berniat meledakkan pergelangan tangannya?' batin Genthru.
Pria itu kini berlari bersampingan dengan Gon. Menyamakan kecepatannya agar Gon tak bisa kabur dengan mudah. Saat mata mereka bertemu, Genthru langsung berubah pikiran. 'Tidak, sepertinya itu bukan dugaan.'
Beberapa hari yang lalu, saat masih berlatih, sebenarnya Gon sempat bertanya pada Bisky. "Bagaimana Genthru bisa menghindari terbakar oleh bomnya sendiri?" Bisky tersenyum pada pertanyaan anak didiknya itu. "Itu mudah. Dia melapisi tangannya dengan aura yang lebih kuat daripada ledakan bom," jawab Bisky.
"Oh, naruhodo." Kepala Gon naik-turun, mengangguk paham. "Itu jurus yang memerlukan cadangan aura yang besar. Ini kesempatan yang bagus. Sekarang kau pasti sudah paham," kata Bisky.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Duty [Hunter×Hunter x Reader]
Fanfiction[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT] Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
![My Duty [Hunter×Hunter x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/285070658-64-k704557.jpg)