Rumah sepi saat Kirana datang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan si Mbok yang biasanya ngoprek apa pun di dapur. Kaki Kirana terayun menaiki tangga. Tiga jam yang terasa lama, padahal sebelumnya sangat Kirana nantikan. Mungkin karena waktu tiga jam dihabiskan dengan orang yang tidak dia inginkan. Siapa sangka jika hari ini dia bertemu dengan Raja.
Oh iya, lelaki itu menurunkan Kirana sekitar sepuluh meter dari jarak rumah Gama, lalu mobilnya lurus dan putar balik keluar wilayah perumahan. Dia benar-benar tidak mampir.
"Belum mampir pasti aku sudah diusir," katanya seraya terkekeh.
Alih-alih menuju kamarnya, dia berbelok ke kamar Gama ketika sampai di lantai dua. Tangannya sempat mengetuk pintu dua kali sebelum mendorong papan itu. Kosong. Hanya ada suara jendela kamar yang berderit. Saat mengetuk kamar mandi pun tak ada sahutan. Dia lantas keluar dan beranjak ke kamarnya. Di sana dia menyimpan paper bag pemberian Raja, sebelum kembali turun menapaki tangga.
Dia mengutak-atik ponsel berniat menghubungi Gama, ketika telinganya mendengar kecipak air di halaman samping rumah. Langkahnya lantas berbelok menuju ke sana. Tempat di mana kolam renang berada.
Di sebuah meja bundar beratap payung, dekat dengan kursi santai ada minuman dingin dan beberapa camilan. Kirana mendekat, dan menyapukan pandangan, menyisir air kolam yang berwarna biru. Airnya beriak, tanda ada seseorang yang bergerak di sana.
Di ujung kolam, dia melihat bosnya tengah menari di dalam air, sesekali kepalanya menyembul, lalu tenggelam lagi. Dua lengannya bergerak saling berganti, maju dan mundur.
Kirana beranjak duduk di kursi santai melihat pemandangan indah di kolam renang sana. Sedikit terpana melihat kepiawaian Gama bergumul dengan air. Lelaki itu memang menyebalkan, sangat berbeda dengan Raja yang friendly. Namun, entah kenapa dia lebih suka dan nyaman berlama-lama dengan Gama.
"Sudah pulang rupanya."
Kirana terkesiap ketika tahu-tahu Gama sudah keluar dari kolam. Seluruh tubuhnya basah. Bulir-bulir air menetes memenuhi setiap jengkal kulitnya. Langkahnya lantas bergerak mendekati tempat handuknya berada.
"Asik, ya, di luar. Bebas," ucap lelaki itu sarat akan sindiran.
"Kan Mas sendiri yang mengizinkan," sahut Kirana menunduk memainkan ujung ponselnya.
"Jadi, apa hasilnya?" tanya Gama lalu mendekati meja dan meraih gelas minum yang tersedia di sana.
"Hasil apa?" Memangnya Kirana habis ngapain?
"Hasil pertemuan kamu sama teman kamu. Apalagi?"
"Ooh. Dia ... dia sedih." Ah, Kirana menyesal tidak banyak menghabiskan waktu bersama Ayu, malah lebih banyak bersama Raja. "Dia dengar gosip kampung itu akan digusur."
"Memang kamu nggak bilang sama temanmu itu kalau penggusuran itu nggak akan pernah terjadi?" Setelah mengeringkan badan, Gama lantas duduk di salah satu kursi yang menghadap meja bundar.
"Sudah, sih, Mas. Tapi dia tetap saja cemas. Katanya ada orang-orang yang sudah menemui kepala kampung mereka buat nego harga. Kalau warga asli banyak yang setuju dengan nilai yang orang-orang itu tawarkan, mereka yang cuma ngontrak atau ngekos mau nggak mau harus mencari tempat tinggal baru," jelas Kirana, dengan mimik prihatin.
"Apa susahnya? Tinggal pindah aja."
Kirana mendesah. Orang kaya memang mudah bicara. "Mencari tempat murah dan nyaman itu susah Mas di kota besar seperti Jakarta."
Gama mengangguk, mencoba memahami, meskipun dia sedikit aneh karena ada orang yang mau bertahan di perkampungan kumuh itu.
"Mau renang bersama?" tanya Gama dengan pandangan usil. Bola matanya bergerak memindai tubuh Kirana.
Wanita yang hari ini mengenakan kemeja baby pink disambung celana jin panjang itu sontak merapatkan dua kaki.
"Bikini waktu itu masih kamu simpan, kan?"
Kirana buru-buru berdiri. "Saya mau istirahat." Dia lalu lari terbirit-birit dari sana sebelum Gama memaksanya melakukan hal yang tidak-tidak.
