MEMBUNUH PRESIDEN

5 1 0
                                        

Sejak beberapa percobaan pembunuhan yang diarahkan ke Soekarno di masa lalu. Kita tak pernah lagi melihat adanya percobaan pembunuhan yang serupa ke berbagai presiden setelahnya. Seburuk apa pun pemimpin negara yang dimiliki tanah ini. Tak seorang pun yang berani mencoba mengakhiri hidup presiden yang tengah berkuasa. Seolah hal semacam itu menjadi sejarah yang terlupakan. Atau kepengecutan dari masyaraka luas yang lahir dari sejarah panjang pembungkaman, ketakutan dan militerisme dengan campuran karakteristik budaya masyarakat yang mencari aman untuk dirinya sendiri dan tak tertarik dengan hal-hal yang membuat dirinya tak aman.

Kepengecutan yang meluas itu bahkan tak membuat masyarakat mau memberontak walau tanah kelahirannya tenggelam oleh lumpur, kebakaran hebat, gempa bumi, banjir bandang, kekeringan ekstrem dan berbagai bencana lainnya. Kematian banyak orang di tenda pengungsian dan keracunan massal hanya sekadar sesuatu yang dibicarakan sambil marah saja.

Saat aku mencoba kembali memikirkannya, psikologisme masyarakat secara luas telah terbentuk selama berabad-abad untuk menjadi rakyat jelata yang tunduk dan budak yang hanya sekadar tahu caranya hidup. Atau para pejabat korup dan penguasa yang jarang sekali benar-benar mencintai rakyatnya.

Butuh ide yang radikal untuk mendobrak pola pikir masyarakat yang lesu dan enggan bergerak itu. Di masa awal kemerdekaan, orang-orang di tanah ini pernah mencoba melakukannya. Kita hanya perlu membangkitkan ide dasar yang pernah ada itu, membuatnya kembali ada dan sebagai bentuk akhir dari kegilaan yang sudah lama mengendap.

Pada akhirnya, presiden korup harus mati. Mati bersama menteri korup yang dipilihnya. Juga para pengusaha, aparat, anggota dewan, politisi dan berbagai ahli yang harus dibunuh karena telah mendukung dan melahirkan pemerintahan yang korup.

Mereka yang korup harus mati. Semua itu bisa diawali dengan membunuh seorang presiden yang berkuasa.

Ide semacam ini tak bisa lahir dan dilakukan oleh orang-orang yang ada di generasiku dan mereka yang usianya ada di bawahku. Banyak dari kita itu pengecut dan gagal dalam banyak kehidupan dan kesempatan. Kebanggaan kebanyakan orang-orang yang seusia denganku dan yang hidup sezamanan denganku hanyalah hidup makmur, memiliki banyak uang, dikelilingi barang hobi dan mempunyai status sosial yang layak. Itulah kenapa nyaris sedikit orang hebat yang lahir dari segala macam bidang. Setelah kaya dan berumah tangga mereka berhenti menjadi liar. Berhenti berpikir. Melakukan segala macam upaya agar tetap makmur dan tak kehilangan kesenangan dan kemewahan sehari-hari yang sudah dinikmati puluhan tahun dengan menjadi korup atau tak peduli dengan banyak hal.

Orang-orang hebat mati bertumbangan bahkan sebelum mereka menjadi hebat. Idealisme dan komitmen kuat terhadap kebenaran dan perlawanan terhadap ketidakadilan telah digantikan oleh pasangan hidup dan anak-anak yang menolak miskin dan terjerat dalam kekacauan politik atau semacam aktivisme moral yang tak dibayar.

Hasilnya? Logika hidup semacam itu dimanfaatkan dengan maksimal oleh para politikus dan orang-orang yang berkuasa. Mereka tahu mentalitas masyarakat dan bagaimana cara mengendalikan dan mengatasinya. Ribuan demonstrasi sudah tak lagi cukup. Terus mengkritik juga tak akan didengar. Sudah saatnya bergerak ke arah yang lebih ekstrem. Dan hanya mereka yang terluka terlalu dalam dan dibesarkan dalam kondisi carut marut lah yang bisa melakukan.

Mereka yang hidupnya baik-baik saja sangat jarang memberontak. Begitu juga mereka yang sudah terbiasa disakiti tapi tak pernah benar-benar kelaparan setiap harinya.

Sekarang aku sedang berada di Surabaya. Menikmati waktu membaca dan berpikir di jalan yang sibuk dengan orang-orang. Jalan Tunjungan. Jalan yang membuat banyak orang melupakan sejarah kota ini dan keramaian yang begitu mudahnya disertai dengan apatisme dangkal yang sempurna.

Dari berbagai tempat yang aku lihat. Aku akhirnya merasa yakin bahwa egoisme telah menang di abad ini. Menjadi nyaris sempurna sampai tak banyak orang merasa terganggu dengan berbagai macam perang, bencana, wabah dan bunuh diri.

