25. Gemuruh

804 44 0
                                    

Hujan di sore hari. Suasana sejuk juga harum petrichor yang menguar, seakan mampu menerbangkan tiap jiwa ke dalam dunia yang begitu menenangkan. Tiap titik hujan yang menetes seakan meluruhkan segala nestapa yang mengendap dalam sanubari, berganti menjadi jiwa yang lapang.

Hari yang melelahkan. Setelah tiga hari lamanya Sulthan disibukan dengan aktifitasnya sebagai muballigh juga konten kreator, berkunjung ke berbagai daerah demi memenuhi undangan para youtuber lain.

Di sini, di kamarnya ia merebah setelah satu jam yang lalu ia tiba di pesantren. Dengan buku dalam genggaman, mencoba mengusir lelah yang menguasai raganya. Titik pandangnya mengarah ke kaca jendela, menikmati tiap tetes air yang mengalir, meluruh dari atap balkon kamarnya ke bawah melebur bersama tanah.

Benar-benar hari yang melelahkan, tapi ia sangat menikmatinya. Ia senang, berdakwah di zaman sekarang begitu mudah dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya lewat media sosial seperti yang ia lakukan. Hanya terkadang ia dihinggapi rasa takut, akan kepopuleran yang ia dapatkan. Ia khawatir kepopuleran akan mengikis rasa ikhlas, dan menyeretnya pada sifat hubbud-dunya. Untuk itu, ia butuh seseorang di sampingnya yang mampu menegurnya kala ia lalai, yang mampu menariknya kala niatnya tak lagi lurus. Seorang wanita yang akan menyajikan senyum indahnya sebagai penggugur jengah saat penat melanda raganya setelah lelah dengan tumpukan agenda yang harus ditunaikannya.

Wajah cantik dan juga terang bagai bulan, netra coklat tajam yang menghanyutkan, hidung bangir dan pipi dengan rona merah, bulu mata lentik dan alis yang tergores indah, selalu berhasil membuatnya tercenung, merampas daya konsentrasinya. Gadis itu dengan kecantikannya bisa saja menjadi selebgram yang mudah mendapatkan banyak follower. Tapi dia lebih memilih tersembunyi dari jangkauan akses sosial media. Tiba-tiba ia tersenyum, kenangan akan pertama kalinya ia bertemu dengan gadis itu. Dengan seenaknya gadis itu menuduh yang bukan-bukan akan hubungannya dengan Syakila Namira. Jujur saat mendengar tuduhan itu ia kesal, tapi rasa kesal itu sontak hilang saat terpana dengan keelokan wajah gadis itu.

Bunyi gemuruh terdengar dari dalam perutnya, memecah irama derai hujan yang semakin melambat hingga titik-titiknya hampir tak terlihat. Rupanya hawa dingin karena hujan membuat lambungnya berteriak kelaparan.

"Dasar lambung, tahu aja lagi mikirin yang bisa bikin makanan yang enak-enak. " Gumamnya seraya meraba perut rata nya.

Kakinya ia bawa turun dari ranjang tidurnya, melangkah keluar dari kamarnya. Lalu menuruni tangga, terus berjalan hingga ke dapur. Ia pikir ia akan menjumpai Shofia di sana. Ternyata hanya ada Marni sedang menata isi kulkas.

"Mbak, boleh panggilin mbak Shofia? Minta bikinin seblak ya mbak. " Pintanya pada mbak Marni.

"Owalah nak. Kan ada Marni, biar Marni aja yang bikin, gimana?" Tiba-tiba Salma memasuki dapur. Hendak membuat teh hangat untuk suaminya.

"Hehe, Shofia udah tahu detail kesukaan saya umi. Bahan-bahan yang nggak saya suka dia lebih tahu." Tolak Sulthan.

"Tolong ya mbak ya." Pintanya lagi pada Marni. Marni pun keluar dari dapur hendak memanggil Shofia di kamarnya.

***

Shofia tengah bersantai dengan bukunya saat mbak Marni menyambanginya di kamar. Karena rasa hormatnya, mau tak mau ia pun bengkit untuk memenuhi permintaan Suthan. Begitu kerapnya ia diminta untuk memasak, membuat gadis bermata jernih itu hafal bagaimana selera putra umi Salma itu. Pria itu tak suka pedas namun juga tak begitu suka dengan rasa manis.

Marni beberes dapur sambil memperhatikan gerak gerik Shofia yang begitu cekatan meracik bahan dan bumbu seblak permintaan Sulthan. Di sela-sela tatapnya ia tersenyum, "Mbak, sampeyan iku pantes jadi istri Gus deh mbak. "

Until You Love MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang