17. Desiran

8.1K 587 15
                                    

Di Bab on fire ada revisi sedikit. Aku mendadak lupa sama scene Kirana tahu Gama dan Raja suadaraan.

Kirana terus memperhatikan perut Gama dengan tatapan ngeri. Dia teringat dengan sebuah santet yang bisa mengeluarkan benda tajam dari dalam tubuh manusia padahal manusia itu tidak pernah menelan apa pun selain makanan. Apa yang dialami Gama itu sejenis santet?

Namun, tonjolan berbentuk keris itu makin lama makin tak nampak. Kirana mendekat dengan mata mengerjap. Napas Gama tampak kembali teratur. Pria itu juga terlihat lebih tenang dari sebelumnya meskipun matanya masih terpejam.

"Pak, Bapak tidak apa-apa?" tanya Kirana melongok lebih dekat wajah sang bos. Keningnya mengernyit. "Apa dia tertidur?" Dengan hati-hati Kirana mengangkat tangan ke depan wajah Gama, lalu secara perlahan dia melambaikan tangannya itu.

Namun, Kirana terperanjat saat tiba-tiba saja mata tajam Gama terbuka. Dan tanpa bisa menghindar tangan perempuan itu langsung Gama cekal.

"Apa yang kamu lakukan, Bodoh?" tanya Gama ketus dan kasar seperti biasanya.

Kirana meringis kesakitan. Cekalan Gama pada pergelangan tangannya sangat kuat. "Maaf, Pak. Tadi saya hanya memastikan Bapak tidur atau tidak," cicit Kirana takut-takut.

Gama memicingkan mata dan tersadar di depannya bukanlah makhluk menjijikan tadi melainkan asistennya. Perlahan Cekalan Gama mengendur. Pandangannya sedikit turun ke bawah dan jatuh tepat pada dua buah benda berbentuk bulat pada bagian tubuh atas asistennya. Posisi Kirana yang membungkuk di depannya membuat Gama dengan jelas melihat belahan dada Kirana yang... Shit! Gama akui begitu terlihat indah. Gama segera mengalihkan pandang dan melepas cekalan. Wajahnya terasa panas hingga ke telinga.

"Pakai bajumu kembali," ucap Gama dengan jakun naik turun.

Kirana mengerjap mendengar perintah si bos. Apa otak pria itu kembali waras sehingga menyuruhnya mengenakan pakaian lagi? Atau bikini yang Kirana pakai terlihat jelek di tubuhnya?

"Sa-saya ganti baju lagi, Pak?"

"Iya, kamu tuli?!" sentak Gama membuat Kirana melonjak. "Bikini itu nggak cocok buat kamu. Tubuh kamu biasa saja," lanjutnya mengejek.

Kirana menganga tak percaya. Gama bilang apa tadi? Tubuhnya biasa saja? Kirana akui dia tidak memiliki tubuh sempurna. Tidak tinggi seperti model-model atau artis bintang film. Tapi tidak seharusnya Gama menghinanya seperti itu. Kirana memberengut kesal lalu memutar badan dan beranjak melangkah meninggalkan Gama.

Kirana tidak sadar jika dari belakang Gama memperhatikan gerakan pinggulnya sembari menelan ludah.

Awalnya Gama hanya ingin mengerjai perempuan itu saja. Berenang menggunakan bikini. Gama juga tidak memiliki reaksi yang berarti saat melihat tubuh asisten itu yang berbelut kain minim itu.

Namun, ketika jaraknya dengan Kirana terlampau dekat dan tanpa sengaja matanya bertatapan langsung dengan belahan dada Kirana yang bulat, tubuhnya bereaksi lain. Sebagai seorang pria normal dia merasakan dadanya berdesir dan hawa panas seketika menjalar ke tubuh. Reaksi seperti ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan ketika dia jatuh cinta sekali pun.

Mata tajam Gama masih memperhatikan tubuh belakang Kirana yang melenggang. Kembali dia melihat sebuah tato di belakang pundak kanan wanita itu. Jika tidak salah lihat, tato berwarna kecokelatan itu membentuk sepasang bunga atau entahlah, Gama tidak melihatnya dengan jelas.

Gama sudah kembali berpakaian saat Kirana kembali menemuinya. Wanita itu pun sama, blouse berwarna salmon lengan panjang serta pencil skirt kembali membungkus tubuhnya.

"Sekarang Bapak mau ke mana?" Kendati masih merasa dongkol akibat insiden kolam renang tadi, Kirana harus bersikap profesional saat kembali bekerja.

"Pulang," jawab Gama singkat.

The Devil inside YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang