24. Devil Boss

6.1K 540 23
                                    

"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan sampai kamu menyesal. Kalau bukan karena ayah yang selalu mencarimu aku juga malas menemui kamu." Bibir Raja menyeringai. "Dan juga ... Kirana. Sepertinya aku mulai tertarik dengan asistenmu itu."

Mata tajam Gama melebar. Hal yang membuatnya kesal setengah mati pada kakak tirinya itu sikap pria itu terhadap wanita yang ada di sekitar Gama. Setelah Cyntia dan Silvana, apa pria itu pikir Gama akan membiarkan Kirana juga jatuh ke tangannya? Mimpi saja.

"Sebaiknya urus tunanganmu. Dan nggak perlu mengusik apa yang ada di sekitarku."

Raja tersenyum seraya berdiri. Dia membenarkan jasnya. "Kamu sangat tahu kalau aku tidak mencintai Silvana. Pertunangan kami murni bisnis. Jadi—"

"Aku nggak akan membiarkan kamu menyakitinya." Gama mengetatkan rahang, menggeretakan gigi-gigi di rongga mulutnya, menahan kesal. "Sekali kamu menyakitinya, aku akan bikin kamu menyesal," ancam Gama penuh kebencian. Dia ingin teriak dan mengumpat.

"Wow, aku takut sekali dengan ancamanmu, Adikku. Bagaimana kalau aku menukar Silvana dengan asistenmu? Kamu tertarik? Bukannya kamu masih mencintai Silvana?"

Kalimat yang diucapkan penuh penekanan oleh Raja membuat Gama tidak bisa lagi menahan emosi. Dia bergerak maju dan hendak melayangkan pukulan. Namun, seolah tahu apa yang akan Gama lakukan, Raja berhasil  berkelit.

Pukulan Gama hanya mengenai udara. Berkat itu juga, dia terhuyung dan terperenyak ke atas sofa lantaran Raja mendorong punggungnya dari belakang.

"Sebaiknya kamu belajar menahan emosi. Agar tidak lengah ketika lawanmu sedang memperdaya dirimu," pungkas Raja sebelum beranjak pergi dari ruangan Gama.

Raja pintar menyulut emosin, itulah sebabnya Gama jarang bisa menembus apa yang pria itu pikirkan. Di kondisi tertentu, ketika emosinya menggelegak seperti sekarang, dia akan kehilangan kemampuan membaca pikiran lawan.

Gama duduk seraya mengusap wajah berulang kali. Menarik napas dalam dan melepasnya dalam satu kali hembusan.

"Tuan nggak akan pernah mengalahkan Raja kalau masih seperti ini terus jika berhadapan dengannya."

Suara Sukma menggema di setiap sudut ruangan sementara sosoknya entah berada di mana.

"Dia sudah kalah asal kamu tahu, Sukma," desis Gama jengkel.

Tawa Sukma menggelegar. "Dalam hal karir mungkin iya. Raja bisa bertahan karena ayah Tuan, tapi dalam hal cinta ... hmm sayangnya masih belum berhasil mengalahkan Raja"

Sial! Bahkan penjaganya sendiri mengejeknya.

"Anda tahu? Sekarang Raja sedang bicara dengan Nona Kirana. Kalau Anda tidak bisa mengambil simpati Nona Kirana lebih dulu, bisa-bisa Nona Kirana memutar langkah dan berpaling pada saudara tiri Anda itu."

Gama tidak suka mendengar laporan Sukma. "Memangnya aku peduli? Aku juga tidak terlalu butuh dia."

"Benar kah? Kalau begitu jangan salahkan saya jika hari itu terjadi." Masih dengan suara kalem Sukma menjawab.

"Itu nggak akan pernah terjadi. Raja nggak mungkin menyukai wanita biasa seperti Kirana. Aku sangat tahu seleranya." Kedua tangan Gama mengepal ketika mengatakan itu. Sementara itu tawa Sukma menggelegar.

"Itu tidak akan masalah bagi dia sekarang, Tuan. Selama itu bisa membuat Anda terpuruk, itu yang dia inginkan."

Gama makin mengeratkan kepalan tangan. Dua alisnya menukik. Yang penjaganya katakan itu benar. Raja hanya ingin melihat dirinya terpuruk. Dia tidak bisa mengalahkan Gama dalam hal bisnis, maka dia menaklukkan Gama dengan cara lain.

The Devil inside YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang