15. Shooting Range

6.6K 608 12
                                    

"Pak Raja itu—"

"Diam! Jangan sebut namanya!" hardik Gama, membuat Kirana terlonjak. Gama masih kesal setengah mati dengan kakak tirinya itu. Moodnya terjun bebas mendapati keberadaan pria itu di pemakaman. Dia tidak masalah ketika tahu Raja lebih dulu datang ke makam Cyntia, tapi ketika pria itu datang menghampirinya di restoran, emosinya kembali memuncak.

Kirana diam, menunduk tak berkutik. Lagi-lagi dia salah. Padahal tadi itu dia hanya ingin mengatakan Raja itu pria baik. Namun, hardikan Gama sontak membuatnya berpikir untuk tidak lagi menyebut nama pria tampan itu di hadapan bosnya. Dari awal jumpa, Kirana tahu hubungan keduanya tidak baik. Gama terlihat sangat membenci Raja. Hanya saja dia tidak melihat kebencian  yang sama di mata Raja. Jadi, mungkin saja bosnya yang memang arogan.

"Shooting range," ucap Gama memerintah supir di depannya.

"Baik, Pak."

Kirana bergumam dalam hati. Apa itu shooting range? Apa maksud Gama itu tempat syuting film? Jika benar, Kirana merasa beruntung. Bisa saja kan di sana dia bertemu artis. Tapi ... Bisa jadi juga Gama akan menemui pacarnya yang menjadi artis.

Mulut Kirana terbuka membayangkan itu. Mendadak dia penasaran, wanita seperti apa yang bisa bertahan dengan pria sejenis bosnya itu. Tampan sih, tapi galak. Tanpa sadar Kirana terkikik geli dengan pemikirannya sendiri.

"Ada yang lucu? Kenapa kamu tertawa?"

Suara berat Gama membuat tawa Kirana sontak terhenti. "Tidak ada, Pak," jawab Kirana cepat.

"Dasar perempuan aneh," gerutu Gama mendengus, pandangannya dia lempar ke jalanan yang tampak tidak terlalu ramai.

"Apa yang kamu pikirkan tentang saya?"

Hah? Kirana spontan menoleh mendapat pertanyaan itu tiba-tiba.

Gama mengalihkan pandang dari jalanan dan menatap Kirana. "Saya tidak bisa membaca isi kepala kamu. Jadi, saya bertanya. Apa yang kamu pikirkan tentang saya?"

Kirana tersenyum canggung. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana dia menjawab pertanyaan si bos? Segudang hal keburukan tentang Gama bersarang di kepala. Dan, apa yang bisa Kirana katakan? Kalau jujur, bukankah itu namanya bunuh diri?

Mata tajam Gama menyipit. "Saya tanya kenapa kamu malah cengar-cengir?"

"Saya bingung, Pak," sahut Kirana. "Kalau saya jujur pasti Bapak akan memecat saya."

Gama mendengus. "Kalau begitu tidak usaha kamu katakan," tandasnya kemudian. Ternyata wanita itu sama saja dengan pegawai lainnya. Gama pikir Kirana masih bertahan sebagai asistennya karena wanita itu menemukan sisi lain yang positif mengenai dirinya. Tapi sepertinya Gama salah menduga.

Begitu sampai di lokasi shooting range Gama langsung mengganti pakaian. Dia kembali dengan pakaian tembak lengkap.

Kirana yang mengira shooting range adalah tempat syuting para artis hanya bisa melongo ketika ternyata Gama membawanya ke sebuah lapangan tembak. Bahkan sekarang wanita itu melihat bosnya sudah bersiap dengan peralatan tembak.

Kirana berdiri saat melihat Gama mendekati area tembak. Gama bersama dengan seorang pelatih tampak sedang berbincang. Dan, tidak lama seseorang memberikan sebuah koper yang berisi revolver lengkap dengan peluru.

Pria itu terlihat makin tampan mengenakan perlengkapan menembak seolah-olah Kirana sedang melihat seorang atlet tembak profesional. Gama mengenakan topi hitam. Kacamata pelindung bertengger pada hidungnya yang bangir, di kepalanya terpasang earmuf melingkar hingga menutup telinga. Dari posisi Kirana berdiri, dia bisa melihat bos devil itu mulai mengangkat tangannya yang sudah memegang revolver.

The Devil inside YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang