Chapter - 4

16.6K 524 2
                                        

Lili baru saja merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Beberapa menit lalu dirinya baru saja sampai di apartemen miliknya setelah menghadiri acara Meta tentunya.

Atlas, pria itu bersikeras untuk mengantarkannya. Pria itu bilang tidak baik seorang wanita naik taksi sendirian semalam ini. Jadilah Lili menuruti permintaan pria itu.

"That looks so good on you Lili." puji Atlas saat Lili baru saja turun dari tumpangan pria itu dan hendak menutup pintu mobil mewah pria itu.

"Ya?" tanya Lili tak mengerti. Atlas menyunggingkan senyumnya seraya menyugar rambutnya. Semua tindakannya tertangkap jelas di mata Lili.

"Red. Red looks really good on you." tutur pria itu masih dengan senyum dan matanya yang menatap Lili dengan dalam.

"Haa..." helaan nafas itu keluar dari Lili seraya dirinya menguburkan wajahnya pada bantal. Berapa kali dipikirkan pun, semenarik apapun Atlas, dirinya tetap tidak bohong bahwa terkadang ia masih berharap pria itu adalah Leo.

Pasalnya, Lili terlalu lama menghabiskan waktunya bersama Leo. Menghabiskan waktunya sekarang dengan pria lain entah mengapa membuatnya merasa sedang mengkhianati Leo. Meskipun hubungan keduanya sudah kandas sejak beberapa tahun lalu.

Ini juga sebabnya kenapa Lili masih setia melajang. Seberapapun ingin dirinya untuk menemukan cinta sejatinya, sebesar itu pula Lili berharap bahwa ia tidak harus mengenal sosok baru di hidupnya.

Bertemu, berkenalan, dan memulai segalanya dari awal dengan orang berbeda adalah sesuatu yang sangat malas untuk Lili lakukan. Lili tidak suka dirinya yang seperti ini, Lili berharap dia bisa lebih membuka hatinya sekarang. Dan sepertinya, Lili akan mulai memaksanya untuk melakukan itu.

Melihat bagaimana Leo bisa mendapatkan cinta barunya dan senyum lebar yang tersungging dibibirnya tadi, Lili juga mau merasakannya. Mungkin memang ini saatnya untuk ia mengenal sosok baru di hidupnya. Siapa tau kan salah satu dari sosok baru itu adalah jodohnya?

Group is calling...

Layar ponselnya baru saja menampilkan sebuah panggilan video yang masuk dari grupnya bersama Meta dan Elle. Langsung saja dirinya menerima panggilan itu, masih dengan posisi yang sama sambil telungkup di kasurnya.

"Lili! Lo kenal Atlas?"

"Li!! Lo tau dia dari mana ?"

Belum sempat Lili menyapa, kedua sahabatnya itu sudah melemparinya dengan dua pertanyaan sekaligus.

"Kalian kenal Atlas? Dari mana?" bukannya menjawab Lili justru balik bertanya.

"Ih gimana sih! Orang ditanya malah nanya balik!" gerutu Elle.

"Yaampun Li, lagian siapa sih yang gak tau Atlas?" timpal Meta sembari menghapus riasan di wajahnya.

"Serius lo gak tau Atlas siapa Li?!" kali ini Elle yang bertanya sembari terkejut.

Lili menggeleng menanggapinya. Langsung saja mengundang decakan dari Meta.

"Lagian siapa juga sih El yang kenal si Atlas? Gaada seorang pun yang tau dia yang sebenernya. Iya kan?"

"Hah? Gimana maksudnya?" tanya Lili kebingungan. Dimatanya, Atlas tidak semisterius itu kok.

"Iya, rumor has it... katanya dia anak konglomerat lah, ada yang bilang dia punya bisnis gelap, ada juga yang bilang dia playboy kelas kakap. Gak ada yang tau mana rumor yang bener sih. Tapi yang pasti kita sama - sama tau kalo ketampanannya dia itu top tier." Elle menjawab panjang lebar.

Lili meringis mendengar penjelasan Elle. Matanya melirik Meta kemudian, "Emang suami lo juga gak kenal dia Ta? Tadi Atlas bilang dia kenalan suami lo." tanya Lili pada Meta.

"Duh Li... kenal apanya coba? Julio aja bilang kalau dia gak begitu tau siapa Atlas. Emang sih mereka kerja di kantor yang sama. Tapi Julio bilang, nama Atlas bahkan gaada di daftar pegawai. Lagian ya, kata Julio dia juga ngeliat Atlas cuma sekali dua kali di kantor selama beberapa bulan terakhir. Kita juga bingung kenapa dia bisa dateng tadi, orang Julio gak kirim undangan ke dia kok. Aneh kan?"

Lili menganggukkan kepalanya seraya mendengarkan. Sepertinya Atlas memang semisterius itu.

"Seriusan sayang?! Kamu salah liat kali!" suara Meta yang heboh dengan dirinya yang tidak lagi terlihat di layar membuat Elle dan Lili memusatkan perhatian mereka.

"Kenapa Ta?" tanya Lili penasaran.

"Guys sumpah! Ada yang ngasih amplop buat perayaan kita tadi 1M!" jerit Meta masih tidak percaya.

Memang pernikahan Meta tadi hanya menyediakan transfer untuk kirim angpao ke pengantinnya tadi sih. Jadi nominal sebesar itu memang mungkin saja terjadi. Tapi?!! 1 M?!! Manusia tajir mana yang buang uang sebegitu banyak untuk pernikahan seseorang?! Ini seriusan gak sih?

"Salah baca kali tuh" ucap Elle dengan tenang. "Serius Elle!! Nih liat!!"

"Emangnya gak keliatan nama pengirimnya? Hati - hati ah, siapa tau penipuan. Udah mending uangnya jangan dipake deh."

"Ada sih! Tapi namanya bukan nama asli kayanya. Tulisannya disini sih RedtaC. Duh gue aja bingung cara bacanya. Tapi di notesnya, beneran ada ucapan selamat buat gue dan Julio."

RedtaC?

"Udah ah fix penipuan itu. Dari namanya aja udah aneh gitu. Udah - udah jangan dipake deh mendingan."

Cling!

Atlas has followed you.

Atlas
Hai Heavenly, ini Atlas. I'm looking forward to meet you soon.

Kalau kamu gak keberatan, boleh aku minta nomor kamu?

Tunggu. Darimana pria itu tau instagramnya?

TBC

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang