Assalamualaikum..
❤️❤️❤️
"Maaf ya mas, sudah bikin mas menunggu dan menahan sekian lama. " Dengan kepala bersandar di lengan kanan sang suami, setelah melakukan ritual malam penuh cinta di Granada, Shofia mengutarakan penyesalannya.
Mendengar itu, Sulthan merubah posisi memiringkan tubuhnya hingga wajahnya mampu menatap wajah istrinya yang berbaring di atas lengan kanannya. Menghela nafas pelan dan menatapnya lembut.
"Padahal mas punya kuasa untuk memaksa karena mas adalah suami yang punya hak sepenuhnya atas diriku. Terlepas aku cinta sama mas atau enggak. Karena itu sudah menjadi kewajibanku sebagai istri." Lanjut Shofia.
"Emm.. " Sulthan bergumam, jemarinya bergerak menyingkirkan anak rambut di kening Shofia. "Karena Mas nggak mau merasa bahagia sepihak, sementara kamu nggak ngerasain hal yang sama. Enak di mas tapi nggak adil di kamu. Karena Rasulullah nate ngendika, "sejatinya sebaik laki-laki di antara kamu adalah mereka yang bersikap baik dan lembut terhadap istri dan keluarganya. Dan menggauli istrinya dengan cara yang ma'ruf pula". Lalu bagaimana mas bisa maksa kamu? Sedang waktu itu mas nggak nemuin binar kebahagiaan di mata kamu, malah air mata yang menganak sungai yang sulit mas bendung. " Terdengar Sulthan terkekeh dan berhasil menerbitkan cebikan di bibir Shofia.
"Maaf ya mas, selama ini mas pasti tersiksa. " Sesal Shofia.
"Mas rasa, kamu juga merasakan hal yang sama. Kamu juga pasti tersiksa. Mendadak menikah dan diharuskan hidup bersama bukan dengan orang yang selama ini kamu harapkan tapi dengan orang baru yang sebelumnya selalu bikin kamu naik darah. " Sulthan meraup ujung dagu Shofia. Menjawil gemas. Yang berhasil menerbitkan senyum di wajah ayu wanita itu. Tak lama Sulthan kembali menambahkan.
"Tapi justru mas seneng, dengan begitu mas tahu ketika kamu udah cinta sama seseorang, kamu nggak gampang berpaling dan kamu nggak mudah menghapus cinta lama kamu itu. Walau di depan kamu ada makhluk tampan kaya mas Sulthan ganteng ini. Dan mas harap, setelah kamu jatuh cinta sama mas, cinta kamu ke mas juga bakal tahan lama dan susah untuk dilupain seperti halnya kamu sulit melupakan cinta lama kamu itu. " Sulthan mengakhiri kalimatnya dengan mengetuk hidung Shofia.
"Lantas apa yang bikin mas bisa menahan sebegitu lamanya?" Hal yang Khodijah sering tanyakan pada Shofia akhirnya terlontarkan juga. Khodijah sering terheran-heran, "kok bisa sih kalian sedekat itu tapi Gus biasa aja? Agak sulit dipercaya Fi. Laki-laki dikasih ikan masa sih bisa biasa aja gitu? Tega banget kamu Fi."
Melihat Sulthan masih bergeming dan semakin menatapnya dalam, Shofia menambahkan, "Mas juga pernah bilang, kalau dulu saat tidur, aku suka ndusel-ndusel punggung mas kan?" Lanjut Shofia.
"Sekarang juga masih. " Sahutnya tengil.
"Apa yang mas rasain waktu aku kayak gitu? Apa tubuh mas baik-baik aja ? Nggak ada sengatan listrik gitu? Gimana caranya mas nahan?"
Sulthan tergelak.
"Memangnya kamu ini sumber listrik yang bisa mengaliri listrik sampai-sampai mas kesetrum?"
Shofia menggigit bibirnya, malu.
"Kamu kalau lagi puasa, disodori makanan paling enak favorit kamu, bakalan kamu makan nggak?"
"Nggak lah mas. Kan lagi puasa. "
"Nah itu, setiap aku Deket sama kamu aku niatin puasa. Dan setiap orang yang berpuasa yakin bahwa waktu magrib pasti akan datang. Waktu di mana kita boleh berbuka. Yaitu diperbolehkannya makan setelah menahan lapar seharian. Jadi, mas nggak akan memaksa kamu untuk melayani mas secara lahiriyah sebelum waktu magrib itu tiba. Yaitu waktu di mana kamu akan memberikan izin bagi mas untuk melakukannya. Waktu di mana kamu juga merasa bahagia saat bersama mas. Bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Jadi, mau kamu ndusel-ndusel sampe pagi pun, wajah kamu didandanin secantik apapun selama kamu tidur, Mas akan berusaha tahan. Karena belum waktunya. Ya walaupun kadang ... " Sulthan menggantung kalimatnya. Mengulum bibir ke dalam dan memutar mata.

KAMU SEDANG MEMBACA
Until You Love Me
RomanceKepulangan Gus Sulthan setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya dari Kairo Mesir begitu dinantikan para warga pesantren Al-Hidayah. Namun menjadi awal hari sial bagi Shofia, seorang guru di MA di bawah naungan pondok pesantren Al-Hidayah. Gadis itu t...