"Mas aku gerah," keluh Lili yang memecah keheningan salah satu kamar rumah sakit itu. Atlas menunduk, memandang wajah istrinya yang sedang menahan sakit dengan penuh rasa khawatir dan tak tega.
"Mas turunin ya suhu AC nya?" tanyanya pada sang istri. Lili menggeleng menanggapi, "Maksud aku ini Mas, aku gerah karena daritadi dipeluk terus," ucap Lili sekali lagi seraya menunjuk tangan suaminya yang melingkari tubuhnya.
Atlas kemudian bangkit dari ranjang itu, melepaskan pelukannya pada sang istri sembari sesekali meminta maaf. Lili terkekeh setiap kali suaminya mengucap maaf.
"Kalau kaya gini boleh?" tanya Atlas lagi merujuk pada jemarinya yang sekarang menggenggam sang istri. Senyuman seperti biasa tak luput dari wajah tampannya.
Lili menoleh, ikut tersenyum dan berkata, "Peluk pun boleh kok Mas, gak ada yang larang suamiku ini. Aku cuma gerah aja karena sejak kita masuk ruangan ini kamu peluk aku terus," jelas Lili seraya mengusap pipi sang suami.
"Iya, maaf ya sayang," tutur Atlas diiringi gurat bersalah. Persis seperti anak kecil yang sehabis diomeli orang tuanya. Lili jadi tertawa dibuatnya.
"Gak mau ah." ujar wanita itu dengan enteng. "Loh? Sayang kok marah?" tanya Atlas langsung berdiri dari duduknya. Sudah ketakutan istrinya merajuk dengannya hanya dengan mendengar perkataan Lili tadi.
"Sayang, aku cuma khawatir makanya daritadi aku peluk-" Lili tertawa lagi sehingga membuat perkataan suaminya berhenti.
"Padahal aku cuma bercanda loh Mas. Aku bingung kenapa Mas minta maaf, Mas gak ada buat salah kok." ucap Lili sekali lagi.
Sejak keduanya masuk di ruangan ini. Lili tahu betul bahwa suaminya menyimpan khawatir. Sesekali dari ujung matanya Lili melihat suaminya tak fokus dan sesekali merapalkan doa sembari memegang perut Lili.
Bukannya Lili tak takut dengan persalinan sih. Tapi sejak ia hamil hingga ada di ranjang rumah sakit hari ini, Lili merasa Atlas selalu memudahkan langkahnya. Bahkan hanya dengan hal - hal yang dilakukan suaminya itu Lili merasa tak perlu takut apapun lagi.
Karena Atlas selalu membersamainya.
Membersamai mereka. Lili dan anak - anak mereka.
Lili meringis, merasakan sensasi sakit sekaligus perih yang menjalar dari perut hingga kepunggungnya. Kontraksi. Lili sudah merasakan itu sejak mereka sampai di rumah sakit.
Melihat istrinya, Atlas langsung bangkit dari duduknya. Satu tangannya masih menggenggam Lili dan tangan lainnya memberi pijatan tipis di pinggang wanita itu. Ah, entahlah, setidaknya hanya itu yang Atlas tahu saat mereka mengikuti kelas persiapan persalinan beberapa bulan lalu.
"Atur nafasnya ya sayang," intruksinya setelah mengecup kening istrinya penuh sayang. Pandangan keduanya tak pernah terputus, seakan proses ini memang dijalankan bersama - sama.
Lili menghela nafasnya. Sekali lagi mengatur nafasnya setelah beberapa saat gelombang kontraksi itu mereda. Lantas ia membuka matanya, bersambut pandang dengan manik suaminya yang menatapnya seperti ingin menangis. Lili tersenyum.
"All good?" tanya Atlas saat melihat senyum istrinya. Lili mengangguk. Entahlah harus dideskripsikan seperti apa. Tapi ia jelas tahu seberapa besar rasa khawatir suaminya.
Atlas mengecup keningnya lagi. Sesekali mengusap surainya sembari memandangi wajah Lili. "You will make me blush if you look at me like that," ucap Lili pada suaminya. Atlas tertawa dibuatnya, kemudian mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir ranum istrinya.
"I'm so sorry for-"
"Iya, iya. Aku udah tahu Mas mau bilang apa." potong Lili seraya memejamkan matanya saat ia merasakan sensasi sakit yang sepertinya akan tiba sebentar lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Man
RomansaWARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma pernah pacaran saat kamu SMA." gumam Lili seraya menatap pria tampan didepannya, Atlas. "Kenapa gak per...
