38

245 30 1
                                        

-Yeorin-

“Aku akan bekerja di klub. Kita akan… umm… bertemu di lain kesempatan. Aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain tapi aku butuh uang dari klub.” Aku menjelaskan hal ini kepada diriku sama seperti aku menjelaskannya pada Jimin.

Aku tidak begitu yakin apa yang akan ku katakan saat aku muncul disini. Aku hanya tahu bahwa aku harus berhadapan dengannya. Pada awalnya Seonjoo telah memohon padaku untuk memberitahu Jimin tentang kehamilanku.

Akan tetapi, setelah Seonjoo mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku dan Hyunji dan ibunya, dia tidak berpihak lagi pada Jimin seperti sebelumnya. Seonjoo setuju bahwa tidak ada untungnya memberitahu Jimin mengenai apapun.

Mengumpulkan keberanian untuk kembali ke rumah ini setelah aku meninggalkannya tiga setengah minggu yang lalu adalah hal yang sangat sulit. Harapanku bahwa hatiku tidak akan bereaksi saat melihat wajah Jimin telah sia-sia.

Dadaku mengerut sangat parah sehingga suatu keajaiban bahwa aku masih bisa bernapas. Tidak perlu berbicara. Aku hamil bayinya, bayi kami. Tapi kebohongan. Penipuan. Siapa dirinya. Semua itu telah menahanku untuk mengucapkan kata-kata yang seharusnya dia dengar. Aku tidak bisa.

Itu salah. Aku telah menjadi seseorang yang egois. Aku tahu itu. Itu tidak akan mengubah apapun. Bayi yang aku kandung sekarang mungkin tidak akan pernah tahu tentangnya.

Aku tidak bisa membiarkan perasaaanku padanya mengaburkan tujuanku akan masa depanku atau masa depan anakku. Ayahku, ibunya dan adiknya tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupan anakku. Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak bisa.

“Tentu saja. Ya, bekerja di klub akan menghasilkan banyak uang.”

Jimin berhenti dan menjalankan tangannya di rambutnya.

“Yeorin, tidak ada yang berubah. Tidak bagiku. Kau tidak butuh izinku. Ini adalah yang benar-benar aku inginkan. Adanya kau disini. Melihat wajahmu. Ya Tuhan, Rin, aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak gemetar dengan adanya kau berdiri di rumahku sekarang.”

Aku tidak bisa melihatnya. Tidak sekarang. Aku tidak pernah mengira dia akan mengatakan semua hal itu. Percakapan yang kaku dan menegangkan menjadi lebih dari yang aku perkirakan. Itu adalah yang aku inginkan. Hatiku tidak bisa menerima yang lainnya.

“Aku harus pergi, Jim. Aku tidak bisa, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak masalah dengan adanya diriku di kota ini. Aku akan menjaga jarak.”

Jimin bergerak sangat cepat hingga aku tidak menyadari sampai dia berdiri antara aku dan pintu.

“Maafkan aku. Aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku mencoba untuk berhati-hati tetapi aku menghancurkannya. Aku akan berbuat lebih baik. Aku janji. Pergilah ke tempat Seonjoo. Lupakan apa yang barusanku katakan. Aku akan bersikap baik. Aku janji. Hanya saja… hanya saja jangan pergi. Kumohon.”

Apa yang akan kukatakan?

Jimin berusaha membuatku untuk menenangkannya. Untuk meminta maaf padanya. Jimin senjata mematikan bagi emosi dan akal sehatku. Jarak. Kami butuh jarak.

Aku mengangguk dan melangkah melewatinya.

“Aku akan… umm… mungkin akan bertemu lagi denganmu.” Aku berhasil mengeluarkan suara parau sebelum membuka pintu dan melangkah keluar rumah.

Aku tidak menoleh ke belakang tapi aku tahu dia melihatku pergi. Itu satu-satunya alasan aku tidak berlari. Jarak, kami butuh jarak. Dan aku butuh menangis.

.
.
.

Seolah dia tahu kalau aku datang. Aku sudah memutuskan akan langsung pergi ke ruang makan dan mencari Baekhyun.

Aku rasa Baekhyun tahu dimana menemukan Taehyung. Tetapi Taehyung telah menungguku di pintu saat aku membuka pintu masuk belakang klub.

