Aki melihat tingkah Nyai, dan perbuatan Nyai membiarkan aku makan ari-ari sangat marah.
"Kenapa kau tanam jin dalam tubuh Menul? apa kau tidak kasihan melihat Menul makan makanan yang tidak seharusnya dia makan? apa kata orang jika melihat Menul seperti binatang?!" ucap Aki Setu dengan nada marah.
"Aku tidak mau Menul mengalami nasib seperti Ibunya, aku tidak mau Menul mengalami nasib seperti adikku, yang hanya diam ketika didzolimi suaminya, dan wanita jalang itu! aku ingin Menul kuat, tidak hanya manusia yang tidak akan bisa menyakitinya, hewan buaspun akan takut pada Menul Ki", jawab Nyai santai.
Aku berbaring masih mendengar percakapan mereka, ternyata Nyai menyimpan dendam pada wanita yang menghancurkan rumah tangga Adiknya. Entah kenapa mataku tidak dapat aku pejamkan. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Perutku tiba-tiba mual ingin muntah. Aku terkejut melihat darah di tangan dan bajuku. Aku tidak tahan lagi bau amis darah yang menyengat dan akhirnya aku muntah.
"Hokkkk hokkkk",
"Menul... kamu kenapa?" Nyai menghampiriku dan memijit tengkukku.
"Nyai kenapa tanganku berdarah, kenapa bajuku penuh darah? aku tidak tahan baunya Nyai", ucapku dengan nafas naik turun.
"Ayo Menul, kamu harus mandi dan ganti bajumu", Aki Setu menarik tanganku.
Aku dibawa ke sungai dan aku langsung menceburkan diri dan berenang. Aki Setu terkejut melihatku bisa berenang.
"Nul... ! hati-hati, kamu yakin kamu bisa berenang?" teriak Aki.
"Iya Ki, tenang saja, Ayahku yang mengajarkan aku berenang", jawabku sambil menyelam kembali.
Setelah puas berenang, Aki Setu memberikan aku kain dan baju untuk salin. Mataku memandang sekeliling dan melihat banyak penampakan berdiri dan terbang ke sana kemari.
"Ki... kenapa aku bisa melihat setan-setan itu? oh iya Ki, aku bisa melihat Jana, tapi kenapa Ujang tidak bisa melihat Jana?" tanyaku pada Aki Setu.
"Nul, yang kamu lihat itu bukan dari bangsa Manusia, dia bangsa Jin, Ujang masih suci dan polos, dia anak yang soleh, tidak mungkin dia bisa lihat jin, mungkin justru jinnya yang takut melihat Ujang," jawab Aki Setu.
"Apa aku tidak suci?" tanyaku heran.
"Kamu masih suci Nul, tapi Nyaimu yang membuatmu bisa melihat mahluk-mahluk gaib," jawab Aki.
Aki sangat baik memperlakukan aku, Aki beda dengan Nyai yang jorok, tapi bagaimanapun Nyai bagiku saat itu adalah penolong buatku. Yang aku tahu merekalah orang yang paling baik memperlakukan aku setelah Ibu tiada.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Saksi Kematian (SK)
Misterio / SuspensoDewasa 18++ SK (Saksi Kematian) Part 1 Sebuah kisah perjalanan gadis kecil yang menyaksikan penderitaan Ibunya, diperkosa dan dibunuh. Ibunya tewas di patuk ular berbisa dalam keadaan telanjang. Gadis kecil yang didorong Ibu tirinya sampai jatuh ke...
