[UPDATE SETIAP RABU DAN JUMAT]
Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa aku berada di sebuah bangunan tua kecil di dunia atau bisa dikatakan dimensi yang berbeda. Aku tidak tau apa dan kenapa aku bisa berada di sini, tapi aku tau satu hal yang past...
Satu per satu semut mulai maju ke depan. Rammot memusatkan aura nen pada kepalan tangannya dan meninju setiap semut sekuat tenaga. "Berikutnya!" sahut Rammot memanggil semut lainnya untuk maju.
'Menjadi seorang bawahan lemah itu payah. Kau harus bersusah payah hanya untuk mengeluarkan semua kekuatanmu,' batin Neferpitou yang mengawasi. Semut kucing itu melipat tangan di depan dada, menonton dengan bosan.
Lalu, bagaikan menerima sinyal yang menarik dari telinganya, semut itu tiba-tiba menyeringai lebar. "Peggy, kuserahkan yang di sini kepadamu." Neferpitou berbalik badan, berjalan keluar.
"Anda mau ke mana?" tanya Peggy membalas.
"Aku ingin mengetahui seberapa kuat aku sebenarnya," jawabnya, tersenyum mengerikan.
Peggy menaikkan sebelah alisnya. Namun tak bertanya lagi. Semut penguin itu kembali fokus pada Rammot.
Di luar, di dalam keheningan malam. Beberapa meter dari sarang para semut chimera. Terdapat sebuah hutan lebat dan rimbun.
Kite menghentikan langkahnya. Keringat dingin membasahi wajahnya. Mereka sudah sangat dekat dengan sarang para semut chimera. Pria itu berjongkok, menyembunyikan diri. Ia merasakan sebuah aura yang gelap, kejam, dan mengerikan. 'Bakemono da. Apa ini? Aku tak percaya!' batinnya.
Walau sedikit bergetar, [Y/N] mengepalkan tangannya kuat. 'Aura Pitou lebih mengerikan dari yang kuperkirakan,' batinnya.
"Doushita, Kite?" tanya Gon dan Killua yang belum merasakan aura mengerikan itu.
"Gon, Killua, [Y/N]. Lari!" perintah pria berambut panjang itu.
Dua anak laki-laki itu menatap bingung pada Kite. Kenapa mereka harus lari? Mungkin itu yang mereka pikirkan.
Kite memberikan perintah lainnya. "Cepat! Keluar dari sini!" serunya.
Dari sarang para semut, Neferpitou tengah bertengger. Mata kucingnya menemukan lokasi lawannya dari jarak yang jauh. Seringainya semakin lebar. "Mitsuketa~"
Semut itu melompat, melesat secepat Kilat menuju tempat Kite berada.
"Menjauh dariku!" seru Kite saat bahaya itu semakin mendekat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Detik selanjutnya menegangkan. Satu tangan Kite terpotong. Darah merah pekat mengalir dari luka Kite. Bau amis darah dengan cepat memenuhi indra penciuman semua orang. Tangan Kite yang terpotong, jatuh beberapa langkah ke belakang, bersamaan dengan percikan darah. Pandangan yang sungguh mengerikan, terutama bagi anak-anak.
Kite memegangi bahunya yang terluka. Menekan luka tersebut agar ia tak kehilangan lebih banyak darah. Rasa sakit menjalar, namun tak seberapa dengan adrenalinnya.
Seekor semut dengan rupa kucing mendarat dan membelakangi ketiga anak itu. Dia adalah musuh. Ketika kepalanya menoleh ke belakang-memberikan tatapan bak binatang buas yang siap menerkam kapan saja-tubuh Gon dan Killua bergetar hebat. Tentu karena takut.