68. Ndusel-ndusel ?

810 32 2
                                    

Assalamualaikum..
Hai..
Hallo..

❤️❤️❤️

Shofia membuka pintu kamar perlahan. Karena ia tahu, ada makhluk lain di dalamnya kini tengah merebahkan tubuh yang mungkin sudah berkelana ke alam mimpi. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Ia tak ingin mengusik, apalagi menimbulkan suara berisik dari pergerakan yang dibuatnya. Karena ia tahu, pasti pemilik tubuh yang kini mengambil alih tempat tidurnya, eh lebih tepatnya berbagi tempat tidur dengannya kini tengah didera lelah yang sangat pandai pria itu sembunyikan. Baru dua hari yang lalu suaminya itu pulang dari Kairo dan belum cukup istirahat. Dan sekarang pria itu harus menemaninya pergi ke kampung halaman. Pun Shofia tahu, tujuannya tak lebih dan tak kurang demi menghibur dan mengembalikan kesehatan mental istrinya yang beberapa hari ini dibabat habis-habisan.

Shofia tak menyangka, suaminya akan mengajaknya mengunjungi orang tuanya di Solo. Jujur, ini adalah kejutan yang membuat tubuhnya terasa seringan balon yang hampir menerbangkan dirinya di awang-awang. Namun sayang, sesampainya di sini, pria itu harus meladeni keinginan para warga untuk mengisi kajian di masjid. Dan ajaibnya, bagai mesin yang baru saja diisi bahan bakar penuh, suaminya itu melakukan semuanya dengan semangat serta senyum tak pernah padam di wajahnya yang tampan.

Oleh karena itulah, ia bisa memaklumi kelelahan yang dirasakan sang suami. Sehingga, Shofia tak keberatan kala satu jam yang lalu Sulthan pamit undur diri dari hadapan bapak saat dirinya sedang mencuci peralatan makan bersama ibu. Seakan sengaja memberi ruang dan waktu bagi istrinya untuk menyalurkan rasa rindu pada bapak dan ibu yang mungkin sudah terlampau lama terpendam. Saat-saat berkumpul bersama keluarga yang jarang ia dapatkan, semoga bisa tergantikan pada kesempatan kunjungan kali ini. Mengingat selama ini ia lebih banyak menghabiskan waktu di Al-Hidayah semenjak dirinya menuntut ilmu bahkan hingga sekarang ia telah berumah tangga.

Lama ia terpaku berdiri menatap punggung yang tengah berbaring miring membelakanginya. Pria ini telah melakukan banyak hal untuk melindungi, memberikan bahu ternyaman saat ia berada di titik lemahnya. Mengabaikan rasa kecewa, yang hingga hari ini belum bisa memenangkan hati wanitanya. Shofia tahu, pasti akan terasa sulit bagi seseorang untuk melakukannya jika tak ada rasa cinta yang begitu tulus yang tersimpan untuk orang yang dicintai. Namun, ia sendiri masih gamang dengan bagaimana ia harus bersikap di hadapan sang suami. Begitu banyak hal yang telah Sulthan lakukan untuk Shofia yang seharusnya mampu membuka mata wanita itu bahwa cinta pria itu tak menuntut dan tak mengenal pamrih. Semua kebaikan yang suaminya lakukan semata-mata karena ia mencintai Shofia, dan tak ada  sedikitpun keinginan untuk melukai hati sang istri demi menuntut hak yang sudah sepatutnya ia dapatkan sebagai seorang suami.

Tak pernah terlintas sedikitpun dalam hidup, dirinya akan diperistri seorang Sulthan. Gus viral nan tampan yang begitu dielu-elukan para gadis. Berbeda dengan ukhti-ukhti di luar sana yang mungkin pernah halu menjadi istrinya, Shofia justru berharap mampu mengukir cita-cita cintanya bersama seseorang yang amat bersahaja seperti Ustadz Alif. Pria dengan kesederhanaan tapi memiliki kharisma yang begitu kuat sehingga mampu membuatnya terkagum-kagum dengan pesona ustadz itu. Namun, siapa sangka dan tak ada yang mampu menduga, jika pria yang kini berbagi tempat tidur dengannya justru telah memberikan banyak hal, melebihi ekspektasinya jika seandainya ia berhasil bersanding dengan Alif. Senyum di wajah Shofia selalu menjadi prioritas utama, tak peduli ia harus menabung kesabaran karenanya.

Pria itu selalu punya cara untuk menjawab  semua pertanyaan orang-orang tentang kapan memiliki rencana punya anak. Mau punya anak berapa. Yang selalu ditanggapinya dengan candaan serta tawa yang lebar sehingga mampu menyamarkan lubang di hatinya.

Tak terasa seulas senyum terbit di wajah lelah Shofia. Kala mengingat momen di mana dia sedang bersiap hendak ke stasiun. Ia dikejutkan oleh penampilan suaminya yang saat itu mengenakan sarung dan kemeja khas gus-gus pada umumnya. Bukan pakaian casual, gaul dan kekinian seperti yang selama ini ia pakai saat akan berpergian jauh.

"Loh, mas kok pake sarung? Ini udah aku siapin jeans sama jaketnya juga. Apa nggak apa-apa, nanti gerakan mas nggak leluasa loh. Perjalanannya panjang loh ini. " Ucap Shofia saat itu.