***
"Bodoh! Kerjaan kalian apa saja? Mengurus hal begini saja tidak becus!"
Gama melempar dengan keras laporan yang baru saja dia baca ke atas meja.
"Percuma saya memiliki dua sekretaris, tapi bodoh semuanya!" Telunjuknya terangkat, dan menuding dua sekretarisnya berganti. "Kalian berdua wajib lembur selama satu minggu full. Tidak ada penolakan dengan alasan apa pun."
Lita dan Maria, sekretaris 1 dan 2, masih menunduk, berdiri di depan Gama. Sudah hampir satu jam Gama mengomel, kata-kata kasarnya terus mengudara di hadapan dua wanita itu.
Kirana di balik meja kerjanya hanya bisa memejamkan mata ketika Gama membentak dan menghardik tanpa ampun. Lelaki itu jika sedang marah benar-benar mengerikan.
"Makanya kerja itu pake otak, nulis pake tangan, jeli punya mata, jangan cuma buat melihat drakor dengan fasilitas wifi kantor! Kalian sudah berapa lama kerja, masa bikin laporan gini aja nggak bisa?!"
Gama belum lelah mengomel, dia berkacak pinggang di depan dua wanita itu, bahkan Maria sudah berlinang air mata.
"Nggak usah nangis! Kamu pikir laporan ini akan selesai sama tangisan kamu?!" Kembali Gama menghardik.
Ya Tuhan, Kirana juga merinding melihat muka Gama memerah. Lelaki itu meledak-ledak seperti orang kesetanan.
"Keluar kalian berdua," usir Gama menurunkan nada bicaranya.
Lita dan Maria buru-buru keluar dari ruangan itu setelah sebelumnya menyambar dokumen yang tadi sempat Gama lempar.
"Kirana, buatkan aku kopi gula aren," ucap Gama seraya mengusap wajah. Dia beringsut ke sofa dan menjatuhkan diri di sana.
Sementara itu, Kirana dengan gerakan cepat langsung menuju mini bar mematuhi perintah Gama, membuat kopi. Dia cukup pandai menggunakan mesin kopi, sehingga tidak membutuhkan waktu lama kopi pesanan Gama sudah tersedia di atas meja.
Gama menghidu aroma kopi buatan Kirana. Matanya yang tadi sempat memejam bergerak membuka. "Udah?"
"Iya, Pak. Ada hal lain yang Bapak ingin?" tanya Kirana sebelum bergerak mundur.
"Kamu bisa memijat kepala? Rasanya kepalaku mau meledak saja."
Bagaimana tidak? Satu jam dia terus saja mengomel tanpa henti. Kirana yakin sekarang peredaran darah di kepalanya terganggu.
"Bisa, Pak." Kirana beringsut berdiri di belakang Gama duduk.
Lelaki itu menengadahkan kepala lalu memejamkan mata ketika dua tangan Kirana mulai bekerja.
Kirana melakukan gerakan memutar pada pelipis Gama. Lalu tangannya sedikit meremas rambut lelaki itu.
"Agak tekan sedikit," pinta Gama ketika tangan Kirana melakukan gerakan meremas pada rambutnya.
Kirana menurut saja, dia menekan agak keras hingga Gama mengerang. Bukan mengerang kesakitan, melainkan mengerang keenakan.
"Apa ini sudah cukup?" tanya Kirana, mulai tak nyaman. Tenaganya terkuras hanya karena memijat kepala lelaki itu.
"Belum. Kamu mau ngapain kenapa buru-buru? Pijat terus lagi. Tenagaku habis gara-gara mengomel dua wanita bodoh tadi. Awas saja kalau mereka melakukan kesalahan lagi, aku geser posisinya dengan staf lain."
"Setiap orang pernah salah, Pak," celetuk Kirana. "Lagi pula mereka juga sudah minta maaf dan akan memperbaiki. Jadi, kenapa Pak Gama repot-repot mengomeli mereka? Itu hanya akan membuat energi negatif Bapak lebih besar."
"Sejak kapan kamu punya hak bicara panjang lebar begitu?"
Kirana mengatupkan bibirnya seketika. Akan sangat bahaya jika Gama kembali mengamuk.
________
Kalo bab ini bisa tembus 200 vote, aku up lagi hari ini. 😉 Lo jual, gue beli.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil inside You
Romance"Kamu pikir, kamu itu siapa?! Berani sekali mengatur hidupku." Gama menatap tajam, penuh intimidasi kepada wanita yang kini terpojok dengan bibir bergetar. "Kamu itu cuma asisten! Aku ingatkan sekali lagi posisimu. Kamu itu cuma asisten!" bentak G...