Kini jemari Sulthan meraih tali ikat niqob yang menghalangi wajah Shofia dari pandangannya, melepasnya dan meletakkannya di atas meja rias. Jangan tanya apa yang terjadi pada tubuh Shofia, semuanya terasa menegang, bahkan jari kelingkingnya pun susah untuk ia gerakkan. Shofia mematung bagaikan terkena sihir. Hampir saja ia lupa menghempaskan karbondioksida saat dada Sulthan berada tepat di depan wajahnya kala laki-laki itu melepas tali niqobnya.
Tak ada suara terdengar dari bibir Sulthan. Laki-laki itu tertegun dengan tatapan memuja paras cantik yang tersuguh di hadapannya begitu niqob itu terlepas. Tatapannya begitu lekat beriringan dengan benaknya yang terus mengucap lafal kekagumannya.
Masya Allah, begitu cantik bidadari dunia yang engkau kirimkan untukku. Beri hamba kekuatan dan kemampuan untuk bisa membahagiakannya, menggandengnya menuju jannah-Mu ya Allah..
Kesulitannya dalam mengatur nafas membuat Shofia panas dingin. Butir peluh dengan lancangnya menyembul dari keningnya yang terbalut bedak setebal dua centi itu. Membuatnya berada dalam kondisi yang sangat tidak nyaman alias salting.
Siapapun tolong temui Doraemon, pinjami aku pintu ke mana saja.. lama-lama aku bisa meleleh mendapatkan tatapan laser seperti ini darinya.
Ubun-ubun dengan mahkota itu, kini berada di bawah telapak tangan Sulthan, bibirnya tampak bergerak melafalkan do'a.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Shofia merasakan desiran darah mengalir begitu deras dalam setiap denyut nadi. Suasana mendebarkan benar-benar telah mengungkungnya. Tubuhnya membeku seakan lupa bagaimana caranya bergerak. Tapi ia menyadari sesuatu, rasa damai tiba-tiba muncul kala doa terlantunkan dari bibir pria yang tampak gagah dengan peci hitam di atas kepalanya.
Sedang Sulthan, dibalik sikap tenangnya sekuat tenaga berjuang mengendalikan degup jantung yang memburu bagaikan derap kuda yang terus dicambuk dalam pacuan.
"Duduk sini." Dalam genggaman Sulthan, tangan Shofia ia tarik pelan, dibawanya mendekat ke arah ranjang dan memintanya agar duduk di sana.
Lagi Sulthan terdiam dan kembali terkagum-kagum dengan kecantikan istrinya. Bak bumi yang memiliki gaya gravitasi, maka gaya semacam itu yang Sulthan rasakan saat ini kala berhadapan dengan Shofia membuat netranya seakan tak ingin berpaling dan ingin terus menatapnya. Shofia hanya bisa meremas-remas jemarinya kikuk. Suasana canggung benar-benar membuatnya mati gaya. Diberanikannya melirik manik hitam, selegam arang di hadapannya. Sorotnya yang menyimpan ketegasan dan keteduhan di dalamnya. Membuatnya sontak mengerjap-ngerjap, dengan tubuh masih kaku, seolah tak ada daya bahkan hanya untuk memperbaiki posisi duduknya yang ia rasa tak nyaman.
Suasana canggung, membuat Sulthan merasa kepanasan dan juga gerah. Dilepasnya peci hitam yang menutup kepalanya lalu ia letakkan di atas nakas. Juga jas hitam yang melekat di tubuhnya ia gantungkan di stand hanger samping lemari. Menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung sampai siku.
Sulthan tersenyum jahil saat mendudukkan dirinya kembali di samping Shofia, mendapati sikap tegang istrinya.
"Kok senyum-senyum gitu Gus? "
Tanya Shofia mengira ada yang aneh pada dirinya sehingga membuat pria menertawakannya. Wajahnya menyiratkan kekesalan, tak disadarinya bibirnya mencebik.
Melihat reaksi Shofia yang kesal, yang tadinya hanya tersenyum, kini pria itu tertawa kecil dengan memperlihatkan deretan gigi depannya. Melihat Sulthan terkekeh geli, bukannya menjawab apa yang ia tanyakan, Shofia semakin memberengut. Telunjuk Gus tampan itu refleks mengetuk bibirnya yang manyun. Sangat menggemaskan.
"Kamu ini tegang banget. Kondisi kamu sekarang udah kayak berada di dalam kandang singa kelaparan yang siap menerkam kamu kapan pun saat kamu lengah. Saking tegangnya wajah kamu itu kelihatan lucu. "
Pipi Shofia ia usap lembut dengan ibu jarinya. Usapannya bagai kuas cat yang tersapu, meninggalkan warna merah di pipi Shofia. Namun keberuntungan masih berpihak pada shofia, semburatnya tak nampak, karena tertutup oleh blush-on juga berlapis-lapis bedak di atas tulang pipinya.
Gund.. astaghfirullah dia sekarang suami loh, nggak boleh mengumpat Shofia. Hampir saja dia menyebut suaminya gundulmu seperti kebiasaannya selama ini saat sedang kesal.
Memang iya, dan singanya ya sampeyan Gus.
"Tenang aja, nggak usah tegang gitu. Aku ini suamimu, bukan singa. Aku nggak akan menyerangmu membabi buta tanpa adanya persiapan. " Ucapnya seraya menyunggingkan senyum tipis dengan tengil khas Sulthan. Sorotnya masih lekat tertuju pada wanita cantik yang masih saja terlihat jutek.
Sulthan bangkit, berdiri lalu mengambil sebuah bejana berisi air yang telah disiapkan, yang ditaruh di samping nakas. Kemudian berlutut di hadapan Shofia. Diletakkannya kedua telapak kaki istrinya ke dalamnya dengan perlahan-lahan. Dengan lembut Sulthan mulai membasuh kedua kaki Shofia. Wanita yang tampak pasrah dengan perlakuan suaminya itu terjengit kaget dengan perubahan suhu yang dirasakan kulit kakinya. Air itu terasa dingin. Di sisi lain ia juga merasa geli dengan sentuhan jemari Sulthan.
Melihat reaksi istrinya, lagi, Sulthan tersenyum simpul.
Setelah membasuh kaki Shofia, Sulthan mengajak Shofia untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat. Namun sebelumnya ia membantu Shofia melepaskan segala perhiasan yang menempel di kepalanya.
"Sini aku bantu lepasin. " Dengan lembut tangan Sulthan bergerak di atas kepala Shofia, melepas satu demi satu atribut yang menempel di kepalanya.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Until You Love Me
RomanceKepulangan Gus Sulthan setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya dari Kairo Mesir begitu dinantikan para warga pesantren Al-Hidayah. Namun menjadi awal hari sial bagi Shofia, seorang guru di MA di bawah naungan pondok pesantren Al-Hidayah. Gadis itu t...