"Hari ini mas mau jalan sama pacar mas. Dan kata sahabat pacar mas, cewek mas itu lebih suka Gus yang berpenampilan khas Gus yang bersahaja, yang kalem, yang gak petakilan, sukanya sarungan dan pecian. Bukan Gus yang gaul, yang narsis, yang suka tebar pesona dan pake baju fashionable nan kekinian kayak artis. Dan mas pengen menyenangkan pacar mas itu. Makanya hari ini mas pake sarung sama kemeja ini. Mas pengen bikin dia terpesona sama mas. Gimana? Mas tetep ganteng kan?" Godanya dengan merapikan dan menghentakkan kerah baju yang mengelilingi leher jenjangnya.

"Jangan-jangan, ide naik kereta juga dari Khodijah?" Tebak Shofia.

"Ehm, bisa dibilang gitu. Kata sahabat pacar mas itu, pacar mas nggak akan nolak kalau diajak naik kereta. Apalagi kalau destinasinya ke rumah bapak sama ibu. Dijamin pacar mas bakal jingkrak-jingkrak. Eh, ternyata bener. Lebih dari jingkrak-jingkrak, mas malah  dihadiahi pelukan hangat." Pungkasnya tersenyum menggoda. Kontan Shofia membuang muka, ada yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya, saat ingatannya kembali ketika ia refleks memeluk Sulthan waktu itu.

Kembali ia tersenyum. Saat memorinya bergulir ke momen yang lainnya.

Malam ini ia dibuat terkagum-kagum dengan apa yang sudah dilakukan suaminya itu. Karena ternyata, walaupun status Sulthan, sebagai Gus viral begitu dipuja, tak lantas membuat Gus tampan itu besar kepala. Terbukti saat habis makan malam tadi, sembari bercengkrama berbagi obrolan, dengan telaten Sulthan memijat punggung bapak tanpa diminta. Awalnya bapak menolak, merasa tak enak. Karena menantunya bukanlah orang sembarangan. Menantunya itu begitu dihormati karena kedalaman ilmu agama yang dimiliki. Namun, Sulthan bersikeras meyakinkan bapak, kalau sudah sewajarnya seorang menantu memijat punggung bapak mertuanya. "Mumpung Sulthan berkunjung ke rumah bapak, jadi izinkan saya berbakti sama bapak, seperti halnya saya berbakti sama Abah. Karena bapak mertua ya sama kaya bapak saya juga. Dan diwajibkan bagi saya untuk mengasihi dan merawat bapak seperti yang saya lakukan sama orang tua saya sendiri. "

Kini Shofia beranjak menghampiri ranjang tidurnya dan siap untuk tidur. Ketika selimut telah berhasil menutupi sebagian tubuhnya, tiba-tiba punggung lebar di sebelahnya menarik perhatiannya. Punggung yang selama ini menjanjikan kehangatan dan kedamaian itu seolah menariknya untuk semakin mendekat. Entah kenapa kata-kata Sulthan bahwa ia sering ndusel-ndusel di punggung suaminya itu justru semakin membawanya hampir tak ada jarak dengan pria itu. Rasa penasaran menuntunnya untuk segera menemukan jawaban. Tak disadarinya, wangi tubuh pria itu seakan menyeretnya hingga tak terasa sebagian wajahnya menyentuh punggung yang tenang itu. Dan sialnya, Shofia terhanyut. Hingga ia lupa untuk menjaga gengsinya. Ia semakin diterbangkan dengan posisinya  sekarang. Menghidu dalam-dalam aroma menenangkan sang suami, yang entah sejak kapan Shofia merasa seolah menemukan kembali apa yang telah hilang beberapa waktu ke belakang.

Namun, sial! Dalam diam, pemilik punggung itu merasa terusik dengan pergerakan di belakangnya. Hingga dengan secepat kilat, pria berkaos putih itu berbalik dan dengan sigap mendekap tubuh istrinya. Mengurungnya dalam ruang dadanya. Di dalamnya, jantung Shofia berdebar berantakan. Suasana yang damai tak lagi ia rasakan. Yang ada hanya debaran tak terkendali di dadanya. Mengerjapkan mata, ia harap ini hanya mimpi.

Apa, ia telah tertangkap basah sudah mencoba ndusel-ndusel di punggung pria ini?

Dasar bodoh, apa yang sudah ia lakukan?

Dalam hati Shofia merutuki keteledorannya.

Shofia merasakan dekapan yang semakin erat, seakan takut wanita yang tengah membeku dalam pelukannya akan terlepas. Di atas kepalanya, Sulthan menumpukan dagunya. Mengecupnya sebentar.

"Sekarang kamu nggak bisa lari, Dik. Kamu harus tanggung jawab. Kamu tahu nggak, ulah kamu yang setiap malam suka ndusel-ndusel punggung mas, bikin mas nggak bisa tidur selama di Kairo. " Jantung Shofia berdentum hebat. Ia sibuk mengerjap-ngerjapkan matanya di dalam pelukan Sulthan. Merasa kesusahan meneguk  saliva. Ia malu. Namun ia tak bisa menampik jika rasa nyaman telah membuainya. Dinikmatinya dekapan sang suami tanpa pemberontakan sampai terdengar hembusan nafas teratur dari keduanya. 

***

31 mei 2024

Until You Love MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang