Tidak habis pikir, jaman sudah Merdeka tapi masih banyak wanita tidak berdaya di dzolimi pria. Darahku mendidih menyaksikan semuanya. Setelah selesai mengubur mayat itu, Ujang pelan-pelan melepaskan pelukannya.
"Apa kita pulang saja Nul? kita laporkan pada Polisi," bisik Ujang pelan.
"Tidak! aku tidak mau pulang sebelum ketemu Siti! kalau Aa takut, pulanglah!" jawabku pelan.
"Ya baiklah, tapi di rumah itu banyak penjaga Nul, kita harus hati-hati, tunggu sampai mereka pergi atau lengah," ucap Ujang pelan.
Aku dan Ujang berjalan ke samping rumah rentenir mencari tempat yang aman untuk mengintip. Mendekati Subuh para penjaga itu ada yang pulang. Setiap jendela aku intip satu persatu, dan di belakang rumah jendela terakhir, aku mengintip banyak gadis yang sedang tidur di atas tikar. Aku berpikir keras tentang wajah Siti sekarang, bagaimana wajahnya sekarang, apakah masih sama saat dia berusia 7 tahun. Mungkin Siti saat ini berusia 13 tahun, semakin murka marahku pada Ayahnya Siti yang tega memberikan Siti pada rentenir.
"Nul, aku tahu kamu ingin menolong Siti, tapi bukan seperti ini caranya Nul, terlalu berbahaya, dan kita tidak membawa perlengkapan apa-apa untuk melawan mereka, sebaiknya kita pulang dulu, dari pada mati sia-sia dan tidak bisa menolong Siti, besok kita rencanakan lagi Nul," bisik Ujang di telingaku.
"Tunggu A, seperti ada yang keluar dari pintu kamar, mungkin dia akan ke kamar mandi," jawabku berbisik.
Aku dan Ujang memutar arah menuju sumur, aku pandangi gadis itu dari jauh, samar-samar bentuk wajahnya seperti aku kenal.
"Siti kamu mau mandi?" tanya pria yang tiba-tiba datang menghampiri Siti.
Ternyata Siti yang keluar, dia sudah menjadi gadis remaja, tubuhnya semakin berisi dan cantik.
"Tidak Kang, aku mau buang air kecil," jawab Siti.
"Ya sudah aku tunggu," jawab pria itu.
Setelah buang air kecil, Siti keluar dari bilik, pria itu langsung menghadang Siti.
"Tunggu dulu Siti, layani Akang dulu, Akang kangen," ucap pria itu pada Siti.
Siti hanya terdiam tidak berdaya, pria itu mendorong pelan tubuh Siti di pinggir tembok, dia mencium Siti dengan membabi buta, tangannya mulai nakal menggerayangi tubuh Siti dan menyibak sarung yang di pakai Siti. Darahku sudah mendidih sampai ke ubun-ubun, aku menoleh ke wajah Ujang terlihat tegang dan marah. Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, aku melesat cepat menghampiri Siti dan memukul keras tengkuk pria biadap itu. Ujang yang mengejarku membantu menghajar pria itu sampai pingsan.
"Siti ayo kita pergi dari sini!" bisikku pada Siti sambil menarik tangannya.
Siti mengikutiku dari belakang, aku menggandeng tangannya dan berhasil keluar dari area rumah rentenir.
"Kamu siapa?" tanya Siti sambil memandang wajahku dalam kegelapan.
"Aku Teteh Menul, ayo kita harus cepat berjalan agar tidak bisa di kejar pengawal rentenir itu!" jawabku.
"Teteh Menul? aku senang sekali kita bertemu lagi," ucap Siti nafasnya terengah-engah sambil berlari kecil.
"Nul, Siti akan di bawa kemana?" tanya Ujang.
"Kerumahku A, sementara Siti bersembunyi di rumahku dulu," jawabku.
Kami bertiga berjalan sangat cepat, kadang berlari, sampai di belakang rumahku, Siti aku naikkan ke jendela. Aku tidak berpikir panjang untuk menolong Siti. Ujang pamit pulang dan menyuruhku untuk berhati-hati.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Saksi Kematian (SK)
Mistério / SuspenseDewasa 18++ SK (Saksi Kematian) Part 1 Sebuah kisah perjalanan gadis kecil yang menyaksikan penderitaan Ibunya, diperkosa dan dibunuh. Ibunya tewas di patuk ular berbisa dalam keadaan telanjang. Gadis kecil yang didorong Ibu tirinya sampai jatuh ke...
