27

340 33 2
                                        

Yeorin.

"Jimin."

Jimin mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata. Aku tidak akan menghapusnya. Air matanya mewakili sebuah tujuan.

Aku berdiri dan melepaskan kancing kemejaku kemudian ku loloskan agar bisa aku meletakkannya diatas ranjang. Aku kemudian melempar braku ke sembarang arah. Mata Jimin tak pernah meninggalkan tubuhku.

Kebingungan di wajahnya dapat diduga. Aku tidak bisa menjelaskan hal ini. Aku hanya membutuhkannya.

Aku mendorong turun celana pendek yang kukenakan dan melangkah keluar dari celana tersebut. Kemudian melepaskan sepatuku dan perlahan melepas celana dalamku. Setelah aku benar-benar telanjang. Aku melangkah keatas mengangkangi kaki Jimin.

Tangannya segera membungkus di sekelilingku dan Jimin membenamkan wajahnya di perutku. Daerah yang basah oleh air matanya terasa dingin pada kulitku menyebabkan aku menggigil.

"Apa yang kau lakukan, Rin?" Jimin bertanya sambil sedikit menarik diri hanya agar dapat menengadah menatapku.

Aku tidak bisa menjawab.

Aku mencengkeram kemejanya dan menariknya hingga Jimin mengangkat tangannya dan membiarkanku menariknya terlepas melalui kepalanya dan melemparkannya ke samping.

Merosot, aku terduduk diatas pangkuannya, aku menyelinapkan tanganku ke belakang kepalanya dan menciumnya.

Perlahan.

Ini adalah terakhir kalinya. Tangan Jimin berada di rambutku dan dia segera mengambil alih. Setiap belaian lidahnya lembut dan santai. Jimin tidak lapar dan menuntut. Mungkin Jimin sudah tahu ini adalah hadiah perpisahan.

Ciuman ini tidak berarti harus keras dan cepat karena merupakan kenangan terakhir yang aku akan miliki bersamanya. Tentang kami. Satu-satunya kenangan yang tidak berisi kebohongan. Sekarang hanya kebenaran yang ada diantara kami.

"Apakah kau yakin?" Jimin berbisik di mulutku saat aku bergoyang melawan ereksi yang aku rasakan di bawah celana jinsnya.

Aku hanya sanggup mengangguk.

Jimin mengangkatku dan membaringkanku di atas tempat tidur sebelum melepaskan sepatu dan celana jinsnya. Jimin merangkak di atasku saat wajahnya yang berbayang mengamatiku.

"Kau adalah wanita paling cantik yang pernah aku lihat. Di dalam dan di luar." Bisik Jimin saat dia menghujani ciuman di wajahku sebelum menarik bibir bawahku ke dalam mulutnya dan kemudian dihisap.

Aku mengangkat pinggulku. Aku membutuhkannya di dalam. Aku akan selalu membutuhkannya di dalam tapi ini akan menjadi terakhir kalinya dia berada di dalamku. Ini dekat. Tidak akan ada yang pernah sedekat ini lagi. Tidak seorangpun.

Jimin menjalarkan tangannya menyusuri tubuhku meluangkan waktu untuk menyentuh setiap bagian. Seolah-olah Jimin sedang menghafalkanku. Aku melengkung ke dalam tangannya dan memejamkan mataku membiarkan rasa dari tangannya menandai diriku.

"Aku sangat mencintaimu." Jimin bersumpah saat kepalanya menunduk untuk mencium pusarku.

Aku membiarkan kakiku jatuh terbuka sehingga Jimin dapat bergerak diantaranya.

"Apakah aku perlu memakai kondom?" Tanya Jimin, bergerak kembali keatas tubuhku.

Ya, Jimin harus menggunakannya. Tidak boleh mengambil resiko. Lagi-lagi, aku hanya mengangguk.

Jimin berdiri untuk mengambil celana jinsnya dan menarik keluar sebuah kondom dari dompetnya. Aku melihatnya merobek pembungkusnya hingga terbuka kemudian diselipkannya dari ujung kepala kejantanannya hingga menutupi keseluruhan hingga pangkalnya. Aku tidak mencium dia disana, di kejantanannya. Aku pernah memikirkannya tetapi aku tidak memiliki keberanian. Sesuatu yang memang harus tetap tidak diketahui.

Fallen Too Far (PJM)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang