Chapter - 12

12.9K 440 11
                                        

Saat ini Lili sedang berada di dalam mobil Atlas. Pria itu bersikeras untuk menjelaskan soal Jolie. Tadi saat di restoran, Elle mengusir mereka dan menyuruh Atlas untuk membawa Lili dari sana.

Urusan rumah tangga jangan dibahas di publik katanya.

Entah Atlas ingin membawanya kemana. Dari tadi lelaki itu terus menjauh dari keramaian kota. Untungnya hari ini Lili bekerja dari rumah. Jadi ia tidak perlu khawatir harus kembali ke kantor nantinya.

"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Lili yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

"Ke rumahku." jawab Atlas enteng.

"Kamu gila?! Aku gak mau!" tolak Lili yang langsung panik. Ke rumahnya? Yang benar saja!

"Atlas, aku bilang aku gak mau!" ucap Lili lagi mulai merengek. Mendengar rengekkan itu membuat Atlas menepikan mobilnya. Menatap Lili yang matanya mulai berair. Karena kesal wanita itu sampai hampir menangis.

"Yang tadi itu bukan pacarku Lili. Sumpah." Atlas mulai berbicara seraya membuat tanda peace menggunakan jari telunjuk dan tengahnya.

"Aku gak tanya." jawab Lili cuek.

"Iya tapi kamu berasumsi. Dan asumsinya gak benar. Aku gak mau kita salah paham lagi." tutur Atlas dengan lembut dan penuh kesabaran.

"Kenapa kamu menghindar dari aku?" tanya Atlas penasaran. "Gak ada alasan." jawab Lili seraya mengedikkan bahunya.

Atlas justru mengulurkan tangannya ke puncak kepala gadis itu. Mengelusnya dengan pelan dan penuh kasih sayang sebelum berakhir menjawil puncak hidungnya.

"Jangan pegang - pegang!" ucap Lili galak seraya melemparkan tatapannya yang tidak bersahabat. Bukannya takut, Atlas justru terkekeh dibuatnya.

"Aku senang kamu begini. Rasanya aku ingin peluk kamu!" goda Atlas yang membuat Lili membuang pandangannya ke luar jendela.

"Kamu peluk aja cewek tadi!" rajuk Lili dengan pelan. Entah gadis itu sadar dengan apa yang ia bicarakan atau tidak.

"Kamu seperti pacar yang sedang cemburu." goda Atlas lagi dengan memandang wajah Lili yang menurutnya sangat menggemaskan.

"Aku gak cemburu!" elak Lili dengan galak. "Lagian aku juga bukan pacar kamu kok!" lanjutnya lagi dengan alis yang menukik.

Atlas mengulas senyumnya. Tangannya terulur untuk mengambil tangan kanan Lili dan membawanya ke genggamannya kemudian mengelus punggung tangan itu dengan lembut menggunakan ibu jarinya.

"Kalau mau jadi pacarku kan gampang Li. Kamu tinggal bilang "Mau". Mau coba?" tanya lelaki itu lagi dengan tatapan matanya yang dalam menyelami manik mata Lili yang seakan sedang tersihir oleh Atlas.

"Gak." kata Lili salah tingkah sembari menarik tangannya dari genggaman Atlas. Atlas tertawa lagi. Mengetahui bahwa Lili menolaknya kembali namun wajahnya penuh dengan semburat merah pertanda is salah tingkah.

"Oh iya, yang tadi itu namanya Jolie. Bunda suruh aku kenalan sama dia." perkataan itu membut Lili menoleh.

"Kamu dijodohin?" tanya Lili dengan serius. Atlas mengedikkan bahunya acuh, "Bisa dibilang gitu." jawab Atlas seadanya.

"Terus ngapain kamu nembak aku?" sewot Lili dengan matanya yang tajam. Dari tempatnya, Atlas mati - matian menahan tawanya.

"Ya karena aku tertarik sama kamu." ucap Atlas dengan enteng. "Aku gak mau ya jadi orang ketiga di hubungan orang lain." tegas Lili seraya membuang pandangannya.

Dalam hati, dia merasa panas dan kesal. Ko bisa bisanya sih di zaman modern seperti ini masih ada perjodohan?

"Aku ga pernah minta kamu jadi orang ketiga. Aku kan maunya kamu jadi pacar aku." jelas Atlas yang membuat Lili malu mendengarnya. Sedangkan ditempatnya, Atlas sudah mengukir senyum karena berhasil membuat Lili salah tingkah.

"Makanya aku mau ajak kamu ke rumahku. Supaya aku bisa tunjukin ke Bunda kalo aku udah punya pilihan sendiri." tutur Atlas yang membuat Lili menoleh.

"Udah kamu sama cewe tadi aja sana. Jangan sama aku." ucap Lili lagi. Gengsinya masih lebih besar mendominasi dirinya.

"Yaudah." kata Atlas pada akhirnya. Memutar mobilnya menuju kota untuk mengantar Lili ke tempat tinggalnya.

Selama perjalanan pulang itu juga tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Pikirannya menyita Lili. Hatinya terasa tidak rela membayangkan Atlas dijodohkan dengan gadis lain. Lili tidak suka melihat adegan suap - suapan seperti tadi siang. Lili juga tidak suka melihat Atlas yang terkesan mudah sekali menyerah untuk mendapatkannya.

Ah emang dasar wanita, gak ada satupun makhluk di bumi yang ngerti apa mau mereka selain dirinya sendiri dan Tuhan.

Tiba di basement apartemen Lili, Atlas menghentikan mobilnya. Tidak mengatakan apapun dan Lili juga begitu. Sepertinya wanita itu masih melamun dan belum menyadari bahwa mereka sudah tiba.

Atlas baru saja ingin memanggil Lili saat ia mendengar suara isakan halus terdengar dari gadis yang duduk di sampingnya. Loh? Kenapa nih? Apa Lili kerasukan hantu basement?

Lili menoleh dengan matanya yang berair. "Atlas please jangan tinggalin Lili juga." rengek gadis itu yang membuat Atlas terkejut. Matanya menangis dengan pipinya yang memerah, persis seperti anak kecil.

Pantas saja Elle memanggilnya si Manja. Jadi ini sisi manja dari Lili?

"Elle udah punya pacar. Meta juga udah punya suami. Masa sekarang kamu juga mau punya tunangan." keluhnya seperti anak kecil. Sesekali tangan gadis itu mengusap ujung matanya dengan kasar untuk menghapus air matanya.

Hidung gadis itu sudah memerah dan samar - samar Atlas mendengar suara hidung gadis itu yang tersumbat.

"Jangan sama Jolie ya? Hm?" bujuk gadis itu lagi masih dengan merengek.

Ditempatnya, Atlas tercengang. Benar - benar tidak menyangka akan menonton adegan semenggemaskan ini. Selama mengenal Lili, baru kali ini gadis itu menunjukkan sisi dirinya yang menggemaskan seperti itu.

"Atlas... Lili mau kok." gumam gadis itu pelan sekali hampir seperti berbisik. Wajahnya ia tundukkan karena malu. Sesekali gadis itu sibuk menarik cairan di hidungnya.

"Ya? Mau apa Li?" tanya Atlas yang akhirnya buka suara.

"Mau jadi pacar Atlas. Ayo..." bisik gadis itu lagi seraya menarik jari telunjuk Atlas dengan genggaman tanggannya.

Di tempatnya, Atlas kehabisan kata. Hanya bisa tersenyum lebar sebelum akhirnya beranjak untuk menghapus air mata Lili dan meninggalkan sebuah usapan pelan di kepala gadis itu.

TBC

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang