97. Menara Petronas

4.1K 616 103
                                    

Aku tahu pembaca Gama-Kirana itu aslinya banyak, cuma nggak tau kenapa pada malas vote. Makanya aku tantang 500 vote, nyatanya bisa kan? Bab-bab berikutnya aku harap bisa lebih semangat lagi, Gaes.

Ayolah, c'mon bikin aku semangat nulis. Vote itu gak bayar kok. 😆

Big thanks buat teman-teman yang jempolnya mau goyang di sini. 😘

"Hanya dua menara kembar, Kirana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hanya dua menara kembar, Kirana. Dari sini kan juga kelihatan."

Sumpah ya, Kirana kesusahan sekali membujuk Gama pergi jalan-jalan keluar. Pria itu malah asyik bermain games sambil ngopi di teras balkon kamar.

"Aku mau liat lebih dekat, Mas. Pengin foto di sana juga."

"Kamu bisa berdiri di sana, nanti aku fotoin. Bagus kan background-nya."  Gama menunjuk ke arah pagar pembatas balkon.

Kirana menggeram. Wajahnya berubah masam. "Kalau begitu biar aku jalan-jalan sendiri," ujarnya lantas bergerak masuk lagi.

Gama yang tengah menyeruput kopi, segera memutar badan. "Kirana, jangan jalan sendiri. Ini negara orang."

"Yang penting happy!" seru Kirana dari dalam kamar.

Gama melepas napas dan dengan terpaksa bangkit berdiri.

Menara yang pernah dinobatkan menjadi menara tertinggi pada tahun 1998-2004 itu kini menjulang di hadapan Kirana. Menara kembar Petronas salah satu ikon Malaysia yang wajib dikunjungi. Memiliki 88 lantai dan jembatan udara yang menghubungkan dua menara.

Kirana tidak berhenti berdecak kagum. "Tinggi sekali...."

"Bukannya gedung tinggi di Jakarta banyak? Gedung Gama Sakti misalnya," sahut Gama ikut mengarahkan pandang ke menara yang seakan menantang langit itu.

"Beda dong, Mas. Boleh naik ke sana enggak?" tanya Kirana mulai ngadi-ngadi.

"Rasanya sama saja seperti kita lagi di kantor, Kirana."

"Mas, sekali-kali. Boleh, ya," bujuk wanita itu seraya mengayun-ayunkan lengan suaminya. Dan Gama dengan mudahnya memenuhi keinginan Kirana. Susah sekali saat sudah melihat mata bening Kirana berkaca-kaca seperti itu.

"Ya Tuhaaan.... Indah banget kota Kuala Lumpur diliat dari atas gini, Mas," seru Kirana saat dirinya melewati jembatan udara di lantai 41 gedung.

Gama di sampingnya tampak biasa saja, tidak ada rasa takjub sama sekali pada wajahnya.

"Mas kalau ada orang jatuh ke bawah sana selamat nggak ya, kira-kira?"

Pertanyaan Kirana terdengar bodoh, Gama sampai harus melirik sebal pada wanitanya itu.

"Menurut kamu?"

Kirana nyengir. "Pulang cuma tinggal nama nanti."

"Tuh tau! Dah, yuk. Kita turun dan cari makan siang. Perutku sudah lapar. Lagi pula di sini panas banget, aku nggak mau kulit kamu terbakar." Gama menggaet tangan Kirana dan menariknya menyeberangi jembatan hingga sampai pada gedung satunya. Mereka turun dari sana.

The Devil inside YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang