47. Special Chapter

7.2K 438 221
                                        

-Hold Up-



[Chapter ini Nochu buat sebagai ucapan minta maaf untuk chapter sebelumnya yang kurang panjang konfliknya, plus nyenengin kalian yang udah setia nemenin Nochu dari awal FF ini di publish 😊❤
Happy 1 Years 10 month Anniversary for HOLD UP! ❤
LOVE YOU ALL!— Nochu]

️ (Di chapter ini Nochu gak akan buat versi real life-nya Soonhoon kayak biasa, ini cuma fanfiksi imajinasi kalau Soonhoon bukan Soonhoon di kehidupan yang sekarang yang sekarang /ngomong apa sih;;; PLAK/ Semoga suka ya! Wufyu❤)

...

Let's Read!

Blue Bells Orphanage,

Seperti namanya, tempat ini sangat indah.

Penuh bunga-bunga berwana biru yang khusus di tanam di sana, aliran sungai yang jernih dan juga pepohonan hijau yang asri.

Panti Asuhan ini memang jauh dari pusat kota, malah termasuk panti yang letaknya cukup terpencil.

Bangunan sederhana yang cukup besar untuk bisa menampung dua puluh anak yatim piatu dan juga lima pengurus di sana selalu tampak berwarna setiap harinya.

Ada saja keceriaan yang mereka lukiskan untuk mewarnai hari-hari layaknya anak-anak yang mempunyai keluarga yang lengkap.

Namun di antara keceriaan itu, ada seorang anak yang selalu menyendiri di hari-harinya.

Lee Jihoon namanya.

Anak berusia lima tahun itu selalu bersama kesendiriannya kapan dan di mana saja.

Bukan karna anak-anak yang lain membencinya, namun hati dingin namja mungil itu terlalu beku untuk luluh dan di buka siapapun.

Dia benci semua yang ada di sini, bahkan dia benci kehadirannya di dunia ini.

Mereka,

Anak-anak itu, selalu bisa tertawa dan tersenyum ceria seakan tidak ada beban dan kesedihan di hidup mereka, namun Jihoon tidak pernah bisa melakukan hal yang sama.

Karna itu semua adalah kebohongan.

Ya, kebohongan untuk menutupi kesedihan  mereka.

Dan Jihoon sangat membenci kebohongan.

Memang tidak mungkin anak-anak seusia mereka akan paham dengan situasi yang mereka alami sekarang, namun berbeda dengan Jihoon.

Namja itu sudah mengenal paham akan rasa kesepian, kehilangan dan di bohongi itu.

Mata sipit nan tajam itu melirik sekali lagi kerumunan anak-anak yang sedang bermain di tengah hamparan salju putih.

Ya, Ini sudah musim dingin, tentu saja sudah turun salju.

"Tsk." Ia berdecih dengan wajah dinginnya, namun jika kita jeli untuk menelisiknya, ada tatapan sedih yang tersirat di sana.




...




"Hallo semuanya... Namaku KWON. SOON. YOUNG! Umurku enam tahun. Semoga kita semua bisa berteman, Senang berkenalan dengan kalian!"

Perkenalan singkat anak berusia enam tahun itu mencuri atensi seluruh anak-anak yang memenuhi ruang tengah itu, tak terkecuali beberapa pengurus yang berdecak gemas melihat tingkah anak itu.

Hold UpWhere stories live. Discover now