“Dan kau kembali. Sejujurnya aku mengira kau tidak akan kembali,” Taehyung menggumam saat pintu tertutup di belakangku.

“Mungkin hanya sebentar,” jawabku.

Taehyung berkedip padaku dan menganggukkan kepalanya menuju ruangan yang mengarah ke kantornya.

“Ayo kita bicara.”

“Oke,” aku berkata sambil mengikutinya.

“Seonjoo sudah meneleponku dua kali hari ini. Dia ingin tahu apakah aku sudah bertemu dengan mu. Memastikan kau mendapatkan pekerjaanmu kembali,” Taehyung berkata sambil membuka pintu kantornya dan menahannya supaya aku bisa masuk kedalam. “Yang tidak kusangka adalah telepon yang baru saja ku terima sekitar sepuluh menit yang lalu. Itu mengejutkanku. Dari caramu melarikan diri dari sini tiga minggu yang lalu dan meninggalkan Jimin begitu saja, aku tidak mengira dia akan meneleponku untuk kepentinganmu. Dia tidak perlu melakukannya. Aku sudah setuju bahwa kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali.”

Aku berhenti dan melihat ke arahnya. Apakah benar yang kudengar darinya?

“Jimin?” Tanyaku, hampir takut bahwa aku berhalusinasi terhadap komentar itu.

Taehyung menutup pintunya kemudian berjalan dan berdiri di depan mejanya. Taehyung bersandar pada kayu berkilau yang terlihat mahal itu dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Senyum yang ada sejak aku datang telah hilang. Taehyung terlihat lebih khawatir sekarang.

“Ya, Jimin. Aku tahu kebenaran telah terungkap. Seokjin Hyung telah memberitahuku sebagian. Setidaknya hanya yang dia ketahui. Tapi kemudian aku tahu siapa dirimu. Atau yang disangka Jimin dan Hyunji sebelumnya. Aku memperingatkanmu soal Jimjn akan memilih Hyunji. Dia telah memilihnya saat aku memberimu peringatan. Apakah kau benar-benar ingin kembali ke semua ini? Apakah Paju begitu buruknya?”

Tidak. Paju tidak seburuk itu. Tetapi berusia dua puluh tahun dan hamil sendirian tanpa keluarga cukup buruk.

Bagaimanapun hal itu bukanlah sesuatu yang ingin aku ceritakan pada Taehyung.

“Kembali kesini tidak mudah. Melihat mereka, juga tidak mudah. Tapi aku perlu mengetahui apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kemana aku akan pergi. Tak ada yang tersisa bagiku di Paju. Aku tidak bisa berada disana dan berpura-pura ada yang kumiliki disana. Ini waktunya bagiku menemukan hidup baru. Dan Seonjoo adalah satu-satunya temanku. Pilihan tempat untukku pergi sedikit terbatas.”

Alis Taehyung bergerak naik.

Ouch. Lalu aku apa? Aku pikir kita teman.”

Tersenyum, aku berjalan dan berdiri di belakang kursi di seberang Taehyung.

“Kita teman tapi bukan teman dekat.”

“Bukan karena aku tidak mencoba yang terbaik.”

Aku tertawa kecil dan Taehyung menyeringai.

“Senang mendengar itu. Aku merindukannya.”

Mungkin kembali tidak akan begitu sulit.

“Kau mendapatkan pekerjaanmu. Itu milikmu. Aku punya masalah dengan cewek-cewek pembawa minuman dan Baekhyun Hyung masih merajuk. Dia tidak akrab dengan pelayan yang lain. Dia juga merindukanmu.”

“Terima kasih,” jawabku. “Aku menghargainya. Aku ingin jujur padamu. Dalam empat bulan, aku bermaksud untuk pergi. Aku tidak bisa tinggal disini selamanya. Aku punya…”

“Kau punya kehidupan yang harus kau cari. Yah, aku mendengarmu. Busan bukanlah tempat untuk menanam akarmu. Aku mengerti. Untuk berapapun lamanya, kau mendapatkan pekerjaan.”

.
.
.
To be continued.

Taehyungie so sweet sekali..

Fallen Too Far (PJM)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang