3. Peduli

1.4K 77 2
                                    


Terdengar seseorang mengetuk pintu saat Shofia dan Khodijah selesai melaksanakan kewajiban tiga raka'at. Khodijah segera bangkit setelah melepas mukena dan melipatnya. Kemudian melangkah, meraih handel pintu dan membukanya.

"Ada apa bang?" Tanya Khodijah setelah tahu bahwa tamu itu adalah Aiman. Ia was-was jangan-jangan pria itu membawa perintah Gus Sulthan yang akan menyusahkan Shofia.

"Ini ada titipan dari Gus. " Tukas Aiman.

Pria yang malam ini memakai hoody hijau army itu menyerahkan satu set rantang, sebuah kantong plastik agak besar yang berisi banyak makanan kering. Tak ketinggalan roti, kue dan buah-buahan.

"Mbak Shofia suruh makan ya. Jangan sampai nggak makan lagi." Ucap Aiman pada Khodijah. Gadis berkacamata itu menerima semua makanan itu dengan raut bingung.

"Makasih bang." Ucap Khodijah.

"Makasih doang?"

"Lah terus?"

"He, enggak. Nggak apa-apa." Kilah Aiman seraya menggaruk tengkuk yang tak gatal.

Melihat tingkah Aiman, Khodijah hanya mengerutkan keningnya, bingung.

"Ya udah mbak, saya pergi ya. Assalamualaikum." Pamit Aiman dengan wajah tersipu.

"Ya bang, Monggo. Waalaikumussalam." Balas Khodijah.

Tu orang ngapa dah. Senyum-senyum gak jelas blas!

Aiman pun berlalu pergi.

Banyak banget makanannya. Benak Khodijah.

Ini pasti karena Gus Sulthan merasa bersalah. Pikirnya.

"Vi, coba lihat." Khodijah mengangkat rantang tinggi-tinggi menunjukkanya pada Shofia.

"Apa itu Di?" Shofia yang baru saja selesai membaca Al-Qur'an, pun menutupnya dan beranjak menghampiri Khodijah.

"Ya makanan lah." Jawab Khodijah seraya melepas rantang satu demi satu dari cantelnya.

Shofia tahu itu makanan. Dia penasaran dari mana datangnya makanan itu, " Maksudku, dari mana semua makanan itu?" Tukas Shofia.

"Dari bang Aiman. Eh maksudnya, bang Aiman yang bawa katanya dari Gus." Jelas Khodijah sambil menjumput makanan dan mencicipinya. Ada ayam bakar beserta sambalnya dan tumis kangkung.

"Eum.. enak Vi. Ayo makan. " Mata Khodijah berbinar. Jempolnya ia angkat ke udara.

"Gus siapa maksud kamu Di?" Tanya Shofia. Karena memang ada banyak Gus di pesantren.

"Ya siapa lagi, Gus Sulthan lah. " Jawab Khodijah enteng.

"Gus sulthan? Habis dapet wangsit di mana itu gus. Tumben ngasih makanan segala. Biasanya minta dibikinin makanan melulu." Sungut Shofia.

"Baik juga dia. Udah ayo makan, abis makan, minum obat. Tadi bang Aiman bilang kamu harus makan, jangan gak makan kaya kemaren." Cecar Khodijah, yang terdengar seperti emak-emak yang rewel menyuruh anaknya minum obat.

"Ini semua gara-gara Gus narsis itu juga Kali. Aku itu nggak sakit. Aku Cuma capek. " Shofia kesal. Tapi tetap melahap makanan pemberian Gus Sulthan. Karena dia selalu berpikiran di sini dia hanya numpang, sebisa mungkin kalau dia sakit segera ia ingin sembuh agar tidak merepotkan orang lain.

Kebetulan dikasih makanan. Jadi yang namanya rezeki tidak boleh ditolak. Betul apa betul?? Hehe.

"Enak kan Vi?" Tanya Khodijah dengan wajah berbinar. Shofia tak memberikan jawaban hanya dua jempol tangannya terangkat dan senyum merekah di bibirnya.

Until You Love MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang