Chapter - 82

5.8K 199 27
                                        

Sejak mereka berpacaran dulu, Lili tahu betul kalau prianya itu sangat menyukai anak kecil. Ia tidak akan lupa bagaimana Atlas sudah menyiapkan nama untuk anaknya dimasa depan. Lili juga akan selalu ingat bagaimana pria itu memberitahunya bayangan soal keluarga di kepalanya.

Lili tahu. Ia selalu tahu. Ia tahu bahwa suaminya akan menjadi ayah terbaik. Because he doesn't just want a wife and a baby, but he also wants to be a father and husband. Dan Lili sudah melihat itu jauh sebelum ia menerima lamaran pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu.

Beberapa hari ini, Lili merasa ia lebih sering buang air kecil. Dan tanpa ia bisa pungkiri, hal itu juga terjadi di saat malam ketika ia ditengah aktivitas tidurnya. Contohnya seperti malam ini.

Lili terbangun dari tidurnya karena merasa kantung kemihnya harus dikosongkan. Tapi tak seperti malam - malam lainnya, hari ini wanita cantik itu tak menemukan keberadaan suaminya di sisinya. Menunda keinginannya untuk ke kamar mandi, tangannya secara refleks meraba sisi tempat tidur suaminya, dingin.

Kemana suaminya?

Karena tak tahan lagi, Lili akhirnya beranjak menuju kamar mandi. Ia menghela nafasnya lega begitu selesai dengan kegiatannya, dengan mata yang masih mengantuk wanita itu bertekad untuk mencari keberadaan suaminya.

Lili membuka pintu kamarnya, beranjak keluar ketika beberapa saat kemudian ia justru mendengar suara benda yang saling bertubrukan. Suaranya terdengar pelan, tapi dengan mengandalkan pendengarannya ia melangkah menuju kamar calon anak mereka.

Dengan satu tangan yang memeluk perutnya serta satu tangan lainnya yang menunjang pinggangnya, Lili berjalan perlahan. Sesekali mengucek kelopak matanya karena rasa mengantuk yang belum juga hilang. Matanya menangkap pintu ruangan itu dalam keadaan hampir sepenuhnya terbuka, dari pantulan lantai ia melihat cahaya dari kamar itu karena lampunya yang dinyalakan.

Dengan langkahnya yang hati - hati dan tak berisik, Lili melirik ke dalam kamar itu penasaran. Sebelum akhirnya apa yang dilihatnya membuat senyumnya tersungging diiringi hatinya yang menghangat.

Suaminya disana. Sedang duduk bersila di atas karpet berbulu yang terletak ditengah ruangan, dengan tangannya yang sibuk memegang selembar buku instruksi untuk merakit tempat tidur bayi dan tangan lainnya yang memegang beberapa potong kayu yang di cat putih, bagian dari benda yang sedang ia coba untuk rakit.

Lili mendongak ke arah sudut ruangan, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Lantas memilih untuk membuka pintu kamar bayi mereka lebih lebar sehingga membuat Atlas menoleh ke arahnya.

Wajah pria itu panik, namun raut khawatir lebih jelas terlihat mendominasi  wajahnya. "Sayang? Kenapa bangun?" tanya pria itu yang langsung bangkit dan menghampiri istrinya. Meraih pinggang wanitanya kemudian menuntunnya untuk berjalan.

Atlas dengan sigap langsung menyingkirkan beberapa bagian kayu yang berada di atas kursi menyusui berwarna putih gading, kemudian mengarahkan istrinya untuk duduk di kursi empuk itu.

Pekerjaannya ia tinggalkan begitu saja. Tak perduli lagi mana mur yang harus ia pasang dan sudah dihalaman berapa ia pada buku instruksi yang sumpah demi tuhan, tulisannya sekecil semut baginya.
Pria itu beranjak ke arah lemari, mengambil sebuah selimut yang cukup tebal bermotif bunga sebelum kemudian membentangkannya dan menyelimuti kaki istrinya.

Atlas kembali duduk tepat didepan istrinya, tanpa mempermasalahkan diri pria itu yang mungkin saja sebenarnya juga diselimuti dingin karena ia duduk di lantai. Tangan pria itu dengan lembut meraih satu tangan Lili, mengusapnya lembut dengan tatapannya yang mendongak dan melihat istrinya penuh kasih.

Senyuman seketika terbit di wajah Atlas, tanpa bisa ditahan, tangan kanannya terulur untuk mengusap puncak kepala istrinya, lantas bergerak dan mengusap surai wanitanya naik turun dengan lembut.

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang