"Kamu pikir, kamu itu siapa?! Berani sekali mengatur hidupku."
Gama menatap tajam, penuh intimidasi kepada wanita yang kini terpojok dengan bibir bergetar.
"Kamu itu cuma asisten! Aku ingatkan sekali lagi posisimu. Kamu itu cuma asisten!" bentak G...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kirana melonjak kaget saat tiba-tiba saja Raja muncul di depan kelasnya. Pria itu meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, lantas menarik tangan Kirana agar bergerak menjauhi kelas.
Wanita yang baru saja menyelesaikan kelas terakhir itu bingung. Langkahnya tersaruk-saruk mengikuti langkah panjang Raja.
"Pak Raja, tolong lepaskan tangan saya," seru Kirana.
Tidak berapa lama langkah mereka akhirnya berhenti di lorong yang agak sepi.
"Maaf, Kirana. Aku terpaksa melakukan ini. Aku nggak tau bagaimana lagi cara agar bisa menemui kamu," ucap Raja dengan raut bersalah.
Meskipun cara lelaki itu salah, Kirana berusaha memahami. "Jadi, apa mau Pak Raja? Saya nggak mau ada masalah lagi antara Pak Raja dan Pak Gama. Kejadian di kantor waktu itu saya harap nggak akan pernah terulang lagi."
"Aku hanya mau bicara sama kamu, Kirana. Kamu nggak pernah mengangkat teleponku."
Bagaimana dia bisa mengangkat telepon dari Raja jika pria itu menelepon selalu pas saat Gama berada di sampingnya?
"Maaf. Tapi memang saat Pak Raja telepon waktunya tidak pernah tepat."
"Jadi, di waktu apa aku bisa menelepon kamu?"
Kirana tidak menjawab. Dia kebingungan. Pasalnya Kirana juga tidak bisa menentukan waktu yang pasti.
"Saya akan mengangkat telepon dari Pak Raja kalau pas tidak ada Pak Gama di samping saya. Saya harap Pak Raja bisa paham."
Pria bertubuh tegap itu terlihat menghela napas. "Apa kamu nyaman hidup seperti ini, Kirana?"
Alis Kirana menyatu. "Maksud Pak Raja?"
"Hidup di bawah perintah dan tekanan dari Gama. Apa kamu nyaman?"
Kirana kembali diam. Hidup Kirana tidak seperti yang lelaki itu bayangkan. Mungkin dulu begitu, tapi sekarang semua baik-baik saja setelah ikatan pernikahan menyatukannya dengan Gama.
"Saya baik-baik saja, dan sejauh ini saya merasa nyaman, Pak. Jadi, Pak Raja tak perlu khawatir. Ada lagi yang ingin Pak Raja sampaikan?" tanya Kirana tetap bersikap tenang. Padahal dalam hati dia sudah gusar, takut Gama sudah menunggunya.
"Kamu yakin? Sudah sering aku bilang kalau aku bisa bantu kamu keluar dari kungkungan Gama, kan?"
"Tapi, Pak. Saya beneran baik-baik saja." Astaga, harus dengan cara apa lagi agar lelaki itu bisa mengerti? "Baiklah, kalau nggak ada yang ingin Pak Raja sampaikan lagi saya permisi."
"Kirana, tunggu."
Kirana hampir saja beranjak pergi, tapi Raja dengan cepat mencegahnya.
"Bagaimana dengan perasaanku?" tanya lelaki itu. "Aku menyukai kamu, Kirana."