Bismillahirrahmanirrahim..
❤️❤️❤️
Deru mobil kian lenyap ditelan udara seirama dengan menjauhnya mobil sedan hitam dari pelataran rumah, yang dapat Arga lihat dari balkon kamarnya di lantai atas. Tatap nanar terlempar, hingga kendaraan yang membawa ayahnya itu, benar-benar raib dari penglihatannya. Orang di dalamnya adalah seseorang dengan jabatan yang tinggi di mata masyarakat tapi tak mampu menduduki tempat tertinggi dalam hidup sang putra.
Menghela nafas dalam-dalam, lalu berbalik. Berjalan mendekat pada ranjang tidurnya. Kemudian membungkuk, hingga tubuhnya sejajar dengan kolong tempat tidurnya. Lalu diulurkannya sebelah tangannya menggapai sebuah benda di sana. Sebuah gitar akustik yang sengaja ia sembunyikan dan hanya ia mainkan di saat rumah itu tampak senyap. Hanya ada dirinya dan beberapa asisten rumah tangga. Karena di saat itulah ia bisa bebas melakukan hal yang disukainya tapi tidak bagi ayahnya. Pun ia harus menyembunyikannya dari istri ayahnya karena bisa saja dia dimarahi habis-habisan karena aduan ibu tirinya. Beruntung wanita itu tengah sibuk di luaran sana. Jadi dia punya waktu untuk menghibur diri dengan sesuatu yang disukainya.
Dibawanya gitar itu lalu duduk di kursi menghadap balkon. Langit biru yang kini hampir menghitam, serta matahari yang nampak malu-malu bersembunyi di balik awan yang berubah kelabu. Seolah alam ingin menyajikan latar yang sesuai untuk menggambarkan isi hatinya. Namun, agaknya sang awan dengan kegigihannya nampak berusaha keras agar titik-titik air yang mendesak tak dibiarkan berjatuhan.
Ya, dia laki-laki. Pantang baginya untuk menangis. Petuah untuk hati yang menyusut agar kembali membesar dari orang besar yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Namun bukannya membesar justru hatinya kian meringkuk, takluk pada nestapa yang tak tahu ke mana ia harus bertukar kisah. Petuah yang terlahir di hari di mana ia tak mampu membendung derai air mata saat pemakaman sang ibunda. Terlalu lama memendam dan menyimpan, tak ada sandaran ataupun tempat segala curahan, membuatnya terkurung dalam kedinginan. Menyeretnya pada situasi yang membuatnya seakan mati rasa terhadap apapun yang mendekat juga apapun yang kata mereka indah terlihat.
"Kamu itu harus belajar yang giat. Kamu harus jadi orang kaya papa. Jadi nggak usah main musik lagi, jangan banyak main-main. Kamu harus fokus sama masa depan kamu. "
Anjuran yang terdengar memaksa, bahkan cenderung mendikte. Semua harus sesuai keinginan papa, mau papa, tujuan papa, cita-cita papa. Semua tentang papa. Seolah dirinya hanyalah sebuah boneka tak bernyawa dan tak berakal, yang tak berhak punya angan dan asa.
Kini, jemarinya tergerak, menyentuh senar yang terbentang, memetiknya sesuai dengan not lagu yang terlantun dari bibirnya. Bibir kaku yang selama ini sulit menggelontorkan segala rasa yang menjajah hatinya. Hingga ia terpenjara dalam kehampaan yang begitu ketat mencekik jiwanya. Alunan nada yang begitu landai, dengan tarikan nafas yang menyayat.
Sempat terfikirkan 'tuk mengakhiri perjalanan ini
Lelah yang membuat perasaan hilang seketika
S'lalu ku mencoba 'tuk melabuhi perasaan ini
Inginnya kujujur 'tuk ungkapkan rasa
Sulit 'tuk diriku menerima semua
Inginnya kujujur 'tuk ungkapkan rasa
Betapa belum siapnya ku tanpamu
Haruskah terdiam lama
Ketika kau tak ada

KAMU SEDANG MEMBACA
Until You Love Me
RomanceKepulangan Gus Sulthan setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya dari Kairo Mesir begitu dinantikan para warga pesantren Al-Hidayah. Namun menjadi awal hari sial bagi Shofia, seorang guru di MA di bawah naungan pondok pesantren Al-Hidayah. Gadis itu t...