38. Ngambek

1.2K 41 5
                                    

"Tega ya. Suaminya udah laper loh ini. Kok bidadarinya malah ngelamun di sini sih." Suara Sulthan yang terdengar tiba-tiba membuat Shofia tersentak. Menoleh beberapa detik, lalu kembali menghadap ke depan. Menatap ke arah gerombolan ikan di kolam yang berenang ke sana kemari, menciptakan gemercik air di setiap kibasan ekornya.

Pria itu mendekat dan duduk di samping istrinya yang sepertinya tengah merajuk.

"Jadi pengen jadi ikan, biar dilihatin kamu terus." Celoteh Sulthan, matanya ikut memandang apa yang menjadi objek penglihatan Shofia.

Hening, wanita di sampingnya mengunci rapat-rapat mulutnya. Entah mengapa dirinya merasa tak dianggap keberadaannya oleh Sulthan. Jilbab biru dongker yang berkibar tertiup angin sepoi yang berhembus tak sejalan dengan hatinya yang terasa memanas.

Tak ingin diketahui apa yang sedang terjadi di dalam dirinya, Shofia segera menegakkan tubuh untuk beranjak pergi menyiapkan makan siang seperti permintaan suaminya tanpa mencoba menanggapi perkataan sang Gus yang siang ini tampak mempesona seperti biasanya. Penampilannya selalu mengundang decak kagum kaum hawa.

Belum kakinya melangkah dari tempat itu, Sulthan mencekal pergelangan tangannya.

"Hei, mau ke mana? Sini duduk dulu." Ucapnya, menepuk-nepuk dasar kursi yang tadi diduduki Shofia.

"Katanya mas laper? Ini saya mau nyiapin makanan buat mas. " Jawab Shofia dengan menekan nada bicaranya agar tak terdengar tinggi karena suasana hatinya yang tengah kacau. Dengan tangan masih dalam genggaman Sulthan.

"Sini, duduk dulu Sayang.. Dengerin, mas mau ngomong. Penting." Sulthan menarik Shofia agar kembali duduk. Mau tak mau Shofia pun duduk kembali.

"Maaf ya, kamu pasti marah karena aku nggak ngasih tahu kalau aku ada undangan ceramah besok. " Sulthan merasa tak enak telah membuat Shofia merasa tak nyaman karena ia tak memberitahukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan jauh-jauh hari, bukan mendadak seperti ini.

"Nggak apa-apa kok. Nggak dikasih tahu juga nggak apa-apa. " Jawab Shofia ketus.

Sulthan tersenyum, ia gemas melihat istrinya yang tengah merajuk. Judes tapi tampak lucu, dengan bibirnya yang mengerucut.

Gemes banget sih, boleh nggak aku uwel-uwel pipinya.

Ia merasa kalau Shofia merasa tak senang akan ditinggalkan olehnya. Jujur, ada rasa bahagia terselip di hatinya.

"Lagian, sebenarnya tadi subuh aku mau ngasih tahu kamu. Jadi kamu akan denger dari mulutku bukan dari umi. Eh begitu denger qurratul 'uyun kamunya langsung kabur." Jelas Sulthan sambil terkekeh.

Mendengar qurotul Uyun kembali disebut, wanita itu pun bangkit dengan memalingkan wajah, mencoba menghindar dari tatapan Gus itu.

"Saya siapkan dulu mas makanannya. " Dia sudah siap melenggang pergi namun lagi-lagi jemari Sulthan meraih tangannya.

"Masa pengantin baru jalan sendiri-sendiri. Sini kita barengan ke ndalem. Nanti kamu kabur lagi. Nanti siapa yang siapin makanan buat mas?" Sulthan pun berdiri dan menarik tangan Shofia agar berjalan mengikutinya.

Deg

Deg

Deg

Apa ini? Ada yang berdentum hebat di dalam dada Shofia. Kenapa berdekatan dengan Gus rese ini sekarang rasanya aneh?

Kedua sudut bibir pria itu terangkat ke atas saat mendapati Shofia yang membeku.

"Kenapa? "

"Nggak apa-apa." Shofia tergeragap.

Until You Love MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang