"Tapi, Pak. Permainan ToD mana seru kalau cuma berdua?"
Gama tampak menghela napas mendengar pertanyaan Kirana lagi. Dia menatap bosan perempuan di hadapannya. "Kamu mau saya memanggil semua staf agar datang ikut main?"
Kirana meringis canggung dan menggeleng. "Nggak, sih."
"Ya udah jangan bawel." Gama menarik sebuah pena yang tersemat di saku kemejanya. "Kita akan gunakan ujung pena ini sebagai petunjuknya," ujar Gama, pandangannya lantas melirik ke arah pantri. "Kamu mau ikut, Sukma?" tanya Gama, tanpa peduli ada Kirana di hadapannya.
"Suk-Sukma?" cicit Kirana, menegakkan badan, lalu kepalanya celingukan. Dia sedikit takut, teringat kejadian Bu Sulis tempo hari.
"Sebaiknya Anda tidak melibatkan saya. Nona Kirana sudah mulai ketakutan," sahut Sukma yang tengah tidur dengan posisi miring. Sebelah tangannya menyangga kepala.
Gama melirik wanita di depannya. "Kita mulai sekarang saja," ucapnya, mengalihkan perhatian Kirana.
Wanita itu mengangguk, lalu memperhatikan bagaimana tangan besar Gama memutar penanya. Sekali sentak, pena itu berputar dengan cepat, dan lama-lama bergerak pelan, sebelum ujung pena itu tepat menunjuk ke arah Kirana.
Tidak seperti Gama yang menyeringai puas, Kirana terlihat terkejut melihat ujung pena itu mengarah padanya.
"Truth or dare?" tanya Gama menyeringai.
Entah mengapa, Kirana merasa ini cuma akal-akalan Gama saja yang ingin mengerjainya.
"Dare," jawab Kirana. Truth atau dare bagi Kirana sama-sama berbahaya.
"Good choice." Gama mengangguk, lalu tampak berpikir.
"Jangan aneh-aneh loh, Pak."
"Nggak, saya akan memberi tantangan yang mudah." Gama tersenyum, menatap Kirana. "Saya yakin kamu bisa melakukannya."
Perasaan Kirana mulai tak enak.
"Cium saya," ucap Gama tanpa beban.
Sangat kontras dengan reaksi Kirana yang terperanjat mendengar permintaan aneh itu.
"Saya kan minta nggak aneh-aneh, Pak."
"Mencium saya bukan hal yang aneh. Kamu juga pernah melakukannya."
Mata Kirana membulat, lalu tiba-tiba pipinya memerah tanpa alasan. "Itu kan karena—" Sial! Dia benar-benar dikerjai. Kirana beranjak berdiri. "Maaf, Pak. Kerjaan saya banyak," katanya lantas beranjak.
"Hei, mau ke mana? Kamu nggak bisa kabur begitu dong, Kirana. Kamu halus melakukan tantangan itu dulu."
"Tantangan Bapak nggak masuk akal."
"Nggak masuk akal bagaimana? Kamu cuma diminta mencium saya, nggak masuk akalnya di mana?"
Kirana menatap Gama kesal dari balik mejanya. Lelaki itu sedang berusaha mesum lagi. Kirana tidak peduli dan kembali menekuri berkas yang tadi sedang dia sortir.
"Kalau kamu nggak mau melakukannya, biar saya saja yang melakukannya. Bagaimana?" tanya Gama seraya berdiri dan berjalan menghampiri meja wanita itu.
"Bapak salah minum obat apa gimana? Lebih baik Bapak siap-siap untuk meeting dengan kepala bagian produksi dan pemasaran."
Gama berdecak, lantas mengintip Rolex di pergelangan tangannya. "Masih ada tiga puluh menit lagi. Kamu jangan lari dari masalah dong."
Kirana mengarahkan bola mata ke atas, dan kembali menatap bosnya dengan pandangan bosan. "Saya nggak mau mencium Bapak," tekan Kirana sekali lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil inside You
Romans"Kamu pikir, kamu itu siapa?! Berani sekali mengatur hidupku." Gama menatap tajam, penuh intimidasi kepada wanita yang kini terpojok dengan bibir bergetar. "Kamu itu cuma asisten! Aku ingatkan sekali lagi posisimu. Kamu itu cuma asisten!" bentak G...