18

429 36 6
                                        

Yeorin.

Jimin tidak memulainya dengan perlahan. Mulutnya kuat dan menuntut.

Aku senang. Ini romantis. Ini nyata. Jimin juga menggunakan barbel lidahnya. Pada awalnya aku tidak menyadarinya tapi aku merasakannya. Jentikan lidahnya hebat dengan adanya benda itu. Aku suka merasakan sesuatu yang tidak bisa diraih.

Kedua tangannya menangkup wajahku. Ciumannya melambat dan Jimin menarik diri tapi tetap memegang wajahku dengan tangannya.

"Ikutlah ke atas denganku. Aku ingin menunjukkan kamarku." Jimin memberiku senyuman nakal. "Dan ranjangku."

Aku mengangguk dan Jimin menjatuhkan tangannya dari wajahku. Dia menyelipkan salah satu tangannya ke tanganku dan menautkan jemari kami kemudian diremasnya.

Tanpa berkata-kata, Jimin mengarahkanku ke tangga menarikku naik dengan lembut dan segera karena dia ingin segera tiba di atas. Saat kami tiba di lantai dua, Jimin mendorongku ke dinding dan menciumku dengan ganas, menjepit bibirku dan membelai lidahku. Jimin menyentak ke belakang dan mengambil napas dalam.

"Satu tangga lagi menuju lantai atas," ujarnya dengan suara parau dan menarikku kearah pintu di ujung lorong. Kami melewati kamarku dan Jimin berhenti sebentar.

Pada awalnya, ku pikir dia mungkin ingin menuju kesana tetapi Jimin tidak berhenti hingga kami mencapai pintu kecil di ujung lorong. Aku menduga ada tangga yang menuju kamarnya. Jimin menarik kunci untuk membukanya, kemudian membuka pintu dan memberi isyarat padaku agar mengikutinya.

Di ruangan tempat tangga itu berada terbuat dari kayu keras seperti sebuah tangga lain di rumah ini tapi disana ada dinding di satu sisi saat kami menaiki anak tangga selangkah demi selangkah. Saat aku sampai di ujung teratas tangga, aku membeku.

Pemandangannya sangat mempesona. Cahaya bulan yang menyinari lautan memberikan kamar sebuah latar belakang paling luar biasa yang bisa dibayangkan.

"Kamar ini adalah alasan mengapa aku meminta ibuku untuk membeli rumah ini. Meskipun saat itu aku baru berusia sepuluh tahun aku tahu bahwa kamar ini istimewa," bisik Jimin di belakangku membungkus pinggangku dengan lengannya.

"Ini sangat menakjubkan." Aku bernapas dengan suara pelan.

Aku merasa seolah berbicara terlalu keras akan menghancurkan momen ini.

"Aku menghubungi ayahku hari itu dan berkata padanya kalau aku menemukan rumah yang ingin aku tinggali. Dia mengirimkan uangnya melalui ibuku dan ibuku membelinya. Dia suka lokasinya jadi di rumah inilah kami menghabiskan waktu musim panas kami. Dia punya rumah sendiri di Seoul tapi dia lebih suka tinggal disini."

Jimin bercerita tentang dirinya. Keluarganya. Dia mencoba. Hatiku sedikit meleleh lagi. Seharusnya aku menghentikannya untuk membingkai dirinya di hatiku. Aku tidak ingin hatiku terluka saat semua ini berakhir dan Jimin pergi. Tapi aku ingin tahu lebih mengenai dirinya.

"Aku tidak pernah ingin pergi," balasku jujur.

Jimin mencium telingaku dengan lembut.

"Tapi kau belum melihat kabinku di Daegu atau apartemenku di Seoul."

Tidak, aku belum pernah dan aku tidak akan pernah melihatnya. Namun, aku bisa membayangkan dia berada di tempat-tempat itu. Aku sudah sering melihatnya di televisi bagaimana bentuk tempat itu.

Musim dingin ini aku bisa melihat dia menyalakan api di kabin yang besar di pegunungan dengan salju yang menutupi luar rumahnya. Atau bersantai di apartemennya yang mengarah ke pemandangan kota Seoul. Mungkin dari jendelanya dia bisa melihat pohon natal besar yang selalu dipasang setiap tahun.

Fallen Too Far (PJM)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang