64. Warga Kampung

4.9K 548 57
                                    

Ada yang nungguin nggak? Hehe sorry, ya, Gaes. Aku habis jalan ke Majalengka. Cari wangsit muehehehe 🤭

Selamat datang buat yang baru gabung. Jangan lupa follow authornya dulu dan pastikan like dan komen yaa di tiap chapternya. Teng kyu 😘

Baiklah, nggak usah lama-lama langsung baca lanjutannya aja, yak.

Happy reading ....

❤️❤️❤️

-

-

-

Minggu pagi, seperti izinnya kepada Gama, Kirana keluar dari rumah mewah itu. Dia diberi waktu bebas selama tiga jam untuk bertemu temannya. Teman yang dulu menjadi tetangga kosnya di kos Babe Jali. Dari sekian kos yang ada di kota besar, kos Babe Jali memiliki harga sewa cukup miring. Hanya 400ribu per bulan. Meski di tengah kampung yang terbilang kumuh, kosan itu bersih.

Kirana turun dari bajai di depan bangunan ruko-ruko. Di paling ujung ruko tersebut terdapat sebuah gang kecil sebagai pintu masuk kampung itu. Kampung yang konon sedang Raja incar untuk dibangun sebuah apartemen.

Begitu masuk, Kirana disuguhi pemandangan anak yang tengah berlarian. Terus melangkah ke depan disuguhi lagi pemandangan aktivitas penghuni kampung yang beragam. Ada yang sedang menjemur baju, momong anak, belanja ke tukang sayur keliling, dan masih banyak lagi.

Kirana mengukir senyum seraya menyapa para mantan tetangganya itu. Dia lanjut melangkah, dan masuk ke gang pertama, sekitar seratus meter, ada sebuah plang bertuliskan "Kos Babe Jali". Langkah Kirana makin bergegas. Dia tak sabar untuk menemui temannya di kos nomor lima lantai bawah.

Di depan kos-kosan itu tampak ramai.  Kirana tahu itu gerombolan Bang Udin, lelaki yang tinggal di kos nomor satu bersama teman-temannya.

"Bang Udin, Ayu ada enggak?" tanya Kirana sesampainya di depan kos Babe Jali.

"Eh, kamu Kirana, ya? Penghuni kamar nomor 4 dulu?" Bang Udin yang tengah menenteng gitar tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang agak kekuningan.

"Iya, Bang."

"Wah, pindah ke mana sekarang?  Pindah nggak pamit sama kita, tau-tau raib aja."

Kirana terkekeh. "Iya, maaf, Bang. Waktu itu dadakan banget soalnya."

"Kiran!" Sebuah suara dari arah kiri jalan memanggil.

Kirana dengan cepat menoleh dan mendapatkan Ayu tergopoh sembari menenteng kantong plastik.

"Ayu!" Keduanya sontak berpelukan ketika saling berhadapan.

"Loh, loh, kok aku nggak dipeluk, sih?" protes Bang Udin yang lantas ditertawakan teman-temannya.

"Siapa lo, Bang?"

"Ngarep!

Cibiran dari teman-temannya menyusul. Lalu mereka bersorak  kompak merundung Bang Udin yang cuma bisa nyengir sambil nyeletuk. "Namanya juga usaha."

Setelah berbasa-basi sedikit dengan Bang Udin dan teman-temannya, Ayu membawa masuk Kirana ke kosan.

"Aku tadi baru beli cemilan dan minuman tahu kamu mau datang," ujar Ayu mengeluarkan dua botol minuman dingin dan beberapa camilan.

"Harusnya nggak perlu repot, Yu. Aku kan ke sini mau ketemu kamu, kangen."

"Sama, ya ampuuuun!" Kembali mereka berpelukan.

The Devil inside YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang