Yuk gaskeun vote-nya. Jangan lupa follow authornya dan juga baca cerita-ceritanya yang lainnya. Makasih 🥰
Happy reading
❤️❤️❤️
Sungai penuh bebatuan itu memiliki air jernih. Alirannya lumayan deras, meskipun airnya dangkal. Ada beberapa orang yang juga tengah memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian.
Seumur-umur Gama baru melihat pemandangan itu. Para wanita hanya mengenakan kain yang melilit tubuhnya. Mereka mengobrol dengan bahasa yang tidak Gama pahami, sesekali obrolan mereka diselingi tawa renyah.
"Bayu! Iku sopo? Ndak mbok kowe kenalke?" tanya salah seorang wanita yang sedang mencuci baju di atas bebatuan.
"Sing iki ojo diganggu, Yu. Wis ono sing nduwe," sahut Bayu.
"Sopo? Mbakmu yo?"
"Kepo."
Wanita-wanita itu lantas tertawa. Mata mereka tak hentinya mencuri pandang kepada Gama yang tengah mandi di sebuah mata air.
Kirana yang duduk di atas sebuah batu hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka. Seandainya wanita-wanita itu tahu bagaimana perangai Gama sebenarnya, Kirana yakin tingkah mereka tidak akan secentil itu.
"Kirana!"
Kirana menoleh dan menemukan Gama yang bersembunyi di balik batu besar. Kepala lelaki itu melongok dari sana. "Handuk."
Wanita itu segera turun dari bebatuan dan menghampiri Gama. Dia mengangsurkan tas plastik yang dia bawa kepada lelaki itu.
"Handuknya di plastik ini, Pak."
"Bisa kamu ke sini saja dan membantu saya?"
Kirana menghela napas. "Lelaki itu benar-benar manja." Kakinya melangkah dengan hati-hati turun ke air. Lalu pelan-pelan mendekati Gama.
Di balik batu besar Gama hanya mengenakan celana panjang saja. Atasannya sudah lelaki itu tanggalkan.
"Kamu bawa pakaian ganti juga?" tanya Gama menerima handuk dari Kirana.
"Di plastik ini ada celana kolor milik bapak saya. Mungkin pas buat Pak Gama." Kirana kembali menyodorkan tas plastik itu.
"Oke, kamu pegang dulu. Saya mau buka celana."
Lagi-lagi Gama hendak bertindak mesum di depannya. "Astaga, Pak. Jangan di depan saya juga bukanya."
Tangan Gama yang hendak menurunkan resleting celananya menggantung. Dia lantas beringsut dan bersembunyi di balik batu besar. Di sana dia menanggalkan celananya.
Beberapa saat setelahnya, Kirana melihat tangan Gama muncul dari balik batu.
"Mana kolornya, Kirana?" tanya lelaki itu, menjulurkan tangan.Kirana mengambil kolor dari tas plastik dan menaruhnya di tangan Gama. Sambil menunggu lelaki itu mengenakan kolor, Kirana menyapu pandangan ke sekeliling sungai. Betapa masih sangat alaminya lingkungan pedesaannya ini. Keindahan alamnya membuat Kirana selalu merindu. Jika ada pekerjaan yang menjanjikan di daerahnya, tentu Kirana lebih menyukai untuk tetap tinggal dan membersamai orang tuanya.
"Kirana celana kolor ayah kamu terlalu pendek."
Serta merta Kirana menoleh dan mendapati Gama yang sudah mengenakan kolor ayahnya. Kolor itu tampak kekecilan dipakai tubuhnya yang tinggi besar. Bahu Kirana sedikit terguncang, berusaha menahan tawa.
"Nggak ada celana yang lebih panjang?" tanya Gama melihat bagian bawah tubuhnya.
"Itu celana kolor panjang yang bapak punya. Kalau Pak Gama pakai punya Bayu, paling cuma nyangkut di paha nantinya." Segera Kirana menutup mulutnya, mencegah tawanya meluncur. Gama bisa marah kalau dia menertawakannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil inside You
Romance"Kamu pikir, kamu itu siapa?! Berani sekali mengatur hidupku." Gama menatap tajam, penuh intimidasi kepada wanita yang kini terpojok dengan bibir bergetar. "Kamu itu cuma asisten! Aku ingatkan sekali lagi posisimu. Kamu itu cuma asisten!" bentak G...