Aku beserta hampir semua orang yang usianya nyaris sama dan berdekatan. Juga dari mereka yang sangat tua hingga yang masih cukup muda. Mereka semua tak lebih daripada generasi omong kosong. Jika tidak menjadi korup. Salah memilih presiden. Mereka hidup untuk egoisme mereka masing-masing.

Egoisme bertahan hidup dan mencoba menikmati kehidupan yang ada. Tak lebih dari itu.

Seperti di jalanan ini. Dunia rasanya baik-baik saja. Seolah-olah tak ada agama di sini. Tak ada kemanusiaan. Tak ada apa pun kecuali diri sendiri. Beberapa generasi yang hidup dalam waktu yang bersamaan tapi tak bisa diharapkan sama sekali.

Gagasan mengenai membunuh presiden dan para pendukungnya, jelas tak akan bisa hadir di sebuah masyarakat semacam ini. Ide semacam itu baru bisa terlaksana saat mereka yang hari ini masih sangat kecil, tersiksa oleh kehidupan dewasa mereka dengan cara yang lebih buruk dari generasi-generasi sebelumnya. Sehingga mereka secara sadar dan otomatis menolak berbagai hal yang diwariskan dan percayai oleh mereka yang lebih tua dan hidup lebih dulu.

Mereka memberontak dengan cara mengutuk banyak hal. Marah dengan generasi yang melahirkan dan membentuk mereka. Lahir dari masyarakat yang membusuk. Rahim orangtua yang penuh konflik. Rasa aman yang hampir tak pernah terpenuhi dan berujung pada cemas dan kegilaan ekstrem.

Pada dasarnya, secara tak sadar mereka dibentuk sangat ekstrem oleh generasi orangtua mereka. Orang-orang seangkatan denganku. Mereka yang nyaris tak memiliki otak lebih untuk melihat dan bertanggung jawab dengan masa depan kacau yang seharusnya sudah sangat jelas.

Generasi yang begitu sangat menyedihkan karena dilahirkan, dibentuk dan dewasa di tangan banyak orang berpendidikan yang bodoh dan ahli dalam menyangkal apa pun.

Pada akhirnya, mereka dibenturkan pada pilihan antara membunuh diri sendiri, merusak banyak hal dengan amarah atau meluapkan semua penderitaanya dalam aktivitas politik yang tak lagi perlu sopan santun dan sangat ekstrem. Suatu pilihan yang banyak dijauhi oleh orang-orang terdahulu yang bahkan sangat pengecut oleh pilihan politiknya sendiri.

Generasi yang begitu sangat aku sukai. Anak-anak yang nyaris seperti yang pernah aku pikirkan dan coba aku persiapkan gagasan-gagasan yang cocok untuk mereka.

Aku melihat masa depan mereka. Aku pun menyiapkan ide-ide ekstrem yang siap mereka gunakan dengan sempurna.

Salah satunya adalah mengembalikan pemberontakan politik individual atau berkelompok dengan pembunuhan sistematis terhadap presiden yang korup. Membunuh para pengusaha dan seluruh anggota keluarganya. Menyandera para politikus busuk dan menyiksa mereka tanpa kenal ampun. Atau meneror para ahli hukum dan aparat atau militer. Menjadi ancaman yang serius bagi mereka yang menghancurkan tanah ini.

Kenapa presiden harus dibunuh?

Presiden di negara ini hampir setara dengan raja dan seorang diktator yang korup. Merasa memiliki imunitas yang kuat dan dilindungi oleh orang-orang di sekitarnya. Ia seolah berhak melakukan apa pun yang ia mau. Menghambur-hamburkan uang negara sesuka hati. Bisa membuat kebijakan yang sinting tanpa takut disingkirkan. Memperkaya sendiri secara terangan-terangan karena tak pernah ada sejarahnya presiden di adili di pengadilan atau dihukum mati.

Di tanah ini, pemimpin negara layaknya dewa. Tetap didukung oleh para pengikutnya yang fanatik walau salah dan merusak secara jelas di depan mata.

Cara untuk mengakhiri imunitas itu yaitu dengan mengembalikan sejarah di masa yang jauh. Setelah kemerdekaan. Saat orang-orang berani menjadi ekstrem karena kebutuhan yang mendesak. Yaitu membunuh presiden yang dianggap korup dan tak layak.

Generasi di masa depan, yaitu kalian, harus berani mengakhiri imunitas itu. Kekebalan yang membuat negara ini terjerumus dalam krisis dan perang saudara.

Di masa depan yang jauh, imunitas itu harus benar-benar diakhiri. Kalau tidak dilakukan atau diabaikan dengan penuh sadar. Tiran baru akan muncul untuk mengisi kekosongan ide itu.

Sebelum semuanya terlambat. Sebelum benar-benar sangat terlambat untuk diakhiri.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang